ENSIKLOPEDIA
Dari
HINDIA BELANDA
CETAKAN KEDUA
DIBAWAH REDAKSI
D.G. STIBBE
GURU BESAR LUAR BIASA PADA SEKOLAH DAGANG BELANDA
MANTAN INSPEKTUR TENAGA KERJA DI HINDIA BELANDA
BEKERJASAMA DENGAN
W.C.B. WINTGENS DAN E.M. UHLENBECK
Mantan Inspektur Pengapalan Mantan Kol.Infantri O.E.L
Di Hindia Belanda
BAGIAN KETIGA
N — SOEMA
‘S-GRAVENHAGE LEIDEN
MARTINUS NIJHOFF N.V.v/n E.J. BRI;
1919
PENDAHULUAN
Dalam redaksi terjadi lagi perubahan, karena Tuan S. DE GRAAFF, disebabkan kesibukan lain tidak dapat ikut serta dalam pekerjaan selanjutnya dalam menyusun ensiklopedia, dan setelah diterbitkan bagian kedua keluar dari redaksi, sedangkan penyelesaian pekerjaan harian di kantor redaksi disebabkan keberangkatan bapak W.C.B. WINTGENS awal tahun 1919 telah beralih ke tangan orang lain.
Pengaturan, yang pada saat mengerjakan bagian ini telah diperhatikan, dapat mengacu kepada pendahuluan dari kedua bagian sebelumnya, demi pengawasan atas kata-kata dan nama-nama pribumi, ejaan dari kata-kata Indonesia serta penggunaan dari tanda-tanda bunyi terutama dapat mengacu ke pendahuluan dari bagian kedua. Hanya yang berikut ini merupakan tambahan.
Pada beberapa nama-nama tanaman berbahasa Latin telah, sebagai akibat dari data baru, yang kini dapat digunakan oleh penyusun, ditambahkan dengan nama-nama Indonesia, yang tidak dilakukan dalam bagian pertama. Juga digunakan nama-nama tanaman dalam bahasa Indonesia untuk mengacu kepada nama Latin yang pernah disebutkan, meskipun dengan yang terakhir ini nama Indonesia tidak disebutkan. Ini terjadi dalam hal, dimana nama Indonesia yang tidak disebutkan pada awalnya, harus disebutkan didalam Ensiklopedia.
Acuan yang sering kali dilakukan dalam pembagian administratif dari daerah Hindia-Belanda sering menjadi penyebab tidak adanya kesesuaian antara pemberitahuan yang berkaitan dalam tulisan, yang di berbagai bagian dari ensklopadia dan karena telah dimasukkan pada saat-saat berbeda. Perbedaan-perbedaan ini tidak dipersalahkan kepada kurang ketelitian.
Juga penerbitan dari bagian ini terlambat dikarenakan lebih dari satu penyebab. Penyakit menular yang pada akhir 1918 dan awal 1919 menyerang negara kita, juga menyerang pekerja dari ensiklopedia serta mengakibatkan keterlambatan beberapa bulan. Hubungan yang tidak teratur dengan Hindia Belanda, terutama pada awalnya juga tidak banyak membantu kemajuan yang teratur dari pekerjaan ini.
Untuk mempercepat terbitan dari bagian ini, maka beberapa karangan, yang akan memakan waktu lebih lama, telah dipindahkan kedalam tambahan umum dan didalam bagian ini terdapat penunjukkan kepada tambahan tersebut.
Kepada semua, yang telah bekerja sama dalam penyusunan bagian ketiga ini, redaksi menyampaikan terima kasih.
Desember 1919
REDAKSI
——————-
SILINDOENG – SIMALOER
Menurut kebiasaan Batak bagian perbatasan diserahkan kepada 8 kepala, sebagian dari Hasiboean, sebagian dari marga-marga yang masih merupakan keluarga, yang tidak ikut serta dalam penaklukan. Akan tetapi, hubungan tetap sangat tegang hingga penetapan pemerintahan kami. Hasiboean dibagi lagi dalam marga-marga Hosta Toroean, Hoeta Galoeng, Hoeta Barat, Si Tompoel dan Panggabean; Nai Pospos didalam marga Hoeta Oeroek; Manoengkalit, Toemeang dan Naga Bariang. Didalam si Gompoelon dan Pangaloan dan Djandji Angkola keadaan agak sedikit berbeda; disana tercampur beberapa marga.
Pemerintahan (pribumi) berada di tangan djaihoetan yang diangkat Pemerintah, yaitu kepala-kepala dari beberapa kampung, yang bersama merupakan suatu federasi (kumpulan). Mereka tidak menerima gaji tetap dan hidup dari pendapatan mereka dari pertanian dan berternak, beberapa antara mereka juga dari berdagang. Disamping itu mereka menerima bagian dari denda-denda dan biaya pengadilan yang diputuskan oleh mereka. Penduduk tetap berada dibawah pembagian hukum mereka sendiri dibawah pimpinan pejabat pemerintahan. Keputusan hukum dilakukan oleh berbagai rapat, yang diikuti oleh beberapa djaihoetans, dibawah pimpinan ketua dari asisten-bupati keresidenan atau seorang pengawas kecamatan.
SILOEMPOER, Salah satu saluran air besar di Timur dari Kabupaten Palembang adalah pembuangan air dari danau Lebak Doling yang dengan belokan tajam kearah timur bermuara melalui dataran rawa-rawa rendah di bagian Utara dari titik Lucipara, berhadapan dengan pulau Bangka. Karena telaga Lebak Doling juga memiliki jalur pembuangan air melalui A. Padang, di muara sungai Musi, maka Siloempoer juga dinamakan daerah delta Musi. Arah Barat — Timur tidak sesuai dengan nama ini.
SILOENGKANG. Negeri dekat Sawah Loento dalam kebupaten Pantai Barat Sumatera, dipinggir jalan besar kearah solok. Terletak dalam lembah sempit dan berhutan, melalui mana melingkar jalan kereta api hingga ke terowongan, tidak jauh sebelum Sawah Loento. Karena di lembah yang sempit ini hampir tidak terdapat sawah, maka penduduk terpaksa mencari nafkah ditempat lain. Para wanita membuat tenunan dan wanita-wanita Eropa yang tertarik melakukan usaha untuk meningkatkan cara pencarian nafkah ini, antara lain dengan membentuk koperasi, yang membeli bahannya dan menjual hasil tenunan dengan harga tetap kepada pedagang keliling, atau ditempat-tempat penjualan tetap; sehingga Siloengkang telah menjadi terkenal sebagai pusat hasil tenunan.
SIMA. Daerah ini yang masih merupakan bagian Soemoehoonans dan bagian dari kebupaten Bojolali, kecamatan dengan nama yang sama, kabupaten Soerakarta. Terletak di kaki timur dari gunung Merbaboe; dan memiliki tiga kecamatan dengan nama sima, Tari dan Sambi dan pada akhir 1905 memiliki penduduk sebanyak 32.000 jiwa antar lain +/- 30 orang Eropa dan 15 orang Cina.
SIMALANGGANG, Negeri dengan pasar penting di daratan Sungai Baringin (lihat PAJO KOEMBOEH). Terdapat balai terkenal, yaitu Balai Gadang, dimana datoek nan baranam (ke enam kepala rakyat) dari Goeroen, Loeboek Batingkap, Tata, simalanggang. Piobang dan Sungai Baringin berkumpul sejak berabad-abad lalu dan melakukan pengadilan hukum untuk kasus-kasus, dimana para pihak tidak setuju dengan keputusan dari kepala rakyat dari salah satu ke-enam negeri. Ruang pengadilan ini berada di udara terbuka, disini tidak di izinkan membangun gedung (lihat BALE): karena menurut penduduk: “atapnya adalah langit, lantainya adalah tanah, gunung adalah temboknya dan tikarnya adalah lapangan rumput”. (:L.C. Westenenk, Negeri Minangkabau, Meded. Enc. Bureau VIII 1915).
SIMALOER. Nama Melayu untuk pulau terbesar dan paling utara dari rangkaian kepulauan Nias, yang mengikuti pantai Barat Sumatera, berakhir di bagian Selatan dengan pulau Enggano. Dalam bahasa pribumi dinamakan Simoeloel; secara Aceh dinamakan Simeuloee, yang tercantum dalam Lembaran Negara, tetap dalam bahasa Aceh sebenarnya bernama Poelo Oe, yaitu pulau kelapa, suatu nama yang diperoleh karena banyaknya pohon kelapa yang terdapat di pulau-pulau kecil tersebut. Menurut penduduk Simaloer serta penduduk daratan Sumatera, maka nama sebelumnya adalah Maroes. Peta-peta kelautan Inggris memberikannya nama Pulau-Hog. Pada beberapa peta diberikan nama salah, yaitu Pulau babi, yang merupakan salah satu pulau Tapah kearah tenggara Simaloer. Panjangnya 54 mil laut, lebar 5 hingga 14 mil, dan +/- 80 G.M.’ luas, dan terletak barat laut–tenggara antara 2020’ dan 2057’ N.B.dan 95043’ dan 96031’ O.L. Bagian pulau yang menghadapi Sumatera memiliki tiga teluk yang indah; dari Sinabang, Telok Dalaman Sibigo, yang dengan mudah dapat menampung kapal-kapal terbesar dalam jumlah yang banyak. Sejak tahun 1916 Teluk Sinabang telah dilengkapi dengan rambu-rambu dan pencahayaan, sehingga memungkinkan kapal-kapal untuk berlabuh di malam hari. Uraian dari teluk-teluk tersebut dan pantainya, serta pulau-pulau disekitarnya, lihat Panduan Kelautan untuk Kepulauan Hindia-Belanda 1916 Bagian I hal. 210-220. Pedalaman sangat teraksidensi, tetapi puncak tertinggi yaitu Dolo Sibao, hanya setinggi 567 M (atau menurut Panduan kelautan 625 M). Daerah perbukitan ditutupi hutan yang kaya jenis pohon yang banyak menimbulkan embun. Sungai-sungainya bergurat dalam tetapi tidak cocok untuk pelayaran. Desa-desa penduduk terletak sepanjang pantai atau didekatnya di hulu sungai, dan pantai baru-baru ini merupakan satu-satunya hubungan dengan daratan, dengan beberapa jalan setapak yang melintasi pulau, dari Salang ke Sigoele. Baru dalam sepuluh tahun terakhir dilakukan pembangunan jalanan gerobak Sinabang-Lasikin, pembuatan jalan rumput Salang-Lambaja dan Sibigo-Sembilan, serta hubungan daratan antara Sinabang dan Telok Dalam. Gempa bumi sering terjadi, dan tanah amblas terjadi disana-sini sepanjang Sinabang dan Teluk Dalam. (Lihat Laporan Kol. 1907).
Pulau ini kaya akan kerbau (8 sampai 9 ribu), yang dibedakan dengan tidak adanya rambut jambul pada ujung buntutnya.
Sewaktu bulan Nopember 1854 residen F.H.J. Netscher
dari Tapanuli mengunjungi Simaloer, dia mengira menjadi tamu Eropa pertama. Dari uraiannya dalam Majalah Hindia-Belanda Ilmu Bahasa, Tanah dan Bangsa, Batavia 1856, dapat disimpulkan, bahwa pada jaman tersebut unsur Aceh dan Melayu telah sangat berpengaruh dan bahwa seluruh penduduknya telah di islamkan; tetapi dari ceritra-ceritra bagaimana Islamisasi itu terjadi, harus diputuskan, bahwa sejak saat itu belum dua abad berlalu.
Tentang hubungan dengan Aceh, Netscher memberitahukan bahwa : ”hanya Sigoeli dan Lemawa yang tidak membayar pajak kepada Aceh, tetapi setiap tahun mengirim kapal kepada Sultan Aceh bermuatan minyak, kelapa dan rotan, sebagai bukti kehormatan, menurut mereka, tetapi menurut pendapat saya, dengan harap untuk tetap bersahabat”. Di Meulaboh tinggal seorang Panghoeloe side, yang mengaku sebagai kepala Poelo Oe.
Lembaran Negara 1880 no. 149 telah membawa Simaloer
secara administratip dibawah kekuasaan gubernur Aceh, dan pada tahun 1881 Asisten-Residen K.F.H. Van Langen melakukan perjalanan kesana untuk mengadakan penelitian tentang adanya batu bara di pegunungan dekat Sinabang. Perjalanan ini memberikannya bahan untuk menyusun laporan “Pulau Simaloer” dalam Majalah Persatuan Ilmu bumi Hindia-Belanda (Tahun ke-1 (1881) bag. III, hal. 1 dan “Suatu perjalanan ke ….. dan seterusnya.” Dalam majalah Ilmu Bahasa, Tanah dan Bangsa Hindia-Belanda, Bagian XXVII.
Sejak itu Simaloer ditinggalkan lagi, sampai dalam tahun 1899 Tapa Toean mendapatkan penempatan militer dibawah letnan H. Colijn, yang juga bertindak sebagai penguasa sipil dari kebupaten Tapa Toean, yang juga mencakupi Simaloer. Dalam Nopember 1902 asisten residen mayor Van Daalen melakukan perjalanan ke pulau tersebut, untuk mencari daerah yang sesuai untuk seorang pengusaha yang merencanakan mendirikan penebangan kayu, dan pilihan jatuh pada suatu daerah pada hutan-hutan disekitar teluk Duabang. Dalam bulan Maret 1903 diberikan izin penebangan sementara, dan beberapa tentara dibawah pimpinan seorang sersan ditempatkan di Duabang, demi keselamatan penebang, pada awalnya 50
orang Cina.
Pada tanggal 7 September 1904 tempat tenda tersebut diserang. Beberapa orang meninggal dan semua kesepuluh senapan hilang, tetapi segera direbut kembali.
Penelitian yang dilakukan oleh Ir. Jansen pada tahun 1902/3 tentang adanya batu bara di pulau tersebut, tidak menghasilkan sesuatu yang baik.
Mayor Van Daalen diperjalanan ditemani oleh pengawas Westenenk, yang mengambil kesempatan ini mengumpulkan bahan untuk suatu “Daftar kata-kata Simaloer, yang diterbitkan dalam sumbangan T.L. & Vk. V. N.I. bagian 56, hal. 302, dan suatu karangan dengan judul “Simaloer: dalam terbitan ke-1 dari tahun 1904 dari Majalah Persatuan Ilmu Bumi Kerajaan Belanda.
Konsesi-konsesi yang diberikan selanjutnya pada tahun 1906 diserahkan kepada Perusahaan eksplotasi hutan Aceh, dan pada bulan Oktober 1910 mereka pindah ke Perusahaan eksplotasi hutan Jawa, yang sekarang telah menempati Sinabang. Di tempat penggergajian listrik mereka, raksasa-raksasa hutan (kadang-kadang dengan tinggi 75 – 100 M) ditebang, ditarik mengikuti cara-cara Amerika, dan seterusnya diangkut dengan rel kereta (terutama pohon-pohon rasak Shorea barbata Brandis) ke penampungan khusus yang digali oleh mesin pengali, dan dijadikan balok dan papan.
Pada tahun 1906 di Simaloer utara masih diberikan izin penebangan kayu kepada seorang pengusaha, yang bermukim di Sibigo. Konsesi mereka dialihkan kepada Perusahaan Kayu Simaloer Utara pada tahun 1912.
Suatu penggabungan antara perusahaan hutan Jawa dan Perusahaan Penebangan Kayu Simaloer Utara terjadi dalam tahun 1917.
Dalam bulan Oktober 1907 di Sinabang, berkaitan dengan dibukanya pelabuhan untuk perdagangan umum, ditempatkan penerima hak-hak tol, juga dengan maksud untuk membantu penguasa sipil dari Tapa Toean dalam pemerintahan pulau tersebut. Pos militer ditutup dan militer digantikan dengan polisi bersenjata. Dalam tahun-tahun berikutnya, beberapa pulau-pulau kecil yang terletak disekitar pulau utama dan ditumbuhi pohon kelapa, darimana berasal kopra yang diekspor ke Penang dan Marseille sejak tahun tujuhpuluhan, diserahkan kepada orang-orang Eropa dengan melalui pemberian konsesi pertanian. Ini terjadi berturut-turut dengan Pulau Panjang, Pulau Babi, Pulau Lasiah dan Pulau Silaoet dan Ketjil.
Pada tahun 1912 Simaloer dijadikan kabupaten tersendiri, yang secara resmi disebut sebagai “Simeuloee”, dibawah seorang pengawas yang ditempatkan di Sinabang; dan pada tahun yang sama dibangun hubungan telegram dengan dunia luar melalui Tapa Toean dan Singkel.
Sinabang memiliki penduduk yang terdiri dari orang-orang Cina, Melayu, Aceh, Jawa, dan kiranya tidak ada orang-orang pulau. Bagian dari Sinabang, yang ditempati oleh perusahaan “hutan Jawa”, merupakan suatu kota-industri tanpa ciri-ciri Hindia-Belanda, dengan jalan-jalan sempit. Sepanjang jalan-jalan ini berdiri tempat penggergajian, gudang, kantor-kantor, dan rumah tinggal papan untuk pegawai perusahaan, kebanyakan dari Amsterdam. Tempatnya memiliki penerangan listrik, serta saluran air mandi dan rumah sakit yang agak besar dari perusahaan untuk melayani kuli-kuli kontrak perusahaan.
Kabupaten ini meliputi daerah Tapah (nama lainnya adalah Oelao atau Defajan), Simoeloel, Lekon, Salang, dan Sigoele (sichoele), dan pada tahun 1912 dengan masing-masing: 5350, 2660, 471, 314 dan 2067 penduduk, seluruhnya 10862 penduduk. Dalam majalah Persatuan Ilmu Bumi Kerajaan Belanda 1912 no.1, disebutkan oleh J. Kreemer, bahwa penduduk kini berjumlah 16000 jiwa. Mereka belum mengenal banyak keperluan, hidup dari bersawah dan berladang, dan sagu apabila kekurangan beras, selanjutnya dari kelapa, ikan, mengumpulkan hasil hutan dan penjualan kerbau, yang berkembang biak dengan baik di daerah pantai dan daratan pantai. Banyak penduduk pulau juga mendapat kerja sebagai buruh harian pada J.B.E.M di Sinabang atau hutan, atau pada penebangan kayu di teluk Sibigo.
Penduduknya terbagi menjadi dua: dari ketiga daerah yang disebut pertama adalah penduduk asli dan menggunakan bahasa ‘leng bano” (yaitu “bahasa daerah”), di Sichoele dan Salang yang menganggap bahwa mereka berasal dari Nias sehingga menggunakan bahasa “wali banoeah” (yang juga berarti bahasa daerah). Umumnya semua memiliki pengetahuan tentang bahasa Aceh dan Minangkabau. Tentang bahasa-bahasa, lihat H.T. Damste : “Naskah Simaloer” dalam Sumbangan T.L. dan Vk.v. N.L., bagian 71 (1916).
Susunan rakyat di kedua kelompok daerah belum cukup diselidiki sehingga adanya kesesuaian dan perbedaan belum dapat diketahui. Yang pasti adalah bahwa di semua tempat penduduk dibagi dalam suku, bahwa anak-anak menjadi milik suku ayah mereka dan bahwa istri mengikuti suaminya. Kepala dari setiap suku disebut datoe, Di setiap daerah salah satu datoe ini diberi gelar pamoentja, dan di Simaloer bahkan terdapat dua pamoetja; dan yang lain bernama malintang. Para pamoetja adalah “primus inter pares” dan berhak atas sebagian besar pendapatan daerah. Disampingnya kepala penghuni orang-orang asing menjadi kepala juga, yaitu datoe dari “suku dagang”.
Orang asing ini: orang-orang Aceh dan Minangkabau, merupakan orang-orang yang suka memerintah, yang sebagai orang Moslem yang berpengalaman di dunia luar sangat memandang rendah orang-orang asli pulau yang sederhana. Mereka diburu orang-orang Aceh, dikumpulkan dalam pagar yang bundar dan menjual mereka sebagai budak ke seberang. Ini terhenti setelah seluruh penduduk pulau menjadi Moslem, tetapi rasa lebih tinggi mereka tetap bertahan dan perasaan itu diperlihatkan dalam cara bertindak, sehingga bagi orang ketiga terlihat seakan-akan datoe dari suku dagang adalah raja dari daerah ini. Penduduk pulau yang asli mengakui kelebihan mereka. Mereka menerima pajak beras, yang disumbang oleh penduduk yang telah menikah sebanyak 1 nali per orang dan setiap tahun. Dalam Sumbangan T.L. dan Vk.v. N.L. D1, 55 hal.218 dikatakan bahwa kepala-kepala orang asing di Tapah dan Simaloer adalah keturunan perampok laut, yang dulu meraja-lela disana, sedangkan kepala-kepala dari daerah-daerah lain adalah awak kapal dari Pangoeloe Sido di Meulaboh, yang diperintahkan oleh Sultan Aceh. Pada tahun 1880 Bupati Netscher menganggap kepala-kepala orang asing sebagai tuan-tuan tanah yang sah. Juga pada tahun 1880 pemerintah kami terus mendorong maju penguasa-penguasa baru tersebut, dengan tidak mengindahkan para pamoentha. Malintang dan datoe-datoe pribumi lain. Datoe dagang dianggap sebagai satu-satunya penguasa yang sebenarnya, meminta mereka untuk menanda-tangani keterangan singkat, serta memberikan mereka hasil (hak-hak ekspor dan impor), yang sebenarnya sama sekali bukan merupakan hak mereka.
Setelah kesalahan ini diketahui, maka mereka ditiadakan
oleh kami, dan kepala orang asing di Tapah ditenangkan dengan menyerahkan kebon kelapa yang ditanam oleh penduduk asli.
Pada saat ini ganti rugi tersebut untuk pendapatan-hasil yang ditiadakan, dimasukkan kedalam kas daerah, dimana gaji untuk kepala-kepala orang asing, dan sejumlah kecil para pamoentja dibayarkan. Jumlah-jumlah untuk “kepala daerah” dari Tapah, Simoeloel, Lekon, Salang dan Sichoele masing-masing, 50,40, 15, 15 dan 15 gld per bulan, disamping menerima pajak hutan sejumlah 100, 40, 30, 20 dan 30 gld. Para pamoentja di daerah tersebut setiap bulan menerima 10, 10, 5, 5 dan 10 gld. Gaji.
(Tulisan lengkap terdapat dalam Majalah Kolonial, 1997, Juli, hal. 917.)
SIMANTO (Aceh). Lihat SHOREA GLAUCA.
SIMAR BANTAJAN (Melayu) Drybalanops eromatica Gaerin, Kel. Dipeterocarpacene. Pohon tinggi dari Sumatera dan Kalimantan, yang menghasilkan kapur barus Kalimantan. Hasil lain dari pohon ini adalah kayu untuk pembuatan rumah dan perabotan dan terutama untuk membuat peti-peti dan koper. Untuk mendapatkan kapur barus, pohon ini harus ditebang, sehingga di banyak tempat pohon telah sangat langka. Tidak semua pohon menghasilkan kapur barus dan semakin sedikit isinya (di lubang-lubang batang pohon), maka semakin baik mutu kayunya. Kayunya berat, halus, tahan lama. S.g. = 0,770. Selanjutnya lihat KAPOER BARUS.
SIMAR PEGOELINGAN. Lihat MUSIK DAN ALAT-ALAT MUSIK.
SIMARASOK. Negeri di Baso. Pantai Barat Sum. (lihat AGAM LAMA)
SIMAWANG. Negeri di timur laut tepi danau Singkarak di
Pantai Barat Sum. Raffles mencapai tempat ini pada tanggal 22 Juli 1918, dimana dia mengunjungi tempat-tempat utama yang telah rusak dari kerajaan Minangkabau: Soeroeaso dan Pagar Roejoeng (Tigo Balai). Sekembalinya ke Padang dia menemukan Oembilin, dimana terdapat saluran pembuangan danau tersebut, batu dengan tulisan Hindoe-Jawi (Raffles, Memoir hal.301; Oudh. Versl. 2de kw. 1912, hal.47, No.42). Batu itu kini terletak di pasar kecil di stasiun kereta api Oembilin. Atas permintaan penduduk maka Raffles memasang bendera Inggris di Simawang serta meninggalkan 12 serdadu Bengal untuk menjaganya.
Bapak Salmon, Residen Inggris di Padang dari tahun 1816 – 1817, ditempatkan di Simawang, tetapi dia tidak pernah sampai ke tempat tersebut karena pencabutan kembali, dengan penyerahan kantor-kantor Perusahaan yang lama kepada orang-orang Belanda (22 Mei 1810 bendera Belanda dinaikkan di Padang). Dalam hubungan adat, maka Simawang merupakan bagian dari Tanah Datar (kabupaten Fort van der Capellen), sesuai re-organisasi bagian barat pada tahun 1913 (vgl. PADANG PANDJANG).
SIMELOENGOEN (= kesendirian, ditinggalkan, sedih), nama dari kabupaten dari propinsi Simeloengoen dan Tanah Karo, pemerintahan Pantai Timur Sumatera, dengan ibu kota Pematang Siantar (lihat disana) juga ibu kota propinsi/Kabupaten ini meliputi daerah-daerah Siantar, Tanah Djawa, Raja, Panei, Poerba, Dolok Silau dan V.Koeta. Bersama luasnya adalah 4.000 KM2, dihuni oleh +/- 65.000 orang, dan bagian terbesar dihuni oleh suku Timoer-Batak, dibagi dalam 4 kepala marga, yaitu Sinaga, Damanik, Poerba dan Seragih. Anggota-anggota suku tidak hidup berkelompok, tetapi larangan menikah masih tetap berlaku untuk waktu yang lama. Agama kafir digerogoti oleh misi Rijn dan juga kaum imigran Islam.
Kabupaten berbatasan sebelah timur laut dengan tepi danau Toba, dan dari situ membentang ke arah Timur ke dataran rendah yang berbatasan dengan Asahan, Batoe Bara, dan Padang. Bagian Barat seluruhnya terdiri dari gunung-gunung yang berdiri sendiri; di Selatan ada Si Manoek-Manoek (2200 M), puncak tertinggi dan namanya sering digunakan untuk seluruh rangkaian gunung, yang membentuk perbatasan dengan Oeloean dan selanjutnya di Parapat di Dolok Marbalatoek (1650 M) dan batoe Lo…
Diterjemahkan dari bahasa Belanda ke
dalam bahasa Indonesia oleh Jefta Samuel,
Penerjemah resmi dan dibawah sumpah.
Jakarta, 23 September 2003