DONGENG, CERITERA TURUN-TEMURUN, TEKA-TEKI DAN PERMAINAN

DONGENG, CERITERA TURUN-TEMURUN,

TEKA-TEKI DAN PERMAINAN

OLEH

Edw. J A C O B S O N

——————–

Simaloer, pulau paling utara dari pulau-pulau sepanjang Pantai Barat Sumatera, dihuni oleh suatu suku, yang bahasanya, adatnya dan peralatannya untuk sebagian besar diambil dari kaum imigran dari Minangkabau. Oleh karena itu, maka pengaruh terhadap ceritera-ceritera rakyat tidak dapat dihindarkan. Akan tetapi, terdapat juga unsur-unsur Aceh dan Nias, disebabkan kaum imigran yang terlebih dahulu dari daerah-daerah ini. Berikut ada beberapa kisah, yang asal-usulnya tidak sulit ditebak.

Poetih Ledan atau Asal-usul Buaya

Poetih Ledan sudah lama sekali hidup. Meskipun dia telah menikah, dia tidak memiliki anak; yang sangat menyedihkan bagi dia.

Untuk mengisi waktu, dia membuat mainan dari tanah liat, yang memiliki bentuk mahluk hidup. Untuk tulang punggung dia menggunakan urat daun kelapa, sedangkan matanya dibuat dari sepasang torong pare 1) Setelah selesai, dia tidak tahan dan mengeluh : “Ach, coba saya mempunyai anak serupa mainan ini, maka saya sudah puas.”

Malam hari mainan itu hilang dan segera diketahui bahwa Poetih Ledan telah hamil. Pada saat waktunya datang, dia melahirkan anak, yang sesuai permintaannya adalah serupa dengan mainan yang dulu dibuatnya.

Dia meletakannya di tempat ayunan, tetapi anak itu segera menangis dan memanggil : “Ibu, jangan taruh saya di ayunan, tetapi letakkan saya didalam langgoen (pelepah pohon pisang) dengan sedikit air”. Ibu memenuhi permintaannya, lalu memberinya makan.

———————–

1) buah jenis Solanum.

Anak itu tumbuh dengan pesat sehingga pelepah pohon pisang terlalu kecil untuknya. Maka anak itu mengatakan: “Ibu letakkan saya di air di sawah”, dan ibunya memenuhi permintaan ini. Setiap hari dia mengantar makanan untuk anaknya yang tumbuh bertambah besar. Pada saat genangan air disawah menjadi terlalu kecil untuknya, ibunya, atas permintaan anak tersebut, membawanya ke sungai. Setiap hari dia meletakkan makanan ditepi sungai dan memanggil anaknya, untuk mengambilnya, hingga pada suatu hari anak itu menggigit kaki ibunya.

Pada saat itu sebatang pisang mengapung di sungai dibawa arus dan ibu yang sedang marah itu mengatakan: Batang pisang, anak saya telah menggigit saya; hukuman apa yang harus dia dapatkan?”. Tetapi batang pisang merasa dendam terhadap manusia, karena dia telah ditebang serta memakan buahnya, oleh karena itu dia memanggil dengan marah: “Anak, makan saja ibumu!”.

Suatu batang pohon besar lewat dibawa oleh arus melewati tepi sungai dan ibu itu bertanya lagi: Batang pohon, anak saya telah menggigit saya, hukuman apa yang harus diberikan kepadanya?”. Tetapi batang pohon marah terhadap manusia, karena mereka telah menebangnya dan melemparnya di sungai; sehingga dia tidak merasa kasihan pada wanita itu dan mengatakan: “anak, makan saja ibumu!”

Lalu lewat seekor pelandoek dari hutan, untuk minum ditepi sungai, dan ibu itu memanggil lagi: Pelandoek, anak saya telah menggigit saya, hukuman apa yang harus saya berikan?” Pelandoek yang arif itu mengatakan: “Anak, kesini menepi, sehingga saya dapat melihatmu!”. Anak itu memenuhi permintaan ini dan menepi. Akan tetapi segera setelah pelandoek melihat, mahluk apa yang dia hadapi, dia mengatakan kepada ibu itu : “Lari cepat, ini bukan anakmu, tetapi binatang!”

Dan ibu tersebut mengutuki anaknya, dan mengatakan: “Saya mengutuk kamu; kamu akan hidup didalam air dan tidak merasa nyaman di darat”.

Begitulah, asal-usul buaya, karena anak Poetih Ledan tumbuh dewasa dan mendapat banyak keturunan, yang menghuni air.

1)       Daun pelindung pohon pisang

2)       Karena pelanduk tidak terdapat di Simaloer maka ketahuan bahwa kisah-kisah berasal dari Melayu dimana banyak terdapat kisah tentang pelanduk

Salah satu pahlawan dalam ceritera rakyat Simaloer adalah Lavoe, atau dinamakan Nene Lambore. Dia memiliki badan raksasa serta memiliki kekuatan sihir. Dalam hikayat Lavoe biasanya disebut pulau Nias, maka sangat mungkin bahwa hikayat ini juga berasal dari Nias. 1)

Hikayat Lavoe.

Pada suatu hari Lambore terbang dari Nias ke Aceh, untuk mencari keberuntungannya. Waktu malam tiba, dia membuat tempat tidur dari daun-daun, tetapi karena tidak mengenal tumbuh-tumbuhan disana, dia menggunakan lalateng 2). Pada saat dia mau tidur, dia kaget dan meloncat karena mengalami gatal yang sangat: “Orang-orang disini jahat”, pikirnya, “apabila daun-daunnya saja sudah sejahat ini”. Lalu dia meninggalkan daerah itu dan terbang ke Simaloer.

Disana dia mendarat di Padang si entong dan

menggunakan kekuatan sihirnya dia berhasil merebut penumbuk padi emas dari seorang setan. Alat berharga ini, menurut hikayat, masih tertanam ditempat itu, tetapi tidak ada seorangpun yang dapat menemukannya.

Lambore juga menciptakan se-ekor buaya putih, yang dilepaskan di empang dekat rumahnya. Setelah keberangkatannya ke Nias, kemana dia lari setelah suatu perselisihan dengan raksasa lain, bernama Lasinga, buaya putih berhasil memiliki anak Lambore. Apabila anak ini pergi berburu dia membawakan korban untuk binatang tersebut, terdiri dari sirih dan dengan menyembah mengatakan: “Apakah itu kamu, buaya putih, yang diciptakan oleh ayah saya, katakan dimana saya bisa mencari mangsa yang baik”. Kemana buaya menunjuk arah dengan mulutnya, ke arah sana anak itu pergi berburu dan sudah pasti berhasil mendapatkan kerbau liar. Juga bagi keturunan lain dari Nene Lambore buaya putih itu menjadi peramal yang baik, hingga pada suatu hari dia hilang dan tidak pernah dilihat lagi.

————————

1)    Hikayat lain tentang Lavoe disebutkan dalam : Pulau Si Maloer, K.F.H. van Langen, Majalah Persatuan Ilmu bumi Hindia-Belanda, Tahun ke-1, bag. III hal. 8

2)    Melayu: djilatang (LAPORTEA), tanaman dengan bulu-bulu menusuk.

Hikayat berikut terjadi di Aceh dan kiranya diambil dari sana.

Raksasa dari Oeno

Suatu hari datang seorang lelaki dari Tepi 2) yang bernama Oeno, yang begitu besar dan kuat, sehingga belum ditemukan tandingannya. Dia mencari istri yang sesuai untuk dia di seluruh pulau Simaloer, tetapi dimana-mana dia tidak berhasil menemukan satu dengan ukuran badannya yang sama. Kecewa dia meninggalkan pulau dan berlayar ke tanda Bajoe, untuk mencoba keuntungannya disana, karena keinginannya akan seorang istri sangatlah besar. Akan tetapi, usahanya tidak membuahkan hasil apapun, yang membuatnya sangat marah. Dia mengancam akan menghancurkan pulau dan membunuh semua penduduknya, jika keinginannya tidak dikabulkan.

Karena ketakutan akan kemarahan Oeno, penduduk mencari akal. Sebuah bukit berbatu didekat desa mereka dibuat seperti bentuk manusia dengan mengenakan pakaian perempuan; mereka juga ingat untuk membuat lubang yang besar didalam batu karang dalam bentuk kemaluan wanita.

Pada saat Oeno muncul lagi, mereka menunjuk ke bukit, dan mengatakan: “Disitu ada wanita yang cukup besar untuk kamu!”.

Raksasa itu, yang sudah buta dikarenakan berahinya yang telah lama tidak terpenuhi, menabrak batu karang itu, yang dia kira adalah wanita, dengan maksud untuk memeluknya. Tetapi, dia begitu terburu-buru hingga kemaluannya tertabrak ke batu karang dan sebagai akibatnya meninggal dunia.

Dari lubang di batu karang, dimana sperma terhambur, mengalir, menurut hikayat turun-temurun, sebuah air mata hingga kini, dimana airnya sangat beracun, sehingga tidak ada yang berani mendekatinya.

Menurut ceritera bukit ini terletak antara Tapa Toean dan Si Kandang di tanah Gajoe, sedangkan di Kroeng Kaloeat masih dapat dilihat paha besar dari Oeno, yang menjadi jembatan menyeberangi sungai.

1)     Terletak diujung pantai timur laut Simaloer. Dasar batu karang menyebabkan langkah-langkah kaki berdengung karena itu nama (padang-entong-entong) bergema kembali.

2)     Tapi pada umumnya dimaksudkan pantai barat Sumatera, dan lebih khusus yang dimaksudkan adalah Aceh.

Ceritera berikut ini dikisahkan kepada saya oleh Kapten Ph. Van der Linde, yang mencatatnya di Simaloer.

Oeli, Garoeda dan Tikus

Di daerah Lakon di Simaloer hidup Oeli, yang memiliki empat orang anak. Pada suatu hari putera tertua bermain dimuka rumah, anak tersebut dirampas oleh se-ekor Garuda dan diterbangkan ke pulau Sa Laut. Disana dia mendarat di pohon ketapang dan memakan mangsanya.

Setelah beberapa waktu Garuda tersebut merampok lagi satu anak dari Oeli dan hingga tiga kali burung raksasa ini berhasil mengambil anak, sehingga hanya tertinggal satu anak yang masih hidup.

Sang ayah yang takut juga kehilangan anak terakhir ini, mengikatnya dengan tali panjang di kaki. Garuda muncul lagi dan mengambil anak terakhirnya, Oeli menangkap ujung tali, masuk kedalam perahunya yang telah siap dan mengikuti perampok tersebut. Tiba di pulau Sa Laut dia melihat, bahwa burung tersebut mendarat di pohon ketapang. Sewaktu dia masih memikirkan bagaimana dia dapat membalas dendam atas garuda itu, muncul sekelompok besar tikus. Pemimpin dari tikus-tikus ini menanyakan apa yang dipikirkannya. Oeli mengeluh tentang masalahnya dan meminta nasehat, bagaimana caranya membunuh burung perampok itu.

Raja tikus menawarkan bantuannya dengan satu syarat, bahwa dia akan menghadiahkan 500 buah kelapa dan bahwa mereka diizinkan tinggal di pulau Sa Laut tanpa diganggu. Oeli dengan senang hati menyetujui syarat ini, setelah mana semua tikus memanjat pohon. Karena terlihat akan ada badai berat, raja tikus meminta kepada burung Garuda apakah mereka dapat berlindung dibawah sayapnya, yang di izinkan oleh burung itu. Tetapi pada saat itu tikus-tikus menggigit putus pasak sayap.

Setelah badai berlalu, mereka meminta untuk mempertunjukkan keahlian terbangnya, karena mereka sangat ingin melihat terbangnya yang indah.

Sementara itu Oeli membuat api dibawah pohon. Burung Garuda yang merasa tersanjung, memenuhi permintaan tikus-tikus, akan tetapi pada saat dia mencoba terbang dia jatuh kebawah dan mati dalam api yang dibuat Oeli.

Oeli memberikan jumlah buah kelapa yang dijanjikan dan sejak itu tikus-tikus itu hidup tanpa diganggu di pulau Sa Laut, dimana hingga saat ini masih dapat ditemukan banyak tikus.

———————

Teka-teki

Teka-teki, yang berlaku di Simaloer, jelas kelihatan asalnya dari tanah Minangkabau. Nama yang digunakan adalah dalam bahasa Minangkabau, yaitu tako tako. Kadang-kadang teka-teka ini sangat dicari; di pihak lain mereka mengingatkan kita pada teka-teki yang terkenal dengan kami, yang merupakan milik umum dari semua suku bangsa. Suat contoh dari kelompok ini dalah teka-teki berikut, disini disampaikan dalam dialek Devajan 1), dengan penambahan terjemahan kata per kata:

Nga       mesa      ata       me   lavan laven

Adalah    se        orang     di   pagi hari

Aka toengki-toengki ne : techel valal doevo

Empat tongkat untuk berjalan di pertengahan hari (matahari) dua

Toengke2 ne: ateloe valal lelarvo

Tongkat berjalan itu rendah matahari (hari) tiga

Toengke2 ne

Tongkat berjalan adalah .

Dengan ini manusia digambarkan pada umur-umur yang berbeda, sebagai anak merangkak, anak berjalan dengan tangan dan kaki (empat), sebagai seorang dewasa atas dua kaki, dan sebagai orang manula dengan tongkat penopang.

Berikut teka-teki berikut :

Nga sara kebaoe- oe ito ito,

Tadoe-tadoe ne alarih kebao- oe

Ataven aleerii, tadoe-tadoe ne ba-ba euren:

Kebaoe- ne maning-maning tadoe-tadoe ne alarih.

Tanduk kerbau kecil saya panjang; karbau saya sangat gemuk (besar), tidak ada tanduk: kerbau saya kurus dengan tanduk panjang.

Pemecahan dari teka-teki ini terletak dalam ketiga tahap bulan, awal bulan, bulan purnama dan bulan berakhir.

Contoh lain yang tidak begitu jelas adalah yang berikut :

Entoe-entoe pa’e datan

Palu pahat hutan

Dengan kata lain, palu dari kayu, yang digunakan di hutan untuk mengerjakan kayu. Jawabannya adalah: vane , yaitu buah nanas, karena bentuk buah ini hampir serupa dengan palu kayu.

1) Kerajaan lama Devajan mencakupi bagian tenggara dari Simaloer, dan letaknya kira-kira sama dengan Tapah sekarang.

Diperlukan banyak khayalan untuk memecahkan teka-teki berikut :

Koemachal entoend, koemachal, entoeng, besang ilia ven, bangon ioe-ioe kabing

Terdengar bunyi-bunyian yang tidak jelas, bunyi kacau, turun, wajah buntut kambing.

Dengan kata lain, pada saat jatuh suatu bunyian dan mempunyai wajah dan buntut dari kambing, Jawabannya: liva-liva == daun luar dari batang bambu, dimana ujung batang yang bengkok dapat disamakan dengan buntut kambing.

—————————-

Permainan

Salah satu permainan untuk menghabiskan waktu adalah rimoe, rimoe dari Melayu atau permainan macan, yang sama dengan permainan kitiran angin kami.

Dalam banyak rumah diagram terdapat di lantai papan dan di kebanyakan surau. Papan-papan lepas tidak digunakan untuk permainan ini. Kedua segitiga, yang terletak diluar segi-empat, dinamakan alas, yang dalam bahasa Simoeloer berarti pantai, tetapi disini rupanya berarti hutan dalam bahasa Melayu.

Permainan ini dimainkan dengan 24 buah ana sebagai

pihak satunya dan 1 atau 2 raja (rimoe, juga rajo) sebagai lawan. Sebagai bidak digunakan batu-batu, biji atau yang serupa. Maksudnya adalah mengurung raja, sehingga dia tidak bisa jalan sama sekali.

Permainan ini dimulai dengan menempatkan satu atau dua raja ditengah-tengah papan dan 8 bidak di titik-titik persilangan disekilingnya. Raja mulai pertama kali dengan menggantikan satu bidak dengan menempatkan silangan yang terletak dibelakangnya jadi meloncatinya, dan mengambil bidaknya. Pihak lawan kemudian menempatkan satu dari ke 16 bidak, yang masih berada di tangannya, atas salah satu titik persilangan. Raja dapat meloncati satu atau lebih bidak dan mengambilnya, tetapi dilarang meloncati jumlah yang genap. Maka lawan harus berusaha untuk menempatkan bidak-bidaknya sedemikiaan rupa dan selanjutnya ditarik, sehingga tidak terdapat jumlah bidak yang genap pada satu garis. Selama lawan masih memegang bidak, dia tidak dapat memindahkan bidak-bidak yang ada di papan; setelah semua bidak ditempatkan, maka setiap kali satu bidak pada satu garis digerakkan dari persilangan yang satu ke yang lain. Apabila raja terjepit atau semua bidak lawan telah dirampas, maka permainan berakhir.

Apabila bermain dengan dua raja, maka mereka hanya dapat meloncati satu bidak saja tiap kali dan mengambilnya. Pihak raja, pada gilirannya, hanya dapat bermain dengan satu raja saja pada saat yang sama.

Satoel, permainan yang berasal dari Melayu, memiliki banyak persamaan dengan permainan dam.

Gambar dibawah ini meperlihatkan diagram, yang digunakan.

Dimainkan dengan bidak dengan dua warna atau macam, jumlah 46. Pada awal permainan semua persilangan harus diduduki, setiap permainan menutupi setengah dari papan; di baris tengah dibagian kiri ada 4 bidak dari pihak yang satu dan kanan 4 bidak dari pihak lawan.

Harus diusahakan, pada setiap giliran, untuk merampok sebanyak mungkin bidak dari pihak yang lain. Bidak dapat dirampas dengan cara melompati, apabila ditempatkan pada garis lurus dan dibelakangnya kosong.

Meloncati lebih dari satu dalam satu gerakkan di izinkan, apabila ada tempat-tempat kosong diantaranya. Pergerakkan kedepan, kebelakang, kesamping kiri dan kanan diizinkan, asal antara dua bidak terdapat persilangan yang kosong. Bidak dapat juga digerakkan kearah yang sama, setiap kali dari persilangan yang satu ke yang lain. Yang kalah adalah yang kehilangan semua bidaknya.

Pato-pato. Untuk permainan ini digunakan batu-batu atau biji-biji dalam jumlah yang tidak tentu, yang diletakkan di lekukan tangan. Setelah dilemparkan keatas, diusahakan untuk menangkap sebanyak mungkin batu dengan punggung tangan, membuang lagi keatas, dan menangkapnya lagi dengan telapak tangan. Batu-batu yang berhasil ditangkap harus berjumlah yang ditentukan atau perkaliannya.

Berikutnya adalah kurang lebih permainan anak-anak.

Papa Oesin. Ini merupakan permainan yang juga dikenal oleh kami dan dimainkan oleh dua orang, dengan kedua tangan bertepukan dengan yang lain, bergantian dengan tangan kiri dan kanan, selanjutnya kedua tangan yang dipukul ke kedua tangan lawan, diganti dengan dua tangan kiri lalu dua tangan kanan. Antara setiap pukulan, bertepuk tangan. Dimana, sebagai sesuatu yang lain, memukul dada dengan kedua tangan, di Simaloer tangan ditaruh dibawah ketiak dan badan dipukul dengan lengan bawah. Semua pergerakan ini harus dilakukan menurut urutan tertentu. Apabila salah satu pemain kehilangan iramanya, maka pemain lain dapat memukulnya di mulut.

Ioendoe. Ini adalah permainan untuk anak-anak kecil. Salah satu pemain mengulur tangan dengan telapak tangan diarahkan kebawah; yang kedua menjepit, dengan menggunakan ibu jari dan telunjuk, kulit dari punggung tangan dari yang pertama; seorang ketiga melakukan yang sama pada yang kedua dan seterusnya. Sekarang tangan digerakkan bersamaan keatas dan kebawah serta bernyanyi:

Inendoe, inendoe

Sa choepang sa boesae

Beli, veli-n-toctoc.

Yang diterjemahkan sebagai berikut :

ioendoe ioendoe

satu kupang, satu boesoek (uang logam yang dulunya berlaku)

beli-beli puting susu (untuk ibu)

“Merampas tali” seperti pada kami, juga dikenal dengan nama sinaga, tetapi dimainkan agak lain. Hanya satu orang diperlukan, yang mengikat talinya antara kedua jari tengah, lalu membentuk beberapa bentuk, dengan memutar-mutarnya di jari-jari. Tali tidak dirampas oleh orang kedua.

Mansiabat abat adalah “kucing dengan tikus”. Tikus disini bernama kabing, yaitu kambing dan kucing adalah arimaoe, dari harimau, Melayu. Karena biantang ini tidak ada di Simaloer, maka permainan ini pasti diambil dari orang Melayu.

Sasa-sasa indin. Salah satu pemain berdiri membungkuk membelakangi tembok rumah atau yang sama. Yang lainnya masing-masing meletakkan tangan diatas punggungnya, sedangkan salah satu dari mereka memegang sesuatu ditangannya yang tertutup. Sekarang dinyanyikan syair dan pemain yang bungkuk harus mereka-reka barang yang dipegang. Apabila dia berhasil, maka ia berganti tempat dengan yang lain.

Orang buta dalam bahasa Simoeloer adalah bekoa koa, karena para pemain dengan memanggil-manggil koa koa menarik perhatian dari orang yang ditutupi matanya dengan kain terhadap mereka.

Sembunyian dinamakan mansiboenen boenen.

Goed goed (diucapkan seperti kata bahasa Inggris “good”) adalah semacam uber-uberan. Salah satu pemain membungkus kepalanya dalam kain dengan ujung-ujungnya di ikat dengan ketat, Di semua sisi dari pemain ini berdiri seorang pemain lain dan kepala dengan kain ditarik-tarik kekiri-kekanan sambil menyanyi :

Goed, goed, si manding,

Si mandajoeng, ana-ana dating,

Si Boejang, lele’an badan,

Badan lema-lemba

Ini adalah bahasa Melayu atau campur adukan dari bahasa itu, (manding == ? : mandajoeng === mendayung; ana-ana == anak; dating == datang; Si Boejoeng == seorang pemuda; tele’an == ?, mungkin dari titik, melihat dengan saksama; badan = badan, temba-temba == menembak).

Apabila disebabkan tarik-menarik korban menjadi pusing, kainnya diambil dan dia harus mencoba menangkap salah satu pemain. Yang tertangkap mendapat giliran dibungkus kain kepalanya.

Permainan kejar-kejaran lain bernama bekandang kandang. Tali panjang diletakkan di tanah membentuk lingkaran dan membentuk kandang; di salah satu sisi lingkaran tidak tertutup sama sekali dan harus dianggap sebagai pintunya.

Semua pemain masuk didalam lingkaran, kecuali penangkapnya. Salah satu pemain didalam lingkaran menempatkan dirinya, tanpa meninggalkan lingkaran, dimuka pemain diluar dan keduanya mengeluarkan tangannya melewati tali tanpa menyentuh, Yang berdiri diluar

bertanya asi atau sah, yang dijawab sama oleh yang lain.

Ini diulangi sekali lagi dan pada jawaban kedua orang luar lari melalui pintu untuk menangkap salah satu pemain. Mereka ini dapat melewati tali, pemain yang pertama berdiri diluar, tidak. Apabila dia tidak berhasil menangkap seseorang dengan cara menyentuhnya, maka dia harus menginggalkan kandang melalui pintunya, untuk memburu yang lain. Yang tertangkap harus menggantikannya diluar sebagai pemburu.

Permainan bola Melayu terkenal adalah besi koempan, yang dimainkan dengan bola yang dianyam dari rotan. Bola harus dipukul keatas dengan menggunakan kaki atau bagian lain dari tubuh, tetapi tidak boleh menggunakan tangan dan tidak boleh menyentuh tanah.

Gasing bernama kesing (Melayu gasing) dan layang-layang adalah lajar.

Hal-hal yang dibahas tidak banyak atau sama sekali tidak ada yang asli, yang memperlihatkan hampir tidak ada keaslian di Simaloer di setiap bidang, sehingga kita bertanya-tanya apakah pulau ini sebelum kedatangan orang-orang Minangkabau, Aceh dan Nias memiliki penduduk asli.

Diterjemahkan dari bahasa Belanda ke

dalam bahasa Indonesia oleh Jefta Samuel,

Penerjemah resmi dan dibawah sumpah.

Jakarta, 23 September 2003

Tulis sebuah Komentar