PENGUKURAN DERAJAT BUJUR MERIDIAN DI DENMARK

PENGUKURAN DERAJAT BUJUR MERIDIAN DI DENMARK

Persatuan Ilmu Pengetahuan yang bertempat di kota Kopenhagen, telah memprakarsai pembuatan banyak peta pada abad yang lalu serta awal abad ini.

Untuk dapat mengumpulkan bahan-bahan yang diperlukan untuk itu, maka professor “Bygge pada tahun 1765, mulai secara bersamaan dengan beberapa usaha untuk maksud itu di Eropa, dengan melakukan pengukuran serangkaian segitiga disekitar Kopenhagen, yang kemudian dilanjutkan. Dengan demikian maka jaringan-kesegitigaan Denmark dengan segera meluas, dibagi dalam beberapa bagian, dari Seeland serta pulau-pulau disekitarnya pada pulau-pulau Duhnen, Langeland dan jazirah, sampai, dilanjutkan kearah utara dan selatan, pada akhir abad yang lalu telah meliputi seluruh kerajaan mulai dari Skagen hingga sungai Elbe. Dengan demikian setelah di Denmark suatu lingkaran bujur seluas kira-kira 40 telah ditetapkan, maka pada tahun 1787 Bygge mendapat pemikiran untuk menggunakan teknik segetiga ini untuk melakukan pengukuran bujur meredian sebenarnya.

Dengan keyakinan, bahwa dibawah pengawasan khusus darinya pekerjaan telah dilaksanakan dengan cukup teliti, maka menurut Bygge untuk melakukan perhitungan hanya diperlukan tambahan pengukuran dasar, terutama dengan menggunakan batang terbuat dari kaca sebagaimana digunakan di Inggris di Hounslow heath oleh Jenderal Roy (1784), serta menentukan lebar yang tepat dari berbagai titik. Setelah dengan bantuan dasar ini, semua segitiga sepanjang bujur meridian telah dihitung kembali, maka hanya perlu melakukan penjabaran. Pada dasarnya, Bygge berpendapat bahwa pengukuran bujur meridian dapat diselesaikan dalam waktu satu atau paling lama dalam dua musim panas. Pelaksanaan dari rencana ini untuk sementara tidak terlaksana.

Pada tahun 1798 Bygge diutus ke Paris oleh pemerintahan Denmark untuk bergabung dengan pekerjaan komisi internasional yang, atas usul Perancis, menyampaikan rancangan Mechain dan Delambre untuk menetapkan kesatuan berdasarkan sistim meter dengan bagian dan perkaliannya, serta menganjurkan sistim ini kepada pemerintahan negara-negara lain.

Bygge kini dapat mengenal dari dekat cara-cara baru, yang terutama karena pengaruh Borda telah diterapkan pada pengukuran bujur meridian di Perancis. Meskipun tidak diketahui secara langsung dari catatan laporan Bygge, kita dapat beranggap, bahwa di Paris pemikirannya tentang kesederhanaan dari suatu pengukuran bujur meridian telah berubah, karena Persekutuan Ilmu Pengetahuan Denmark telah sama sekali membatalkan maksudnya untuk melakukan pengukuran derajat bujur meridian atas dasar pengukuran segitiga. Pengukuran-pengukuran ini, meskipun tidak terlalu tepat untuk suatu pengukuran derajat bujur meridian, kini masih disebutkan dengan melihat maksud dari pengukuran yang akan dilakukan. Ini digunakan sebagai dasar dari pekerjaan, yang telah sebelum tahun 1800 memberikan nama yang baik kepada peta-peta Denmark disamping peta-peta dari Cassini, dan belum lama ini dijadikan acuan untuk membuat rancangan berbagai peta-peta Denmark.

Dalam beberapa tahun dengan terlibatnya Denmark pada tahun 1807 dalam perang Eropa, tidak terdapat kesempatan untuk melaksanakan usaha ilmu pengetahuan yang banyak memerlukan dana. Tetapi setelah perang usai dan terjadi perdamaian, maka masalah pengukuran derajat bujur meridian, serta pembuatan peta yang tepat secara astronomis-geodetis, menjadi masalah yang penting sekali. Disebabkan bahwa Frederick VI, pada saat itu raja dari Denmark, sangat menyadari pentingnya suatu usaha ilmu pengetahuan, serta persahabatannya dengan professor dalam ilmu bintang, Schumacher, menghasilkan bahwa pada tahun 1816 pelaksanaan dari semua pekerjaan termasuk pengukuran derajat bujur meridian yang diperlukan, diserahkan kepada Schumacher, dengan mendapat dana yang berlimpah dari raja.

Pekerjaan persiapan, antara lain pembangunan teropong bintang di Altona bersama kumpulan peralatan yang sangat langka dan berharga, sangat menarik perhatian diseluruh Eropa. Selama tahun berikutnya Holstein dikunjungi oleh banyak ahli astronomi yang terkenal, antara lain Gause, Olbers, Bessel dan Struve, yang datang melihat pekerjaan Schumacher serta teropong bintang yang baru di Altona. Maka sangat tepat apabila dikatakan bahwa dengan cara ini Denmark telah memberi sumbangan besar dalam merintis jalan untuk usaha geodesie secara besar-besaran, yang segera terjadi setelah jaman Napoleon dibawah pimpinan ahli-ahli tersebut diatas di negara Jerman dan Rusia. Pengukuran derajat bujur meridian di Denmark telah secara langsung memprakarsai pengukuran derajat bujur meridian di Hannover, yang dapat dianggap sebagai penerusan dari pengukuran derajat di Denmark. Pekerjaan ini oleh pemerintahan Hannover diserahkan kepada Gauss, yang oleh karena itu terpaksa melakukan studi khusus dalam geodesie untuk waktu yang lama. Pada tahun 1818, Gauss yang tinggal di Luneburg, untuk pertama kali mengikuti penyelidikan dari Schumacher, pada tahun 1812 mulai dengan pengukuran derajat bujur meridian di hannover, dan menyelesaikannya pada tahun 1827.

Diterjemahkan dari bahasa Belanda ke

Dalam bahasa Indonesia oleh Jefta Samuel,

Penerjemah resmi dan dibawah sumpah.

Jakarta, 23 September 2003.

Tulis sebuah Komentar