PEMBAHASAN BUKU

PEMBAHASAN BUKU

Bangsa Indian diwakili oleh dua kisah yang diambil dari Penard bersaudara: ‘Pengusiran dari seorang pendeta dari surga Indian”, dan “Pengusiran kaum Indian dari surga pendeta”.

Kisah-kisah ini sangat berarti, tetapi penafsirannya oleh penyusunnya kurang dapat diterima oleh saya. Mereka mengikuti pendapat bahwa Prof. Van der Linde, bahwa kisah-kisah ini melambangkan “pemutusan hubungan budaya dengan para penjajah Eropa… (hal. 56). Pemutusan hubungan budaya ini merupakan suatu hal yang meragukan dengan mengacu pada apa yang kita ketahui tentang sejarah bangsa Indian di Guiana, meskipun saya harus mengakui bahwa ada banyak kekosongan dalam sejarah ini.

Yang lebih penting adalah bahwa kami tidak mengenal penyair agama sebagai orang dengan siapa hubungan ini terputus di masa yang lalu, tetapi sebagai orang yang pada akhirnya mengadakan hubungan budaya atau pilihan lain: yang membawa sengketa budaya. Menurut pendapat saya, kisah-kisah ini adalah sesuai dengan bagaimana kita melihatnya pada pertama kali: suatu kritik keras atas awalnya (tahun 1895) dari kegiatan penyiaran agama antara Caraiben dari Mraowijne. Meskipun kaum Indian ini di Guiana Perancis atau di Paramaribo mengizinkan pembaptisan anak-anak mereka, mungkin sejak datangnya kaum Indian dari tempat penyiaran agama di Sinnamarie atau Kourou setelah pengusiran kaum Jezuit pada tahun 1763. Akan tetapi, desa-desa mereka terletak diluar jangkauan pendeta dari Suriname (Bossers, Sejarah Singkat penyiaran agama Katolik, hal. 333), sedangkan para pendeta Perancis dari koloni hukuman diseberang, hanya jarang sekali berkesempatan kesana. Terakhir ini menurut pendeta Katolik Brunetti, yang pada tahun 1886 berangkat ke Marowijne. Dia sangat mencela praktek pembaptisan, dan menginginkan bahwa pihak Perancis mempedulikan kaum Indian (La Guyane Francaise, 1890, hal. 280, 291. Di UB Utrecht). Keadaan ini berubah pada tahun 1895 pada saat pendeta Katolik bermukim di Albina, yang secara teratur melakukan kunjungan ke desa-desa sepanjang sungai. Sudah pasti bahwa mereka dijadikan contoh untuk ceritera yang, paling lama sepuluh tahun setelah kedatangan mereka, dikisahkan kepada Penard bersaudara.

Kisah-kisah ini diterbitkan pada tahun 1907. Harus diperhatikan bahwa pendongeng Indian bersama dengan ejekan terhadap pendeta, juga mengejek bangsanya sendiri, bahwa telah mengambil alih sebagian kritik.

Masih ada lebih banyak bagian-bagian yang secara keseluruhan atau sebagian berkaitan dengan sejarah kaum Indian. Bagian-bagian ini sebagaimana seluruh bukunya diberikan banyak catatan, sehingga ada beberapa hal yang diperhatikan. Clappopour (hal. 12) bukan salah cetak untuk Cassiopour, tetapi nama lama ini dari daerah pantai dan dari selat dibelakang pulai Maraca. Ombak pasang yang dikisahkan Lourensz disini sering terjadi. Suatu ekspedisi yang dikirim oleh pendiri koloni Inggris Harcourt dalam tahun 1609 hampir musnah disini. Identifikasi dari Arocouros (Harcourt: Areecoola) dengan Aricari sangat dapat dipertanggung-jawabkan, tetapi harus diperhatikan bahwa yang dimaksudkan adalah Palicour. Pendatang orang Eropa pertama tidak melakukan pemisahan antara kedua bangsa ini. Antoine Biet, melakukannya pada tahun 1652, menemukan bahwa kaum Aricari (Racaletz) adalah bangsa yang berdamai (Voyage dll. Hal. 148). Sebaliknya, bangsa Palicour sejak dulu merupakan negara yang ditakuti, sama dengan kaum Arocouros dalam ceritera ini.

Pada hal. 13 rupanya penulis pada abad ke-17 mengimplikasikan bahwa nama sungai Cassioupour dalam bahasa Arocouros berarti: Tanah tenggelam. Para penulis mencoba untuk membuktikan ini dengan menghubungkan Cassioupour dengan menyatakan bahwa kata puro dalam Carabia modern = basah. Ada kemungkinan, tetapi tidak terlalu benar : karena untuk banjir kata lain digunakan, yaitu unmute.

Menurut penyusun ceritera, nama mahluk halus Watoppa dari Watippa (hal.29, 34) terdapat kata yang berarti “arang kayu”, yang digunakan untuk melukis wajahnya. Karena tidak ada sesuatu yang diketahui tentang mahluk halus yang menggambarkan wajah mereka dengan pewarna yang umumnya digunakan bahkan arang — maka tidak terdapat cukup dasar bagi anggapan ini. Secara keseluruhan semua nama-nama mahluk halus dalam emologi Caribia modern tidak nyata artinya.

Pada hal. 30 para penyusun beranggapan tepat bahwa David Pietersz de Vries mengacu ke pengarang-pengarang lain tentang tanah dan penduduknya : bagian tentang cuaca dan kaum Indian (hal. 32-35) secara keseluruhan diterjemahkan dari “Harcourt”s Relation (Hakluyt Society Iind. Ser.60, hal.89). Yang dimaksudkan dengan Maruin oleh De Vries adalah Mahury dan bukan kaum Marowijne, melihat jaraknya sejauh enam mil sampai Cayana; kemungkinan bahwa tanah kaum Maruin dengan ke empat gunungnya yang tinggi adalah pulau Cayenne dan bukan seluruh garis pantai antara Marowijne dan Cayenne (hal.30).

Pada hal. 33-35 disebutkan kata Yao. De Laet telah menyelamatkan puluhan kata dari bahasa ini, antara lain capou = coelum dan soye = terra (Notae ad diss. H. Grotti, hal.183-4).

Akhirnya, pada hal. 108 baris 5 ‘pruru’ mungkin adalah kata Carabia ‘purure”, kapak kecil dengan pegangan yang digunakan untuk pekerjaan penyelesaian. Hoo-desre adalah kapak biasa dengan pegangan panjang.

B.J. HOFF

—————

Hans Kahler : BAHASA SICHULE DI

PULAU SIMALUR DI PANTAI BARAT

PULAU SUMATERA. Afrika dan Luar Negeri

Lampiran 27, Berlin 1955; 75 hal.

Setelah Kahler lebih dahulu menerbitkan beberapa tulisan Sichule di Simalur pada tahun 1938 (VBG; bag. LXXIV, bag. Ke-4, 1940), maka dalam buku tersebut dia telah meringkas hasil-hasil penelitian bahasanya. Dalam hal ini dia tidak membatasi diri pada uraian sinkronis saja, tetapi secara terus menerus membandingkan Sichule dengan bahasa Nias dan Simalur, disamping memberikan perbandingan dalam hubungan lebih luas untuk menerangkan hal-hal yang khusus dari Sichule. Sebagai contoh dari penanganan ini, Kahler pada pokoknya mengikuti “rangka dari von Dempwolff yang didasarkan atas Pengalaman bertahun-tahun untuk Menguraikan bahasa-bahasa di Indonesia, (hal.2).

Sebagai kesimpulan umum tentang susunan Sichule serta sejarahnya, penulis berpendapat bahwa bahasa ini pada awalnya adalah sama dengan bahasa Nias, yang setelah sebagian penduduk dari Nias pindah ke Simalur maka bahasanya sangat dipengaruhi oleh Simalur, sehingga hasilnya merupakan bahasa campuran, yang dalam susunan tata bahasanya berada lebih dekat dengan bahasa Simalur daripada bahasa Nias. Disamping itu adanya berbagai pengaruh dari bahasa-bahasa Sumatera (lihat juga tulisan dari penulis Sprach- und Kulturschichten auf der Insel Simalur an der Westkuste van Sumatra, di Actes du Ive Gongres International des Sciences Anthropologiques et Ehnologiques, Vienne 1952, Tome II, hal. 254-260).

Dalam pembahasan belum lama ini tentang Tatabahasa dari Bahasa Indonesia dari Kahler (Orientalistische Literaturzeitung 1959, hal. 67—74) saya telah secara panjang lebar mengajukan keberatan saya terhadap cara penguraian bahasa dari Kahler, dan menyatakan bahwa berdasarkan pengetahuan tentang bahasa maka skema dari Dempwolff sama sekali tidak dapat digunakan sebagai titik awal untuk menguraikan bahasa-bahasa di Indonesia, karena didasarkan atas bahasa yang diuraikan, tetapi berdasarkan kategori dan pengertian Barat. Ditambah lagi, sehubungan dengan itu tidak diperhatikan dasar-dasarnya serta hasil dari pengetahuan bahasa umum dari tigapuluh tahun terakhir.

Keberatan saya terhadap buku yang dibahas disini adalah sama, dan tidak ada gunanya mengulanginya. Hanya masih harus ditambahkan, bahwa pencampuran-adukan dari uraian sinkronik dengan perbandingan bahasa dan sejarah bahasa, dengan cara yang dilakukan dalam buku ini, adalah membingungkan. Untuk menyebut satu contoh saja: Lautsystem dari Sichule, yang dikira merupakan bagian penting dari uraian bahasa berada pada satu halaman yang sama, sangat tidak cukup dibahas, dan dihilangkan dalam suatu lampiran sebelumnya: tidak menjadi bagian dari buku itu sendiri, karena baru setelah itu menyusul bagian pertama : Untersuchungen zur Laut- and Wortlehre, yang nyatanya hanya mengandung perbandingan dari (jadi tidak diuraikan terlebih dahulu dengan baik!) bunyi-bunyian dari Sichule dengan Nias, Simalur dan bahasa lain, dan yang tidak ada hubungannya dengan Wortlehre (Pelajaran kata-kata) sama sekali. Tidak perlu dikatakan lagi bahwa istilah fenonema pengertian tidak terdapat dalam uraian ini.

Maka menurut pendapat saya, seluruh bukunya sama sekali tidak memuaskan sebagai suatu uraian bahasa. Tetapi tidak dapat dipungkiri adanya banyak informasi tentang Sichule, dan bahwa penulis mengemukakan bahwa hal-hal yang menarik tentang perbandingan bahasa dan sejarah. Akan tetapi, kita inginkan bahwa bahasa yang belum dikenal ini, yang mungkin sekarang dengan cepat mulai kehilangan ciri khasnya atau telah kehilangan ciri khasnya, diuraikan dengan jelas sehingga dapat memberikan pengetahuan tentang susunannya. Akan tetapi, keinginan yang tidak berlebihan ini tidak dipenuhi oleh penulisnya.

Sebagai penutup masih ada suatu catatan tentang istilah “Mischsprache” (bahasa campuran), yang dalam hubungan ini telah mengakibatkan terjadinya pembahasan. (P.Voorhoeve, Critical Survey of Studies Ion the Languages of Sumatra, 1955, hal. 25; pembahasan Kahler tentang itu dalam Afrika und Ubersee… XLII (1958), Heft 1, hal.47, Vgl.juga 1 Dyen dalam resensinya dari buku Kahler dalam Language 32 (1956), hal. 582—585. Kahler telah terlebih dahulu, berdasarkan terbitan dari Koppelmann, menerangkan penggunaan istilah “Mischsprache (Anthropos 37—40 (1942—’45), hal. 889—890); dia ingin menyebutnya bahasa campuran “apabila Unsur-unsur dari suatu Idiom dipengaruhi oleh barang asing”, dan sebagai unsur-unsur atau “Inti suatu Bahasa’ diartikan terutama pronominal personalia, kata-kata hitung, akhiran dan awalan dan beberapa unsur dari khazanah kata. Suatu bahasa bisa menjadi bahasa campuran disebabkan “Ketentuan” sosial dan/atau bahasa — Menurut saya adalah sulit untuk mencapai penggunaan yang memuaskan dari kriteria kwantitatif ini. Hugo Schuchardt dengan benar mengatakan: “ tidak ada bahasa yang tidak tercampur sepenuhnya” dan siapa yang memutuskan adanya cukup “unsur-unsur idiom yang dipengaruhi oleh Barang Asing” sehingga menjadikannya bahasa campuran? Disamping pengertian: ”unsur-unsur idiom’ atau ‘Inti dari suatu Bahasa” yang diragukan. Sepanjang saya melihatnya maka kegunaan istilah ini menurut pengetahuan juga diragukan, karena untuk bahasa-bahasa yang dimaksudkan memberikan sugesti adanya ciri khas sendiri, yang pada nyatanya bahwa semua bahasa sekurang-kurangnya atau sebanyak-banyaknya adalah sama. Mungkin istilah ini dapat digunakan dalam dan dibatasi pada kasus-kasus dimana kelompok-kelompok penduduk dengan berbagai bahasa atau dialek bermukim bersama (desa dan lain-lain), ump, karena kolonisasi, dan dalam kehidupan sehari-hari lama-kelamaan membentuk suatu bahasa campuran, bahasa campuran dalam arti tidak dapat disebutkan bahasa asal murni atau bahasa yang dipengaruhi; meskipun pada pokoknya merupakan bentuk yang rumit dari perubahan bahasa melalui pengambilan kata-kata dari bahasa lain.

A.  TEEUW

Diterjemahkan dari bahasa Belanda ke

Dalam bahasa Indonesia oleh Jefta Samuel,

Penerjemah resmi dan dibawah sumpah.

Jakarta, 23 September 2003

Tulis sebuah Komentar