ILMU BAHASA, NEGARA DAN BANGSA-BANGSA

ILMU BAHASA, NEGARA DAN BANGSA-BANGSA

HINDIA BELANDA

DITERBITKAN OLEH

PERSATUAN SENI DAN PENGETAHUAN

BATAVIA;

DIBAWAH REDAKSI TUAN-TUAN

P. Bleeker, J, Munnich dan E. Netscher.

——————————-

BAGIAN V.

——————————————

SERI BARU

BAGIAN II.

———————————————-

BATAVIA

L A N G E & C O

1856

P O E L O E  S I – M A L O E

(PULAU HOG DARI PETA-PETA LAUT INGGRIS)

oleh

F.H.J. NETSCHER

Bupati Tapanoeli.

————

Dari pulau-pulau sejajar dengan pantai barat Sumatera, maka yang paling selatan, Engano, Poggien dan kepulauan Mentawai, telah dibahas dalam majalah ini (1).

Selanjutnya dibagian utara terletak Kepulauan Batoe dan Nias, yang lebih terkenal, disebabkan penghunian sejak awal serta dalam jangka waktu yang lama dari orang-orang Eropa.

Disebelah utara Nias terletak pulau terakhir dan terbesar dari rangkaian ini, yang dikenal dengan nama Pulau Hog, oleh penduduk dikenal sebagai Pulau Si maloe; pulau ini yang merupakan pulau terbesar dari rangkaian Nias, menurut saya belum pernah dikunjungi oleh orang-orang Eropa, meskipun sangat pentingnya, disebabkan letaknya terhadap kerajaan Aceh dan Nias, dimana pada tahun-tahun sebelumnya ribuan budak diberangkatkan ke pelabuhan-pelabuhan Aceh, dimana Si-maloe merupakan pangkalan penting bagi pedagang budak.

—————————

(1)            Engano: bagian 11 hal. 370, bag. III hal.585 dan 870

Kepulauan Poggi dan Mentawai; bag. I hal. 399, bagi.III hal.319

Tentang kepulauan Baujak dan Nias, yang juga termasuk dalam rangkaian ini, terdapat tulisan dalam majalah ini di bagian III hal.419 dan ba. V hal.316.

Berdasarkan rencana pembangunan peradaban dan sosial yang direncanakan bagi penduduk Nias yang sangat peka, suatu hal yang saya anggap sangat penting, mendorong saya untuk lebih mengenal keadaan yang sebenarnya dari pulau Hog, dan pada bulan Nopember 1854 saya memutuskan, meskipun sedikitnya pengetahuan saya tentang daratan dan perjalanan lautnya, dengan menumpang kapal Z.M. Sylph dan dua kapal penjelajah melakukan penelitian tentang pulau tersebut, dan sedapat mungkin mengenal tanah dan penduduknya. Saya telah berhasil sepenuhnya dalam hal ini.

Pulau Hog atau Poeloe Si-maloe terletak 13 sampai 14 mil dari pantai Sumatera, jadi sama dekatnya dengan Nias dari Singapore; terletak dari utara ke barat dan selatan timur ± 12 mil dengan lebar kira-kira 2 ½ sampai 3 mil.

Titik utara terletak pada 2050’ lintang utara 95040’ lintang timur, titik selatan 2021’ lintang utara; jadi kira-kira besarnya 2/3 dari pulau Nias dengan luas tanah ± 80 mil geografis. Tampilan tanah adalah sama seperti yang tersebut terakhir, berbukit, tetapi tidak terdapat gunung yang sama tingginya sebagai Gunung Modjait di Nias; gunung tertinggi adalah kira-kira 1000 kaki.

Pantai utara dari pulau ini terjal ke laut, dan dekat pantai laut menurun sedalam 20 atau 25 depa. Pantai-pantai, meskipun berbatu, dipenuhi tumbuhan sampai ke bibir laut. Menurut keterangan yang diberikan dan menurut pengamatan saya, tidak ada atau jarang terjadi gelombang laut yang kuat. Di beberapa tempat pantai dilindungi oleh pulau-pulau kecil sehingga menciptakan beberapa pelabuhan alam yang baik.

Berlayar menyusuri pantai utara kearah tenggara hingga sepertiga bagian dari pulau, terdapat sekelompok pulau, yang membentuk suatu teluk yang indah sekali, dibelakang mana terdapat lagi suatu teluk, yang merupakan bekas gunung api yang telah mati, menjorok jauh kearah darat, serta kelihatannya dalam sekali; kelihatannya bisa menampung kapal-kapal besar. Pulau-pulau ini jarang penduduknya, setelah diketahui adanya desa-desa dipinggir pantai, saya pindah ke kapal jelajah dan naik ke darat di pantai berdekatan dengan sungai, dimana berlabuh dua perahu Aceh. Karena tidak menemukan apa-apa di pantai yang dapat menambah pengetahuan, saya mencoba melanjutkan perjalanan ke pedalaman dengan ditemani beberapa awak kapal jelajah, mengikuti jalan setapak ditepi kiri sungai. Pada akhirnya jalan setapak ini bertambah jelek, disebabkan kubangan Lumpur kerbau sehingga saya tidak dapat meneruskan perjalanan; tetapi melihat suatu perahu kecil yang terletak disana, saya menaikinya dan didayung oleh dua awak kapal.

Segera saya melihat sekelompok dari ratusan kerbau yang sedang merumput ditepi sungai, dan selanjutnya sampai pada ladang-ladang yang luas, yang ditanami padi dan dipagari, hingga sawah-sawah atas tanah yang baru dikerjakan, yang menunjukkan bahwa kami sudah mendekati rumah-rumah, yang muncul, berjauhan satu dengan yang lainnya. Lama-kelamaan muncul orang-orang dipinggir sungai, sehingga saya mencari tempat untuk berlabuh. Dari orang-orang ini saya ketahui bahwa saya telah sampai di desa Si-goeli. Mereka sangat heran melihat seorang Eropa, dan menanyakan maksud kedatangan saya; karena mereka mendapat kabar, bahwa ada dua kapal berlabuh didepan sungai di teluk, yang agak menakutkan mereka. Setelah saya menjelaskan kepada mereka, dan mengatakan bahwa saya hanya ingin melihat tanah mereka serta mengunjungi kepala desa atau raja mereka, dan menjamin bahwa mereka aman sebagaimana saya merasa aman antara mereka, maka terjadi saling percaya. Sementara saya berjalan bersama dengan gerombolan orang-orang, melalui sawah dan ladang, dan akhirnya sampai di kampung yang terletak diantara dua punggung bukit yang tinggi di dataran yang menyenangkan.

Sebenarnya tidak terdapat desa yang teratur; di kanan dan kiri berdiri rumah-rumah tersebar, dibangun sesuai tradisi melayu dari bambu dan alang-alang, tetapi jelas mengikuti model rumah-rumah di Nias. Rumah Raja atau kepala kampung, Radja Maidan, beada di tempat yang rindang, pada kaki bukit. Sekitar empatpuluh rumah terletak tersebar di antara ladang dan sawah, Jumlah penduduk menurut perhitungan saya adalah kurang lebih seratus orang.

Menurut perhitungan saya, kita berada 1 hingga 5 pal (1 pal = 1,5 km) dari pantai; mereka mengatakan bahwa dibelakang kampung terdapat punggung gunung yang curam dan sulit didaki, yang memotong pulau ini, dan bahwa kampung utama dari Si-maloe terletak di sisi lain. Karena saya tidak memberitahukan di kapal untuk berapa lama saya akan pergi, saya tidak berani untuk melanjutkan perjalanan saya kepedalaman, meskipun saya sangat menginginkannya, dan saya memutuskan untuk berjalan sampai disini saja. Pada saat kembali ke pantai, saya diantar oleh Radja Maidan serta dewan pemerintahannya; saya masih sempat mengunjungi kampung Loemawe yang terletak lebih ke utara dekat pantai dengan kira-kira 50 rumah dan kembali ke muara sungai.

Di kampung, saya membagikan tembakau dan gambir kepada para kepala dan yang lain, dan menerima sirih berlimpah sebagai hadiah tandingan. Di pantai raja menghadiahkan tiga kerbau kepada saya, serta menawarkan beberapa untuk dibeli; saya hanya mengambil kerbau muda untuk para awak kapal, memberikan beberapa hadiah lain, naik ke kapal lagi, dan segera di kapal menerima banyak tamu, serta penawaran membeli banyak ayam, yang dibayar dengan tembakau dan gambir yang diterima dengan senang hati.

Di bagian selatan jalur pelayaran sepanjang pantai tidak terlalu dalam, dan penuh karang, sehingga kapal-kapal lebih besar tidak dapat berlayar disana, kecuali kapal jelajah dan perahu.

Tempat pertama yang dikunjungi di pantai selatan, datang dari barat, Lakoean, yang terletak dekat pantai didalam hamparan sawah yang indah. Rajanya bernama Katjik Djawah dengan empat pejabatnya; bernama Bika, Taliola, Banting dan Lak dengan penduduk terdiri dari 403 orang melayu, wanita dan anak-anak dan 80 orang Aceh, desa ini belum lama didirikan. Luas tanah adalah beberapa pal, tetapi karena tidak ada sungai yang dapat dilayari, maka sampan harus ditambat di pantai, yang berjalan dengan aman; sudah ada beberapa perahu dagang yang berlabuh disitu. Saya menerima domba sebagai hadiah.

Menyusuri pantai selatan, lebih sering mulai terlihat dataran ladang, hingga sampai ke Si-maloe, dimana terdapat tempat berlabuh yang aman. Si-maloe terletak di suatu dataran seluas beberapa pal, semua sawah dan ladang. Pemerintahannya serta soeko adalah sama seperti di Lakoean; penduduknya berjumlah 600 sampai 700 laki-laki pekerja, dari suku melayu, dan ±200 orang Aceh yang semuanya merupakan petani. Yang menjadi raja disini adalah Samporno orang melayu. Kampung ini dibagi menjadi dua, yang masing-masing dipimpin oleh wakil-kepala kampung. Di tempat berlabuh diluar terdapat sembilan perahu dagang kecil.

Disini saya juga hendak dihadiahkan se-ekor kerbau, hadiah mana, atas permintaan, diganti dengan domba dan buah-buahan. Si-maloe terletak, sama seperti Lakoean, hanya satu hari perjalanan dari si-goeli, disisi lain dari pulau.

Antara kedua desa tersebut terdapat pemilikan bersama atas tanah, demikian juga atas Raja yang terletak agak kearah tenggara lagi. Sampai Tapa masih terdapat barisan batu karang, tetapi di Tapa sendiri di bagian tenggara, terdapat tempat tambatan yang aman untuk kapal-kapal besar, yang sebaiknya mendekati tempat ini dari arah selatan atau timur dimana jalur pelayarannya paling bersih. Tapa terletak dipinggir sungai, di dataran yang paling luas dari pulau ini; sawah-sawahnya sangat luas dan bagus; jumlah kerbau tidak terhitung. Asal-usul dan pembagian dari penduduk melayu disini adalah sama dengan di desa-desa lain.

Raja Sikajoroert, yang bersama dengan beberapa yang lain berangkat ke salah satu pelabuhan Aceh, menjadi kepala pimpinan disini. Penduduk pribumi disini, tanpa wanita dan anak, berjumlah 900 orang; dengan 200 orang Aceh. Di pelabuhan berlabuh 24 perahu dagang dari Aceh, Troemon, Singkeh dan Nias, yang membawa kain kafan, amlioen, tembakau dan gambir. Raja Aceh sangat berpengaruh disini, mungkin karena jumlah terbesar orang Aceh bermukim disini dan terdapat empat perahu yang siap dikirim ke Aceh sebagai tanda penghormatan, dimana muatannya diperkirakan bernilai f 2000. Penerimaan disini juga sangat baik.

Tapa adalah, menurut keterangan yang diberikan, merupakan tempat pelarian sementara dari semua oknum-oknum jahat dari Nias (yang terletak paling dekat), apabila mereka diburu atau menjadi tersangka. Budak-budak yang dikeluarkan secara rahasia dari Nias, yang sekarang jarang terjadi, dibawa kesini, untuk dikirimkan ke Aceh pada saat kesempatan yang baik.

Seluruh pulau Si-maloe berbukit, ditumbuhi dengan pohon-pohon besar, dan sangat subur; dengan dataran atau lembah ditanami padi dan ladang-ladang jagung, tebu dan hasil-hasil lain untuk dimakan sendiri dan diurus dengan baik; tembakau dan gambir sama sekali tidak ditanam dan oleh karena itu sangat langka dan mahal. Hasil hutan adalah terutama rotan, damar, dan getah, yang diperdagangkan dengan pelabuhan Aceh. Binatang buas, kecuali babi, tidak terdapat disini, sama seperti di Nias.

Menurut sejarah lisan dari orang-orang Aceh di

Troemon, penduduk di si-maloe berasal dari daerah Minangkabau, yang dibuang ke pulau ini; mereka membawa anjing-anjing mereka, dan dari hasil hidup bersama lahir anak-anak yang menjadi penduduk pulau ini.

Akan tetapi, jauh lebih jelas adalah bahwa mereka merupakan turunan dari sejumlah kaum imigran Minangkabau, dan menurut kisah penduduk ini sendiri adalah tujuh turunan yang lalu, seorang keturunan raja Minangkabau menikah dengan anak perempuan Raja Aceh, yang memberikan pulau Si-Maloe dengan ketentuan akan tetap patuh terhadapnya; setelah mana lebih banyak orang bermukim disini.

Menurut catatan setempat maka jumlah penduduk adalah kira-kira sebagai berikut:

Melayu

Laki-laki

Jiwa

Si-goeli

100

50

Lemawe

80

40

Lakoean

90

40

Si-maloe

600

500

Tapak

900

450

Tersebar di pedalaman

500

250

——–

——-

Jumlah

2270

1130

Orang Aceh

Sakoean 9
Si-maloe 20
Tapak 90
Jumlah 120

Dari yang terakhir, banyak yang sementara. Bahasa, adat-istiadat dan kebiasaan adalah sama dengan kaum melayu dari Padang serta meskipun lebih mudah untuk berbahasa melayu dengan penduduk masih ada bahasa daerah yang digunakan yang merupakan campuran antara Aceh dan Melayu; bahasa mana jarang digunakan di pantai utara, karena tidak ada orang Aceh yang bermukim disana.

Kecuali penggunaan celana Aceh, yang dalam bentuk pakaian atau tenunan tidak terdapat perbedaan besar dari yang ditemukan di daerah pegunungan Padang, serta lebih banyak kepercayaan dan kemurnian adat Atas, pertanyaan saya, mengapa rumah-rumah tidak dibangun lebih dekat satu dengan yang lainnya, serta memagari kampung yang akan meningkatkan keamanan orang dan barang? mereka menjawab, bahwa ini tidak perlu karena keamanan dari orang-orang dan barang-barang dijamin, karena pencurian antara mereka tidak dikenal, dan bahwa istri-istri mereka sama amannya didalam rumah-rumah yang terpencar seperti kalau dikurung, sedangkan adat-adat biasa Minangkabau tetap dipertahankan.

Tidak ada kampung yang memiliki supremasi atas yang lainnya; oleh karena itu setiap desa merupakan negara merdeka kecil, dimana masing-masing hidup sebaik mungkin. Hanya Si-goeli dan Lemawe tidak membayar pajak kepada Aceh, tetapi setiap tahun mengirim satu perahu ke Raja Aceh, yang dimuat oleh penduduk dengan minyak, kelapa dan rotan, sebagai tanda hormat, kata mereka, tetapi, menurut pendapat saya, dengan harapan agar tetap bersahabat.

Pada dasarnya dilakukan usaha berternak; saya sangat jarang melihat begitu banyak kelompok kerbau, yang kelihatan sangat sehat dan rupanya diperlihara dengan baik. Yang digunakan sebagai uang logam disini adalah tidak lain lampit yang dipotong-potong kecil; bentuk uang tidak berlaku disini jumlah uang logam rupanya sangat jarang. Pembayaran dilakukan dengan cara menukar barang; rotan merupakan alat pembayaran utama, sering diperhitungkan sesuai nilai dari sejumlah ikatan rotan. Pada umumnya orang Melayu mengadu tentang kurangnya lalu lintas perdagangan, yang merupakan alasan bahwa mereka tidak menanam lebih banyak dari kebutuhan mereka, meskipun cocoknya serta kesuburan dari tanah mereka.

Perdagangan khusus dilakukan dengan pelabuhan-pelabuhan Aceh dari mana tiba kapal-kapal dagang Aceh yang dimuat dengan padi dan beras dengan mutu yang sangat baik, rotan, damar, lilin dan beberapa ternak …

Caca air, yang dibawa dari Aceh pada tahun 1854 telah memakan banyak korban diseluruh pulau ini dan masih tetap melanda pulau ini dimana-mana, dan saya bertemu dengan hanya sedikit orang yang wajahnya tidak cacat karena penyakit ini, atau yang baru sembuh dari penyakit ini, hal mana sangat merugikan perdagangan dan oleh karena itu terjadi kekurangan kain kafan.

Peradaban penduduk dari pulau Hog atau Pulau Si-maloe, merupakan pengecualian yang menyenangkan dibanding rangkaian pulau-pulau barat yang lain, disebabkan adanya orang-orang Aceh. Keadaan penduduknya tidak memerlukan banyak perubahan, untuk dijadiakan setaraf dengan penduduk Sumatera, darimana sebenarnya pulau ini menjadi bagian darinya. Maka mengherankan, bahwa kedekatan dari penduduk yang lebih beradab ini, tidak memberikan pengaruh yang lebih baik bagi orang-orang Nias, dengan mana mereka telah banyak berhubungan, maka penyebabnya adalah pengaruh buruk dari perdagangan budak dengan Aceh dari Nias, dibawah nama orang gadaian ke daratan Sumatera, yang menyebabkan bahwa orang-orang Nias menganggap setiap orang asing, terutama mereka yang berdagang dengan orang-orang Aceh, sebagai musuh dari kebebasannya. Akan tetapi, prasangka ini sekarang sudah sangat berkurang, disebabkan ikut-campur langsung dari pemerintahan serta ketentuan-ketentuan perbaikan, yang menyebabkan bahwa penggadaian orang tidak lagi diakui.

Diterjemahkan dari bahasa Belanda ke

dalam bahasa Indonesia oleh Jefta Samuel,

Penerjemah resmi dan dibawah sumpah.

Jakarta, 23 September 2003.

Tulis sebuah Komentar