MAJALAH
DARI
PERSATUAN ILMU BUMI
BERKEDUDUKAN DI AMSTERDAM
DIBAWAH REDAKSI DARI
Dr. C. M. K A N
DAN
N.W. P O S T H U M U S
SEKRETARIS PERSATUAN
BAGIAN KELIMA
AMSTERDAM UTRECHT
C.L. B R I N K M A N J.L. B E I J E R S
1881
MAJALAH
DARI
PERSATUAN ILMU BUMI KERAJAAN BELANDA
DIBAWAH REDAKSI DARI :
Dr. A.A. BEEKMAN, J.C. VAN EERDE, Dr. G.A.F. MOLENGRAAF
S.P. L’HONORE NABER, Dr. K. OESTREICH dan J.W. IJZERMA
SERI KEDUA
BAGIAN XXXIV (1917)
PULAU SIMALOER
Etymologi dari nama-nama geografis serta beberapa catatan berkenaan dengan Peta Ikhtisar dari Aceh
dan Daerah bawahannya,
Skala 1:200.000, Susunan Topografi
Batavia 1913.
Selama bermukimnya saya selama tujuh bulan (24 Januari – 24 Agustus 1913) di Simaloer serta pulau-pulau disekelilingnya, dengan maksud mengumpulkan bahan sosiologi dan etnografi, saya hanya berkesempatan sambil lalu untuk mengumpulkan keterangan tentang bahasa daerah Tapah; tetapi kemudian saya mendapat kesempatan untuk belajar lebih jauh bahasa tersebut, karena saya mendatangkan dua orang pribumi Simaloer ke Fort de Kock (Dataran tinggi Padang), dimana selama dua bulan saya mencatat sebanyak mungkin yang diberitahukan oleh kedua orang tersebut tentang pulaunya dan dialek Tapah.
Hasil dari penelitian ini akan diterbitkan dikemudian hari; disini saya hanya ingin memberikan etimologi dari beberapa nama dengan beberapa tradisi berkaitan dengan itu.
Menerangkan nama-nama tempat merupakan bidang yang subur untuk daerah yang kaya khayalan dan asal usulnya sering dicari-cari dan pasti tidak benar, suatu masalah yang biasanya menjadi kesalahan etimologi rakyat.
Dengan bahasa yang tidak dikenal oleh orang-orang Barat adalah sangat sulit untuk memahami bunyi-bunyian yang benar dari nama-nama geografi, karena keterkaitannya dengan kata-kata lain dari bahasa lisan sering tidak ada. Mungkin ini adalah penyebabnya, bahwa penyusun dari peta ikhtisar dari pulau ini membuat kesalahan dengan ejaan nama-nama. Dimana ejaan di peta topografi yang saya ikuti menyimpang, maka saya tambahkan dengan tanda-tanda.
Huruf-huruf T.K. untuk nama-nama tempat menandakan ejaan, yang digunakan pada peta tersebut ini. Dimana tidak terdapat keterangan etimologi, maka ini tidak dikenal oleh informan saya.
Sungai, teluk, lekukan, gunung dan tanjung di Simaloe sering tidak memiliki nama tersendiri, akan tetapi nama diambil dari kampung atau dusun didekatnya, dengan keterangan tambahan
Loean untuk sungai,
Ta dan loegoe untuk teluk.
Oeloel untuk lekukan,
Delok untuk gunung atau bukit,
Mata untuk tanjung
1) Hal XIII dan XIV dari Peta daerah Aceh dan bawahannya skala 1.200.000,- Lembaga Topografi, Batavia 1913. Akan tetapi kedua halaman yang disebut belakangan dicetak sesudahnya.
Di daerah dimana banyak orang Melayu tinggal, ump. Di pantai timur, maka teluk-teluk disebut dengan telo dan tanjung dengan oedjoeng. Di peta hampir semua tanjung ditandai dengan oedjoeng, mungkin karena sebagian besar keterangan diperoleh dari orang-orang Melayu (dari Suku Dagang), jadi bukan dari sumber Simaloer murni. Karena arti ‘mata’ luput dari perhatian penyusun peta dan mungkin dia mengira ini adalah bagian dari nama sendiri, maka di peta banyak tanjung dinamakan oedjoeng mata; ini tentu suatu kekeliruan.
Kata “lo” berasal dari kata Melayu “telo”, di peta dieja “lho”, sedangkan “delok’ dengan “delo’ 1).
Demi kemudahan maka sungai, teluk, teluk kecil, gunung dan tanjung hanya disebutkan apabila mereka memiliki nama sendiri, jadi menyimpang dari kampung yang terletak didekatnya.
Nama-nama, yang tidak disebutkan di peta topografi, diberikan tanda +.
Pada peta ikhtisar, yang berkaitan dengan Simaloer, tidak digunakan ejaan Snouck, yang memberikan nama resmi Simeuloee. Saya dapat setuju saja, bahwa pulau ini dinamakan seperti itu di Aceh, akan tetapi yang harus digunakan adalah ejaan Simaloer dan bukan dari Aceh, dan itu Simoloel dan Simaloer. Nama Simoloel atau Simaloer untuk seluruh pulaunya tidak digunakan oleh penghuninya. Mereka menyebutkan oelaoe, Pulau dan menamakan diri mereka ala oelaoe, orang-orang pulau. Simoloel adalah nama dari salah satu kerajaan kecil di jaman dahulu, sekarang suatu daerah dengan nama yang sama, yang terletak di bagian tengah dari pulau. Tentang asal-usulnya ada legenda yang terkenal. Pada zaman orang-orang bajak laut Aceh dan Melayu merampok secara besar-besaran penduduk pulau yang masih kafir dan membawa mereka sebagai budak ke Aceh, termasuk satu wanita Simaloe, bernama Si Meloe dijual kesana. Seorang yang bernama Chaliloellah menjadikan dia istrinya dan sebagai tindakan untuk menyenangi Tuhan dia berangkat ke tanah kelahiran istrinya untuk mengislamkan penduduk disana. Tempat tinggal mereka diberi nama sama dengan wanita Simeloe, yang selanjutnya berkembang menjadi Simoloel.
Berkaitan dengan ejaan resmi dari Simeuloee, yang antara lain terdapat dalam buku pelajaran dan di peta-peta yang digunakan di pendidikan di Hindia-Belanda, saya ingin mengisahkan apa yang dialami oleh salah satu tamu Simaloe saya di Fort de Kock. Untuk memberi kesan tentang apa yang dilakukan oleh pihak pemerintah untuk memajukan pribumi, saya membawanya ke salah satu sekolah pribumi. Pada saat pelajaran ilmu bumi, yang kami ikuti, maka guru, untuk menghormati tamu, diambil pelajaran tentang pantai Barat Sumatera. Pada peta buta, guru menunjuk pulau yang paling utara dari Sumatera, yang oleh salah satu murid disebut sebagai Simeuloee. Orang Simaloer kita tidak menunjukkan emosi apa-apa pada saat nama tanah kelahirannya disebut, sehingga guru kepala menanyakan kepadanya : “Anda kan datang dari Simeuloee?” “Tidak”, jawab orang Simaloer itu dengan heran, : “saya berasal dari Tapah”.
Kedua tamu saya berasal dari Pantai Barat Simaloer dari daerah Tapah. Sayang sekali pengetahuan topografi mereka tidak melewati batas daerah mereka, sehingga saya tidak mampu memeriksa ejaan yang tepat dari nama-nama tempat di daerah-daerah lain seperti Simoloel, Salang, Sigoele dan Lekon. Bagian tenggara dari apa yang sekarang dinamakan Tapah dahulu bernama Devajan (T.K. Defajan), nama yang lama ini kadang-kadang masih digunakan untuk seluruh daerah. Nama baru Tapah mungkin diberikan kepada daerah ini oleh salah satu Datoe Kepala sebelumnya, yang tinggal di Oelaoe Tapah pada waktu itu.
Datoe Kepala ini dari Tepah, yang menamakan dirinya radja, adalah turunan dari seorang bajak laut Minangkabau Datoe Gemoe. Oleh sebab itu maka hubungan dengan Dataran Tinggi Padang masih tetap hidup. Tidak hanya kebiasaan dan adat, tetapi juga bahasanya banyak memiliki unsur-unsur Minangkabau, tercampur dengan Nias, Aceh dan sisa-sisa dari bahasa polinesiaa unsur-unsur ini ditemukan kembali dalam nama-nama geografi.
Kita mulai dengan membahas tanjung paling timur dari pulau, maka nama-nama sepanjang Pantai Barat dan selanjutnya sepanjang Pantai Timur. Sama, sesuai dengan yang dilakukan di Sumatera oleh orang-orang Eropa, akan disebutkan pantai barat daya: Pantai Barat dan timur laut dinamakan Pantai Timur.
Tanjung sebelah timur dari pulau ini bernama Mata-n-Keli; mata berarti tanjung dan Keli sejenis burung, Calornis chalybea Horst. (T.K. Oedjoeng Matan Keli, penyusun mengira bahwa hubungan disini merupakan bagian dari kata).
Bal’la Setas; bal’la == pantai berpasir, setas == tinggi. T.K. memberikan terjemahan Melayu Pasir Tinggi.
Mata-n-Alatat ; alatat == sejenis pohon, Sonneratia acida, L.f.
Latioeng; berasal dari tioeng == beo, Mainnatus javannesis Osb.
Soea Alaboel; soea == suatu teluk kecil dengan air tidak bergerak, alaboel == sejenis ikan.
Soea Oerang, (T.K. Soea – Orang); oerang == udang.
Mata-n-Ateba = tanjung sebelah barat Soea = Oerang; ateba == tanaman lili dengan bunga putih, Crinum spec. Lebih kearah barat terletak:
Oeloel Majang +; oeloel == teluk kecil; majang : burung buas, Heliastur intermedius Gurn.
Batoe Ralang + adalah pantai batu karang datar sebelah barat dari Oeloel Makang; ralang = datar,
Mata-n-Toeva (T.K. Oedjoeng Toefah); toeva == semak dengan buah, yang digunakan sebagai racun ikan (bandingkan Melayu Tuba).
Loean Goeha +, terdapat gua,
Goeha Toeva + dalam pegungungan baru karang ;
Lo Devajan (T.K. Lho Defajan); lo = teluk, anak sungai darinya adalah Loean Aloes Aloes +, Disampingnya terletak kampung Aloes-Aloes yang telah lama hilang, penghunian tertua di Devajan.
Soea Lamatan; lamatan = sejenis ikan air tawar.
Mata-n-Koebangan; berarti kubangan kerbau tetapi juga jenis pohon, Ficus annulata Bl. Disebelah barat darinya terletak.
Oeloel Asin +; asin = laut, ombak.
Tanjung berikutnya bernama :
Mata-n-Seroe Oengkoel +
Mata-n Kachat, juga ditulis sebagai Kakat, di T.K. Selanjutnya :
Mata-n-Na boeloe’en
Loegoe ama Selatoe (T.K. Loegoe Amaselatoe); loegoe = teluk, ama Selatoe == ayah dari Selatoe.
Di Simaloer orang tua menyebut diri mereka sendiri, mengikuti kebiasaan Polynesia yang terkenal, dengan nama anak tertua dengan menambahkan ama == ayah atau ina == ibu, Karena orang-orang simaloer tinggal tersebar dan satu penghunian kadang-kadang hanya terdiri dari satu rumah, maka banyak tempat-tempat kecil diberi nama dari orang yang pertama tinggal disitu.
Disebelah Timur dari teluk terletak
Delek Bara’si +; bara’si – jambu biji, Psidium guajava L.
Di bagian Timur dari teluk ada dua bagian pantai yang diberi nama :
Bal’la Sachoepang + dan
Boesoeng +, dan berkaitan dengan legenda. Hikayat ini bahwa sepotong dari pulau Nias, bernama Daoe Batoe, terlepas dan bersama penghuninya mengapung ke Simaloer. Yang terakhir ini masih terdiri dari dua pulau tersendiri, Pertama-tama orang-orang Nias mendarat di teluk Loegoe Ama Selatoe. Untuk meneliti apakah tempatnya cocok untuk ditinggali, maka orang-orang Nias mengambil sepotong dari pulau mengapung mereka dan menimbang sebanyak berat satu koepang, mata uang kuno. Setelah itu mereka menimbang sepotong dari pantai dimana mereka mendarat, juga seberat koepang. Kedua tumpukan kecil tanah diletakkan di masing-masing piring timbangan dan meskipun kedua-duanya sama beratnya dengan koepang, kedua piring timbangan tidak sama imbangannya. Tanah yang asing itu lebih ringan, dan perbedaannya adalah berat boesoek, atau mata uang kecil Ini dianggap sebagai bertanda yang tidak baik dan karena itu Daoe Batoe dibiarkan mengapung melanjutkan perjalanan. Pada saat tiba antara dua pulau, yang pada waktu itu merupakan Simaloer, uji coba yang sama dilakukan dengan menimbang tanah, tetapi sekarang ternyata bahwa kedua piring timbangan saling mengimbangi. Pulau yang mengapung di ikat antara kedua pulau yang ada dan mereka menetap disitu. Pada saat penduduk berkembang mereka mendapat tanah-tanah baru dari raja dari salah satu pulau yang lain; oleh karena itu daerah tersebut masih bernama Salang, menurut kata Melayu salang, yang berarti meminjam. Bahasa daerah Salang dan Sigoele, yang didirikan oleh penduduk Salang mengandung banyak unsur Nias, suatu bukti bahwa di jaman dahulu orang-orang dari suku ini telah menetap disitu, meskipun dalam kenyataan mereka tidak datang atas pulau yang mengapung. Pantai sepanjang teluk Ama Selatoe, dimana mereka mendarat, diberi nama koepang dan soek Bal’la Sachoepang dan Boesoek, nama terakhir ini dirubah menjadi Boesoeng. Bal’la == pantai berpasir. Sa choepang== satu koepang (ch dan k bergantian dalam bahasa Simaloer) 1).
Di timur laut dari Boesoeng terletak
Delek Boera +; boera == sumber air, dari mana air mengalir melalui bambu, hampir sama dengan pancuran dalam bahasa Melayu . Setelah
Mata-n-Ochas berikut adalah
Mata-n-Oeroeng (T.K. Oedjoeng Mata Noeroeng); oeroeng adalah sama dengan ujung, atau tanjung. Terdapat dua batu karang yang menjorok ke laut, yaitu
Batoe Sidoevo+; doevo == dua (di peta laut, yang juga sering menyebut nama-nama di Simaloer se-enaknya saja, titik ini dinamakan Tanjung Baroe Sidoefo);
Lasiching atau juga dinamakan Lasekin (T.K. Lassihing).
Lanting (T.K. Lanteng) diberi nama pendiri yang merupakan nenek dari salah satu penduduk yang masih hidup. Berdekatan dengan
Delok Antengan, antengan == terletak diantaranya.
Lavena (T.K. Lacoea),
Simpang Aba’il+; simpang, aba’il dari ba’ilen == melukai, karena di zaman dulu terjadi pertempuran dengan bajak laut Aceh, dalam mana banyak penduduk terluka.
Lamajang, dari kata Aceh majang, yang artinya tinggi.
Nantjawa.
Oi Simoetoes (T.K. Air Simoetoes), oi (sama dengan dil) == air, simoetoes dari poetoes == patah, karena aliran sungai disana terputus oleh rawa-rawa.
Soea soea (T.K. Soea ‘soea’) nama seseorang.
Dipinggir cabang dari sungai Loean Soea Soea terletak
Leboel + dan
Siaoena+. Berdekatan terletak
Delok Laheupeung.
Sebelah barat dari sungai Soea Soea
Loean Batoe Batoe + mengalir ke laut; dimana terletak dusun dengan nama yang sama. Sungei tersebut telah membuat jalur dengan batu-batu pasir besar, sehingga namanya berasal dari situ.
Ama Olang (t.K. Amaulang), diambil nama dari ayah Olang.
Ditepi sungai kecil di pantai selanjutnya terdapat
Sital +, nama dari orang halus (setan) yang dulu
tinggal disitu,
Lebang; lebang == lubang, selanjutnya sumur untuk mandi (bandingkan dengan Melayu lubang). Menurut keterangan lain nama tersebut berasal dari lebang == paku, karena pengolah tanah yang awal memaku paku di pohon sebagai tanda pemilikan.
Seneboe (T.K. seneboe); seneboe dari leboe == membuka hutan.
Dekat pantai terletak dua dusun kecil
Ama Latoe+, menurut nama ayah dari latoe, dan
Oil Sebel+, sebel == besar. Kampung
Sitobo (T.K. Sitobo) nama seseorang, tidak terletak di pinggir Loean Lebang, sebagaimana digambarkan pada T.K., tetapi kearah barat darinya di pinggir pantai.
Lanti (T.K. Lanti)
Awil Sito (T.K. Awil Sito)’ awil == kait ikan, sito == kecil. Nama sebelumnya adalah Awil saja. Dekat pantai menjulang batu-batu pasir abu-abu yang menjorok kelaut dan diberi nama
Mata-n-Boelvoel+ membawa , boelvoel == batu pasir lunak.
Saloel dibagi dalam kompleks kampung Saloel-Ili dan Saloel Moedik; ili dari ilir = hilir, moedik – hulu. Masih sering digunakan nama-nama yang lama Oeloe-n-Saloel dan Ai-n-Saloele; oeloe == kepala, disini hulu, ai == hilir.
Termasuk dalam Saloel-Ili adalah:
Delok Boelawan +, juga dinamakan Delok Koto; boelawan == emas, koto == tempat yang diperkuat.
Lavaloe+ dari baloe == Hibiscus tiliaceus, L. (v dan b bertukar dalam bahasa Simaloer).
Oeloe-n-Tinava +; tinava = sawah basah.
Avorasan +, dari boras – padi yang ditanam (Mel. Beras)
Koeboe +, dari koeboe == sejenis kumbuh, Scirpus mucronatus (Mel. Koemboeh)
Tiveung +
Termasuk Saloel-moedil adalah :
Sitoelan +;
Latoen +;
Achochae +, dulu disitu tinggal setan, yaitu some yang suka mencuri anak. Pada suatu ketika dia mencuri anak pada saat ibunya sedang menumbuk beras; akan tetapi ibunya berhasil merebutnya kembali. Kejadian ini, dimana terjadi tarik-menarik dari anak itu (mansichoehao), menjadi nama tempat tersebut.
Aningkan +, dari ingkan == piring, karena penduduk memiliki banyak piring Cina yang besar dan indah, yang di
Simaloer sangat dihargai sebagai harta turun-temurun.
Soea +, soea == teluk kecil.
Di muara Loean Saloel di tepi kiri sungai terdapat
Djirat Nene-Bekoedo Batoe, kuburan dari Nene = Bekoedo Batoe, yang menurut hikayat rakyat Simaloer berperan besar. Kuburannya adalah salah satu tempat ziarah yang paling terkenal di Simaloer Timur.
Mata-n-Lasingaloe, diberi nama dari Lasingaloe, yang berbadan raksasa dan berbagai hikayat terdapat mengenai dirinya.
Nensala atau juga disebut Nintjala sebagaimana dinamakan di T.K.
Ma’odil (T.K. Maudil); odil – Curcuma linga L. Sebelah utara darinya terdapat Delok Lada +, dari lada, Piper nigrum L.
Batoe Sevel, sevel = sebel == besar.
Seroe Vatang +, seroe == seru, vatang == batang == batang pohon mati.
La’oi (T.K. Lho). La’oi == lantai dari papan, bamboo belah atau tangkai niboen.
Inor + di pinggir Loean Inor (T.K. Inoer).
Ina Ivos (T.K. Naivos) nama ibu dari Ivos.
Sebelah barat pada tanjung yang menjorok kelaut
La’ajon + dan didekatnya
Mata-n-Belawa; belawa – jenis pohon.
Batoe Roendoeng (T.K. Oedjoeng Batoe Roendoeng) merupakan batu karang yang menjorok ke laut, dengan kampung dengan nama yang sama didekatnya; roendoeng == doendoeng == tutup kepala, karena bentuk karangnya bundar seperti topi.
Angkeoew (T.K. Angkew); angkeoew == suatu tanaman berdaun merah gelap, yang digunakan sebagai obat. Di teluk Angkeoew terletak
Seuri + dedekat punggung bukit.
Kaueh Delok +, kareuh == kaki, Sebelah barat dari
Boenon terletak kampung
Oil Tangki +, tangki = bunga anggrek, yang daunnya yang harum, setelah dikeringkan, dipakai oleh wanita di rambut mereka. Didekatnya terletak tanjung
Batoe Tangkalang; tangkalang == bantal.
Silengas juga bernama Silengai, ditulis sama di T.K.’ akhiran as berganti dengan ai.
Bonio Mata (T.K. Bonioh mata) : bonio adalah nama Nias untuk kelapa
Deken Deken +; deken deken == pohon berduri besar, dinamakan begitu karena banyak persamaannya dengan reken, peralatan yang digunakan untuk memarut halus sagu.
Dihit; tempat ini tidak bernama Isoen Dehit,
sebagaimana muncul di T.K.; dihit == sejenis burung es, Haleyon chloris Bod.
Loean Tebela + tebela == timah
Loean Sital.
Loean Lamalil sungai ini menurut keterangan umum merupakan batas antara kerajaan-kerajaan kecil Tapah dan Simoloel di masa lalu, tetapi oleh pemerintahan Eropa perbatasan dari kedua daerah ini dengan nama tersebut, ditarik sepanjang Loean Dihit.
Antara Loean Sital dan Loean Lamali terdapat tanjung
Mata-n-Tete (T.K. Loean Laha Loit) ; lachalos berasal dari chelis,
yang berarti mencabut, diremas, disebabkan banyaknya korban buaya di sungai ini dimana tangan dan lengan ditarik dari badan, suatu kesimpulan yang sangat menjauh.
Iaboer Voeloe (T.K. Jaboer Foeloe); iaboer == pondol, atap-atapan; voloe == boeloe == bambu.
Kampung lama
Bangkal + disebelah Barat dari muara Loean Lachalos yang pada tahun 1907 sama sekali telah dihapus oleh ombak pasang; sekarang ada rumah lagi; bangkal == punggung yang rendah, dikelilingi rawa-rawa.
Lauche dengan tanjung dengan nama yang sama,
merupakan batas dari daerah pantai Barat yang dikenal
oleh sumber bahasa saya. Hanya beberapa nama mereka ketahui dari daerah Simoloel, seperti :
Laoereueu +
Oil angkeem +; angkoem == gong, juga ikan gurita, Nautilus pompilius L. Mereka lebih mengenal pulau-pulau di bagian Selatan Simoloel;
Oelaoe Simoloel; oelaoe – pulau;
Tanjung-tanjung dari pulau itu bernama
Mata-n=Tabalaoe; tabalaoe == sejenis pohon
Tanjung paling utara bernama
Mata-n-Lentjoer+
Mata-n=Langkir; langkir == kerikil, batu-batu kecil.
Diantara Mata-n-Tabalaoe dan Mata-n-Lentjoer terbentang teluk
Lo Lanteng +; dinamakan sama dengan Suku Lanteng, nenek moyang mereka menetap disini. Suku Lanteng yang berasal dari Bugis, mengambil namanya dari perahu bugis atau prauw lanteng, yang digunakan nenek moyang mereka untuk datang kesini.
Di tepi Lo Lanteng terletak satu kampung yang banyak dikunjungi, dan dimana juga tinggal beberapa orang Cina. Kampung ini tidak mempunyai nama khusus, tetapi seberang Simoloel kampung ini dikenal sebagai Oelaoe, pulau, untuk menunjukkan adanya tempat itu.
Belokkan kearah Barat dari Mata-n-Lentjoer bernama:
Sawang Boeloe +.
Di Selatan Tapah masih ada beberapa pulau-pulau kecil, yang terbesar bernama:
Oelaoe Tepah. Menurut hikayat legenda seorang yang bernama Panda sedang bertapa disana dan dalam mimpi dia mendapat petunjuk untuk mengislamkan semua anggota sukunya, meskipun dia sendiri masih seorang kafir. Ini adalah orang yang sama, yang setelah wafatnya dinamakan Nene Bekoedo Batoe (lihat Saloel).
Tanjung-tanjung dari Tepah adalah :
1. Mata-n-Bano +; bano==daratan.
2. Mata-n-Delas +;
3. Mata-n-Lavawa +;
4. Mata-n-Tinga ;
5. Oeieel Eumi +;
6. Oeloel Lade+;
7. Oeloel Aiaoe +; alaoe = penumbuk beras
8. Oeloel Seveu+;
9. Oeloel Develi +;
- Taloe Pangkoe +; pangkoe == pankur == pacul;
- 11. Oeloel Tenga +;
Disebelah Barat terletak
Oeloe Mintjaoe yang lebih kecil. Tanjung di titik
barat daya bernama
Batoe Choda + dan di titip barat laut bernama
Batoe Chi +; dengan diantaranya teluk kecil
Oeloel Mintjaoe +. Jalur pelayaran antara Mintjaoe dan Tepah dinamakan Babang +, yang berarti jalur laut.
Antara Oeloe Tepah dan mata-n-Ochas di Tapah terletak dua batu karang buta dengan ombak besar.
Yang paling utara bernama
Amili + dan yang paling selatan
Sentareoe+.
Antara Oeleoe Tepah dan mata-n=Lasingaloe di Tapah terletak satu pulau yang sangat kecil.
Oelaoe Sevela (T.K. Oelau Sevela) ; sevela == lebar.
Dari titik tolak kita yaitu Mata-n-Keli melalui pantai utara kita mendapatkan:
Oeloel Sawa +’ sawa == ular, Python retuculatus Gray.
Latel +; latil == akar udara dari acti, salah satu jenis pohon rawa.
Lo Lachapang (T.K. Lho = Lahapang); lacjapang == jenis pohon, Terminalia catappa L. (Mel. Ketapang).
Kintjoeng+, kincung == tanaman dari keluarga Zingiberaccae, bunganya dimakan sebagai sayur.
Simpang +, berarti jalan samping.
Laboean Badjaoe; laboean (Mel,)= pelabuhan
Oedjoeng silingar, dari langar, sejenis binatang, Numenius phaeopus L., Oeloel Val-;a, val’la == bal’la == pantai berpasir.
Pulau kecil yang sekarang bernama
Oelaoe batoe Bela’ir (T.K. Oelau batoe Belahir) sesuai batu karang yang terletak di bagian timur di laut, yaitu Batoe Bela’ir. Dinamakan begitu karena batu ini sangat mirip dengan kapal layar (Mel. Belajar). Menurut hikayat, seorang pedagang yang menjadi kaya dan berlayar pula ke Simaloer tanah kelahirannya, tidak mengakui serta menghina ibunya yang miskin sewaktu ibunya meminta bantuannya. Dia kemudian mengutuk anaknya, sehingga kapal karam dan berubah menjadi batu, sedangkan jiwa yang terkutuk masih berkeliaran di tempat itu.
Di pulau itu sendiri tanjung yang paling selatan bernama
Oedjoeng Lo Pari (T.K. Oedjoeng Lho – Pare); ikan pari.
Teluk kecil sebelah barat darinya bernama
Laboean Sino+ ; sino = Cina
Pulau kecil di titik barat laut adalah :
Oelaoe Sibeda +; sibeda == jenis pohon.
Pulau kecil disebelah utara bernama:
Oelaoe Seebang (T.K. Oelau Sebang); soebang ==
giwang besar dari logam.
Selat antara Tapah dan Oeleoe Batoe Bela’ir bernama
Aroe atau Panaroesan+ ; Mel. Haroes = selat. Jalan masuk selat di timur adalah
Oeloel Oemang+; oemang == kepiting, Pagurus spec.
Di selat di Tapah terdapat kampung
Annoe (T.K. anau); amaoe (Mel.) == cemara, Casuarina equiseti felia L
Taloe Limaoe; limaoe == jeruk nipis,
Toeaving; toeving == pecahan panci besi.
Lataling.
Siron +, kampung antara Lataling dan
Bangkala (T.K.kala); bangkala == semangka, citrullus vulgarus Schrad.
Silasi +; sebelah barat daya dari bangkala; ivan silasi adalah jenis sirih bermutu rendah.
Koeta Batoe (T.K. Batoe)
Loegoe Sinavang (T.K. Teluk Sinabang)
Dalam teluk ini terletak ibu kota
Sinavang, oleh orang asing disebut Sinabang. Diluar itu
Ai Dingin (T.K. Air Dingin)
Loegoe, yang berarti teluk. Kearah daratan di jalan menuju Lasiching masi ada :
Saca Boeloe
Dalam teluk Sinabang terdapat tanjung-tanjung:
Oedjoeng Labana +; labana == tanaman merambat
Oedjoeng Ama Paloeng +
Oedjoeng Araban+; araban== perangkap merpati
Oedjoeng Koebangan+
Oedjoeng Setas +; setas == tinggi
Oedjoeng Siaroen+
Oedjoeng Babang +’
Oedjoeng Rabang+,
Oedjoeng Ama Iting +,
Oedjoeng Ama Rampago e +
Sebelah barat dari Oedjoeng Ama Paloe terletak lekukan :
Soea Boentoeng +; boentoeng == tidak ada buntut, buntu
Pulau-pulau dalam teluk ini bernama
Oelaoe Pandjang +
Oelaoe Simanda+
Oelaoe Mara Alam +
Oelaoe Betari+
Oelaoe Boengoe +
Oelaoe Naroe +
Oelaoe Sima +
Oelaoe Cheo+
Nara sumber saya tidak memiliki pengetahuan lebih
jauh dari Teluk Sinabang. Di kartu topografi tidak terdapat jalan setapak, yang dibangun oleh perusahaan penebangan kayu yang berkedudukan di Sinabang dan yang melewati batas air utama sampai dengan Telo Dalam (T.K. Lho – Dalam).
Bandoeng, Januari 1816 Edw. Jacobson.
Nilai dari bunyi-bunyian dan tanda-tanda pembeda.
e tanpa tekanan seperti dalam kata Belanda “laden”.
e sama dengan e Perancis
i sama dalam kata Belanda “pit”
o dalam bahasa Jawa
eu sama dengan eu dalam bahasa Belanda, tetapi dengan suara di kerongkongan
aoe hampir sama dengan kata Belanda “au”, akan tetapi a dan oe dibeda-bedakan, tetapi tidak merupakan dua suku kata.
* hamzah
ch diucapkan seperti h
Huruf-huruf lain seperti dalam bahasa Belanda.
Pemberian tanda petik menandakan bahwa terdapat kekosongan antara dua huruf.
Tekanan suara dalam bahasa simaloer selalu jatuh pada suku kata terakhir.
——————————
PENGUKURAN HIDOGRAFI DARI HINDIA BELANDA
DAN PEMETAAN YANG SEDANG BERJALAN
Karangan “Pemetaan yang sedang berjalan” dari C., di hal. 100 dari terbitan sebelumnya, mulai dengan menyimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan pendapat lagi tentang baiknya untuk meningkatkan jumlah pengukuran di Hindia-Belanda; dengan L.H. N. dan L. dia berada dalam lingkungan yang baik dari Menteri Angkatan Laut dan Daerah Penjajahan.
Yang pertama menulis dalam nota jawaban atas anggaran belanja:
“Yang bertanda tangan dibawah ini berpendapat bahwa bidang tugas ini harus dikembangkan lebih luas agar dapat mengejar ketinggalan dan dalam waktu dekat dapat menghasilkan kartu-kartu laut lengkap yang dapat digunakan dengan aman diseluruh kepulauan. Karena pengaturan dari bagian yang penting ini, sepenuhnya terletak pada pemerintahan Hindia-Belanda, maka perlu dilakukan pembahasan dengan Menteri Daerah Penjajahan untuk mendapatkan bahan dan tenaga kerja yang diperlukan untuk itu.
1) Para tuan-tuan mengijinkan saya, dengan mengutip tulisan-tulisan mereka hanya menyebutkan huruf-huruf pertama nama mereka.
Dan kedua:
“Pada permohonan keuangan untuk membangun kapal pemetaan baru dimasukkan dalam anggaran belanja Hindia-Belanda tahun 1914, maka yang bertanda tangan telah mengemukakan pendapatnya, bahwa perkembangan terus-menerus dari pelayaran dalam Kepulauan ini maka adalah sangat perlu untuk melanjutkan pekerjaan hidrografi.
Disebabkan keadaan waktu, maka pembangunan dari kapal ini, yang seharusnya diselesaikan dalam tahun 1915, sangat terlambat, sehingga belum bisa digunakan…………
Kelambatan yang lebih besar telah dialami oleh pekerjaan hidrografi dikarenakan tindakan-tindakan yang seharusnya diambil berkenaan dengan mempertahankan kenetralan ………..
Ketinggalan yang penting, yang oleh karena itu terjadi dalam pekerjaan pemetaan, tidak dapat dikejar lagi dengan penambahan pegawai atau bahan dan peralatan..
Sementara beliau akan mengadakan pembahasan dengan Menteri Kelautan dan pemerintah Hindia-Belanda mengenai tindakan-tindakan, yang diperlukan untuk dapat meneruskan pekerjaan pemetaan dengan segera”.
Juga dalam hubungan dengan kontrak, yang telah dilaksanakan baru-baru ini oleh inspektur M.O. dengan empat sekolah pelayaran, untuk mendidik pemuda-pemuda atas biaya departemen daerah Kolonie sebagai juru-mudi untuk Dinas Angkatan Laut, maka boleh diandalkan bahwa masalah ini akan ditangani dengan memberikan hasil,
segera setelah semua kembali ke keadaan yang normal.
Selanjutnya, menurut C. “pasti ada alasan (-alasan) untuk mencari cara kerja yang lain”, seperti yang dicatat oleh L.H.N. di hal, 454 dari terbitan tahun sebelumnya, dimana dia memuji pemetaan yang sedang berjalan dan mengatakan (hal. 101) bahwa apa yang ditulis oleh L. tentang hal itu “tidak lebih lain dari suatu percobaan meyakinkan, bahwa suatu rumah yang baik adalah lebih baik daripada tenda”.
Pendapat ini tidak benar.
L beranggapan, seperti juga D.H.N., pemetaan yang sedang berjalan sebagai suatu tugas yang diberikan kepada kapal-kapal pemetaan, dan mengatakan (hal. 753) “ Menugas mereka (kapal pemetaan) untuk mengumpulkan lebih banyak pengetahuan permukaan, bukan hal yang ekonomis, karena dengan cara ini ada kemungkinan bahwa pekerjaan mereka akan segera menjadi kadaluwarsa (tidak lengkap dan tidak tepat mungkin lebih baik) sebagai akibat dari tuntutan yang meningkat, sehingga permintaan untuk pemetaan yang lebih baik menurut tata cara intensif diperlukan. Dan
apabila ini harus dilakukan, maka pekerjaan yang harus
dilakukan adalah lebih besar, seandainya telah dilakukan
pekerjaan yang meyakinan.
Ini telah tejadi lebih dari satu kali sebelumnya.
Peta dari kepulauan Aroe, dibuat pada tahun 1888 menurut pemetaan yang berlaku saat itu oleh etat-mayor van Hr. Ms. Flores, tidak terlalu jelek, tetapi tetap dianggap tidak mencukupi pada saat muncul pemancing Australia di Achterwal, sehingga kapal-kapal pemetaan Banda dan Borneo masing-masing pada tahun 1893 dan 1909, dengan memutuskan pekerjaan, untuk pertama kali di Selat Makasar dan untuk kedua kali di Pantai Timur Celebes, digiring kesana untuk membuat yang lebih bagus, pertama dari Achterwal dan selanjutnya dari Voorwal.
Peta dari Simaloer yang disebut oleh C telah memenuhi tuntutan yang diminta untuk suatu pemetaan yang baik, akan tetapi segera setelah pelayaran tiba berkaitan dengan perdagangan kayu, maka peta tersebut dianggap tidak memenuhi dan kapal pemeta Gogh, dengan menggangu jalannya pemetaan yang sedang berlangsung, dalam tahun 1911 ditugaskan kesana.
Peta yang disusun dari pengukuran sebagian dan berbagai macam sifat dari tikungan Kaimana dengan semua jalan masuknya dianggap dapat digunakan, tetapi pada saat teluk tersebut akan digunakan oleh Pelayaran barang, maka diputuskan untuk melakukan pemetaan (tahun 1910) terlebih dahulu oleh kapal pemetaan Borneo, karena ini merupakan syarat dari Perusahaan ini untuk pelayaran teratur.
Juga jalan-jalan masuk ke Fakfak, yang dipetakan oleh Siboga dalam tahun 1899, harus diulang lagi secara lengkap pada saat disana ditempatkan dinas pemerintahan.
Ke empat kasus ini, dan mungkin masih ada banyak lagi, membuktikan bahwa L. dengan tepat menamakan pemetaan yang sedang berjalan untuk kapal pemetaan sebagai urusan yang tidak ekonomis.
Bahwa ini, dilakukan oleh kapal-kapal lain, ada gunanya dimana tidak ada atau hampir tidak ada apa-apa, siapa yang akan menyangkal ini? Tidak ada cara lain yang dapat memungkinkan Siboga dalam tahun 1900 untuk, dalam beberapa hari saja, melakukan pemetaan dari pantai Tenggara Timor, sampai mendorong perbatasan kembali sejauh 15 mil laut dan menetapkan penelitian pada tahun 1898 oleh H. Ms. Java yang dilakukan disana. Akan tetapi hasil pemetaan garis pantai dalam garis besar dengan pengukuran kedalaman disana-sini, dilakukan oleh pemeta berpengalaman, akan merupakan orang pertama yang tidak akan mengakui bahwa ini tidak cukup, segera setelah pelayaran pertama dilakukan disana.
Akan tetapi harus dipertanyakan yang harus disangkal dengan tegas, bahwa seorang komandan dari suatu kapal pemetaan “biasanya bukan merupakan orang yang tepat untuk memimpin pemetaan”, dan bahwa “pemetaan merupakan suatu
pekerjaan tersendiri”.
Pemetaan yang berjalan adalah bagian, dan mungkin bagian yang paling sulit, dari pengukuran secara umum dan komandan dari kapal pemetaan adalah, juga menurut persyaratan yang ditetapkan oleh C, adalah orang yang tepat untuk memimpin pekerjaan ini. Perbandingan dengan pembuat peralatan, yang membuat peralatan dan jangkar kapal, tidak sesuai.
Persyaratan yang ditetapkan oleh C. (hal. 101):
“Seseorang yang tidak hanya seorang pelaut yang berani, tetapi juga berani bertanggung-jawab, yang berani menyerahkan peta-peta masih dengan kesalahan-kesalahan besar, tetapi yang berani menantang setiap orang untuk membuktikan, bahwa peta-peta tersebut bukan merupakan suatu kemajuan yang besar”.
Bagaimana ini? Apakah para komandan dari kapal pemetaan tidak memiliki sifat-sifat itu atau apakah mereka
memilikinya?
Siapa yang berani berlayar seperti mereka, yang
mencari bahaya di tempat-tempat yang dihindari oleh orang lain, melakukan peninjauan yang tajam, menelitinya dengan cepat serta melalui pengukuran dasar laut dapat membaca dasar laut? Siapa yang selalu memperhatikan arus dan tanda-tanda darat dan oleh karena itu dapat dengan segera mengetahui dimana dia berada? Siapa yang berani memikul tanggung-jawab daripada mereka, yang harus dapat menggunakan seluruh keahlian anak buahnya serta menyuruh bekerja keras, tetapi tetap harus menjaga kesehatan mereka? Bahwa mereka dapat menggunakan batu baru sebaik dan seekonomis mungkin dan tidak pernah boleh kekurangan? Selalu ada sampan yang diturunkan serta sering harus bekerja dalam ombak, yang harus memberikan petunjuk kepada perahu penjelajah dalam melakukan tugas tersendiri, yang harus mengurus perjalanan sampan penolong dari kapal, yang harus menjaga bahwa pengamat skala tinggi air diberikan makanan dan minuman tepat waktu dan diganti, bahwa bagian penempatan rambu-rambu di darat harus bekerja paling ekonomis dan yang bertanggung-jawab untuk berbagai hal lain, yang jarang terjadi atas sebuah kapal perang.
Setiap komandan dari kapal pemetaan yakin bahwa
pekerjaan mereka tidak sempurna – pekerjaan dengan banyak cacat besar jarang terjadi — tetapi yang ditemukan adalah yang, untuk menghemat waktu, dengan sengaja mencoba melakukan kecerobohan untuk bagian-bagian yang mereka tidak anggap penting, seperti yang terlihat dari lembaran laporan dari kepulauau Aroe, Achterwal serta Voorwal, dari teluk Tomini, teluk Bone, dari NO ke Bangka dan lain-lain. Bukti bahwa peta-peta tersebut menunjukkan kemajuan yang besar tidak perlu diberikan, karena pekerjaan itu sendiri sudah menjadi bukti.
Dan apa alasan bahwa komandan merupakan “seorang yang kurang disukai untuk memimpin pemetaan berjalan”:
Karena, menurut C, “dia dididik di Belanda, dimana suatu kesalahan kedalaman beberapa pohon kelapa atau beberapa puluhan meter perbedaan dalam penentuan tempat, meskipun ada alasannya, dianggap sebagai suatu kesalahan besar”.
C juga mengetahui, bahwa calon Komandan, dengan beberapa pengecualian saja, selalu dipilih dari perwira yang pernah bekerja pada pemetaan di Hindia-Belanda, sehingga mereka telah mengenal tuntutan dari daerah lain daripada yang Belanda saja.
Hubungannya dengan bagian Hydrografi sering bersifat
bersahabat, sehingga dia harus mengetahui bahwa, setelah 1854, yang utama dari pendidikan calon Komandan untuk kapal pemetaan adalah untuk mengetahui bahwa ketepatan merupakan pengertian yang relatif dan bahwa batas dari itu harus ditetapkan tersendiri untuk masing-masing pekerjaan berkaitan dengan skala dari peta yang akan diterbitkan, tuntutan yang harus dipenuhi, daerahnya dan lain-lain.
Pekerjaannya sendiri di bidang hidrografi membenarkan dia bahwa tahap-tahap ketelitian juga dapat dilatih di Belanda dan bahwa sangat aneh untuk mengingatkannya bahwa beberapa puluhan meter, yang tidak dapat diizinkan pada menentukan titik-titik, yang selanjutnya digunakan lagi untuk menyambung yang lain, tidak diperhatikan apabila masalahnya adalah perbedaan adalah satu ton atau angka kedalaman dan bahwa suatu perbedaan dari satu palm, pada saat laut tenang yang diukur dengan kayu yang dimasukkan antara dua skala ukur, adalah sesuatu yang sama sekali berlainan dari perbedaan yang sama dengan pengukuran kedalaman dengan peralatan timah pada laut tenang di lautan luar.
Pada pengukuran berjalan, batas ketepatan harus selalu diperhatikan berdasarkan gambaran yang diperoleh oleh pimpinan apabila dia bayangkan sebaik mungkin susunan peta yang masih harus dibikin; untuk senam otak ini seorang Komandan dari kapal pemetaan merupakan orang yang tepat.
Mengapa kalau begitu, C akan bertanya, para komandan berikutnya dari kapal-kapal pemetaan di Hindia-Belanda sering bekerja dengan cara yang berbeda-beda dan kadang-kadang melebih-lebihkan ketepatan?
Apakah itu tidak disebabkan karena bidang ini tidak membentuk orang-orang otomat, dan juga tidak ingin membentuknya, tetapi mendidik orang-orang yang berfikir, yang menerapkan apa yang dipelajarinya, masing-masing sesuai dengan pemikiran dan sifat mereka sendiri? Dan apabila terjadi kesalahan dalam menetapkan batas ketepatan, dengan pertimbangan bahwa ini ditetapkan dengan terlalu luas, biasanya tidak diambil terlalu sempit?
Akan tetapi dari hal-hal sebaliknya pasti juga ada contoh. Tetapi komandan dari Zr. Ms. Benkoelen “yang belum pernah bertugas pada kapal pemetaan”?
Fakta ini benar sekali. Tetapi lupa diberitahukan
bahwa komandan ini telah bertugas sebagai Lt. Angkatan
Laut Kl.2 telah sangat berpengalaman di kapal-kapal perang dan bahwa tugasnya pada kapal perang tersebut juga sejalan dengan pemetaan. Kecuali di Maluku (Zr.Ms. Bali 1875), dia berada di pantai timur daya Kalimantan (Zr. Ms. Kinsbergen 1875, 1876, Riouw dan Salak 1879, 1880, Bankermasing 1881), sedangkan peta-peta sekarang, pada dasarnya juga bahwa data dari pemandu kepulauan Macan didasarkan atas pekerjaannya (Zr. Ms. Bandjermasing 1882). Sebagai suatu yang khusus masih bisa diberitahukan bahwa guru-guru dari komandan ini adalah pengukur dari selat Bangka yang, dengan sangat menghargai pekerjaan generasi tua dapat dikatakan, selalu menganggap beberapa puluhan meter dan beberapa palma kedalaman sebagai sesuatu hal yang sangat penting.
Keberatan bahwa yang diperkerjakan adalah tenaga kerja untuk pengukuran jalur masuk Timur dan Barat dari Surabaya, tidak begitu besar sebagaimana dilihat. Pengukuran ini dilakukan setiap 4 tahun, sehingga setiap 2 tahun, selama 6 bulan, ditugaskan 2 perwira, 1 juru mudi, 2 ahli mesin dan beberapa juru api pribumi, selanjutnya digunakan pegawai sementara.
Perbandingan dengan Hofvijer mungkin tidak dimaksudkan secara sungguh-sungguh, karena untuk Angkatan
Laut pemetaan itu tidak ada gunanya, sedangkan mereka mengambil data pengukuran jalan masuk Barat dan Timur agar peta-peta jalan masuk tetap aktual. Akan tetapi, L menekankan (hal. 752) bahwa untuk bagian ini “dengan antara waktu yang lebih lama sudah cukup”.
Terhadap pelayar pada saat ini, C tidak terlalu adil.
Memang dahulu keadaan yang dia celah itu memang ada,
tetapi dalam tahun-tahun terakhir terjadi perubahan yang nyata, terutama karena campur tangan dari inspektur kepala pelayaran; yang menggunakan data-data yang dikirim oleh penguasa angkatan laut Pemerintahan dan dari para sahbandar, disamping data lain yang berharga, untuk menyusun perbaikan dari peta-peta dan pedoman.
Sejarah pemasangan rambu-rambu pelabuhan Sangkapoera telah diketahui sejak satu tahun dan satu hari tetapi selama dinas rambu-rambu di Batavia, yang bertanggung-jawab untuk itu, mengkonfirmasikannya, maka peta dan pedoman tidak boleh dirubah.
Yang bertanda tangan dibawah ini yakin bahwa peningkatan dari jumlah kapal pemetaan; sampai ump. Enam, sangat diperlukan untuk mencapai target yang ditetapkan oleh Menteri Kelautan. Tidak ada pemetaan sementara, atau pemetaan berjalan yang dapat memberikan penggantian dari kapal-kapal yang kurang, pekerjaan ini tetap berguna untuk pantai-pantai, yang kurang dikenal. Untuk menugaskan satu kapal tersendiri untuk pekerjaan itu tidak ekonomis, tetapi akan lebih berguna untuk melakukan
pekerjaan pemetaan pengukuran secara teratur.
J.M. PHAFF
Diterjemahkan dari bahasa Belanda ke
dalam bahasa Indonesia oleh Jefta Samuel,
Penerjemah resmi dan dibawah sumpah.
Jakarta, 23 September 2003.