SUMBANGAN
UNTUK
ILMU BAHASA, NEGARA DAN BANGSA-BANGSA
DARI
HINDIA BELANDA
DITERBITKAN OLEH
LEMBAGA KERAJAAN UNTUK ILMU BAHASA, NEGARA DAN
BANGSA-BANGSA HINDIA BELANDA
————————-
BAGIAN 71.
‘S-GRAVENHAGE,
M A R T I N U S N I J H O F,
1916
NASKAH SIMALOER
Oleh H.T. DAMSTE
Dalam bulan Nopember 1854 mantan residen dari Tapanoeli, F.H. J. Netscher mengunjungi “Poeloe Si-Maloe, yang ditandai sebagai “Pulau Hog di peta-peta laut Inggris.
Dalam karangannya (Majalah I.T.L. Vk. V 403) dia mengatakan, bahwa bahasa mereka seluruhnya sama dengan orang-orang Melayu dari Dataran tinggi Padang, sehingga dia dengan mudah dapat berbicara dengan orang-orang pribumi dengan menggunakan bahasa Melayu. Akan tetapi, selanjutnya dia mencatat: ”Mereka masih memiliki satu bahasa lain, yang disebut bahasa daerah, akan tetapi ini merupakan campuran dari Aceh dan Melayu; ini jarang digunakan di pantai Timur laut, karena disana tidak ada orang-orang Aceh.
K.F.H. Van Langen, yang pada awal 1881 melakukan perjalanan ke Simaloer, berpendapat (Majalah I.T.L. vk. XXVII 383), bahwa penduduk masih termasuk suku dari Nias. Akan tetapi bahasa mereka berbeda dengan yang digunakan di Nias, meskipun banyak kata-kata menunjukkan adanya hubungan erat dengan bahasa tersebut.
Dalam Majalah Ilmu bumi Hindia-Belanda Gen. Tahun
pertama, bag. III hal.1 Van Langen menyebutkan suatu kisah rakyat, yang menerangkan kejadian aneh, bahwa penduduk di daerah-daerah Si Maloer, Tapah dan Lakoon menggunakan bahasa yang sama sekali berbeda dengan daerah-daerah Salang dan Si Goelei, dimana bahasa Nias yang digunakan. Ini juga menerangkan kenyataan, bahwa penduduk dari Si Maloer terdiri dari dua kelompok utama, penduduk asli atau aborigin dengan bahasa berbeda dengan Nias dan orang-orang Nias, yang menggunakan bahasa mereka sendiri. Hubungan dengan bahasa yang digunakan (penduduk pribumi) dengan bahasa Hindia-Belanda lain, tidak dapat kami temukan, akan tetapi kami mendapatkan bahwa banyak kata-kata dari Nias dimasukkan kedalam bahasa ini. Apakah ini disebabkan karena adanya pencampuran dengan penduduk pribumi dan dari Nias atau suatu hubungan suku, kita tidak berani memutuskan.
Oleh karena itu, ada beberapa orang yang mengatakan bahwa aborigin dari Si Maloer termasuk dalam suku Gajo.
Penulis yang sama menulis dalam “Pantai Barat Aceh” (T.A.G. Seri V 511)” Bahasa Simaloer mungkin merupakan dialek dari Nias, dimana banyak kata-kata Melayu dimasukkan. Meskipun menurut legenda yang beredar disini Simaloer merupakan bagian dari suku Gajo, tetapi mereka tidak berbicara dengan orang-orang Gajo, dan rupanya bahasa mereka telah berkembang secara mandiri. Ini di ikuti dengan daftar sebanyak 23 kata, yang rupanya diambil dari bahasa Tapah dan Simaloer, tetapi tidak selalu ditulis atau diterjemahkan dengan benar.
L.C. Westenenk menetapkan dalam sumbangan T.L. dan Vk. N.I. LVI 302: bahwa Netscher salah menyebutkan bahwa bahasa pribumi adalah gabungan dari Aceh dan Melayu; bahwa seorang Nias yang ikut dengannya tidak dapat berbicara dengan orang-orang di Simaloer Utara, dimana menurut van Langen, bahasa Nias menjadi bahasa penduduk disana; dan akhirnya, bahwa Gajo tidak dimengerti, tetapi bahwa banyak penduduk pulau menggunakan bahasa Minangkabau dan Aceh.
Bahasa Aceh dan Minangkabau umum digunakan di pulau ini, dan bahasa Nias tidak ada yang mengerti. Tetapi van Langen justru mengatakan bahwa penduduk di bagian Selatan menggunakan bahasa lain dari yang berada di Utara.
Daftar kata-kata yang disampaikan oleh Westenenk adalah tentang “leng bano”, bahasa dari daerah-daerah Tapah dan Simaloer di bagian Selatan dan terbesar dengan paling sedikit penduduknya dari pulau tersebut.
Satu daftar yang panjang tetapi tidak terlalu dapat diandalkan disusun sesudahnya oleh seorang pegawai dari perusahaan eksploitasi hutan Jawa.
Sejak pertengahan Maret hingga pertengahan Juni 1912 saya tinggal di Sinabang sebagai pengawas dari kabupaten Simeuleoee yang baru diciptakan (Daerah-daerah: Tapah, Simeuloee, Leukoeen, Salang dan Sigoele dengan masing-masing 1566, 828, 152, 111 dan 631, atau sejumlah 32888 lelaki, dari 5350, 2660, 471, 314 dan 2067, atau sejumlah 10.862 jiwa).
Pada masa itu saya banyak mengumpulkan informasi tentang ‘leng bano’.
Dari bahasa dari Sigoele (pribumi Sichoele), wali banoeah, hanya sedikit yang saya berhasil kumpulkan. Meskipun penduduk sendiri beranggapan bahwa mereka berasal dari Nias, dalam kumpulan kata-kata saya tidak menemukan kata-kata Nias. Bagaimana keadaan di Salang dan Leukoeen (pribumi Lekon), tidak saya ingat.
1) Tentang hal tersebut bandingan dengan Dr. Snouck Hurgronje “Tanah Gajo dan penduduknya” hal 74.
2) Mengenai daftar kata-kata dibahas dalam Berita Acara Rapat Perserikatan Batavia 1912-1913 hal. 5 dan 62.
3) Tanggal 4 Januari 1907 ombak pasang yang menghantam pantai selatan setelah memakan korban 1818 orang.
Dafar kata dari pegawai perusahaan eksploitasi hutan Jawa memasuki Salang dalam berbahasa daerah dari Tapah dan Simaloer, tetapi van Langen mengelompokkannya dengan Sichoele, dan ini juga dilakukan oleh Hotz (Lihat catatan dibawah).
Yang dibahas disini terbatas pada ‘leng bano’ atau bahasa daerah dari Tapah (pribumi Oelao atau Defajan) dan Simeuloee (Aceh), Simaloer (Melayu) atau pribumi: Simoeloel.
Tidak terdapat kesusastraan tertulis. Lagu-lagu cinta didendangkan (nanga-nanga). Ibu-ibu serta kakak-kakak perempuan mendendangkan lagu-lagu tidur (ilala). Mereka saling memberikan (teka-teki tae-tae, jawaban). Tetapi terutama adalah kisah-kisah (inafi-inafi) yang digunakan untuk menghabiskan waktu; pertama-tama kisah binatang, selanjutnya sejarah nenek moyang: Lambore yang ingin membelah pulau ini menjadi dua. Lasenga yang melarangnya, Lafoe dan Lafong Lasali. Untuk kesusastraan yang lebih tinggi maka penduduk campuran ini meminjam kisah-kisah dari tetangga mereka di Aceh dan Minangkabau.
Kedekatan orang-orang Simaloer dengan Aceh dan Minangkabau sudah tentu memberi dampak terhadap bahasa daerahnya. Dalam bahasa ini terdapat banyak kata-kata dan bentuk Aceh dan Minangkabau. Ini sudah pasti tidak akan menjadi lebih baik, sejak didirikan perusahaan penebangan hutan di pulau tersebut, meningkatnya persinggahan yang teratur dari kapal-kapal barang, pembangunan sebuah sekolah pribumi pemerintah, serta ditempatkan pengawas beserta staf Melayunya serta polisi.
Karena adanya bahaya, maka penerbitan dari naskah-naskah dalam keadaan yang sekarang, sudah pasti adalah sesuatu yang dapat dipertanggung-jawabkan.
Kami terlebih dahulu menyampaikan suatu teori yang bagi mereka yang sampai ke Simaloer karena pekerjaan mereka, mungkin ada gunanya, agar dengan lebih cepat dapat berorientasi pada bahasa.
Orang-orang Simaloer tidak memiliki tulisan huruf sendiri. Bahasa Melayu dan Aceh ditulis dengan menggunakan huruf Arab. Bahasa setempat hanya digunakan untuk saling berkomunikasi.
1) Menurut catatan B.G 1912-1914 hal 62 maka Letnan 2 Infanteri G.D.E.J. Hotz juga menyusun suatu daftar kata-kata dari bahasan orang Sigoele dan Salang serta mengirimnya ke perserikatan.
Lagipula kebanyakan tekanan diberikan pada suku kata terakhir, tetapi pada umumnya ini tidak begitu penting.
Tekanan suara untuk sebagian besar jatuh pada suku kata terakhir, tetapi ini biasanya tidak begitu penting. Dalam kalimat-kalimat berikut saya telah menulis miring suku-suku kata yang diberi tekanan:
Nga sara Toeankoe Manggarang ere, banone te Poelo Banja mamoti-mamotijah me Lo Simoeloel, Lento, ia e, ba, lo, nipanggel, sagalo radjo-radjo, lengne, E de o ere nga o fesang e bacha banome-re, miena-ena a o.
Perubahan bunyi
Pada awal suatu kata huruf f dan b; d dan r; s dan tj; sering bertukar; dan juga pada awal suku kata kedua bunyi h, ch dan k bertukar. Fa, fa, fa’al, falong, fano, fel, fengi, fere, foeha, lebih kedengaran sopan dan kuno daripada ba, ba, ba’al, balong dan lain-lain. Dalam hubungan yang sama adalah rai, ralan, ran, remah, ro, roema’ar dan lain-lain. Hingga dai, dalan, dan lain-lain.; sama dengan chae, chebau, oechoen, chachan dan lain-lain. Sampai kae, kebau, kon dan kahan. Tetapi sering kita mendengar bahwa yang kasar dan halus digunakan bersama-sama, sehingga rupanya tidak ada
perbedaan besar.
Suku kata yang kadang-kadang terbuka, pada saat lain ditutup dengan h; yang diucapkan dari kerongkongan; dan sering mereka membuka atau menutup suatu suku kata yang mulai atau berakhir dengan huruf hidup dengan k, yang diucapkan dengan tekanan kuat, dan lain kali ini tidak dilakukan. Maka taineh = tai ne = adalah tingginya. Taineh lebih banyak digunakan di daerah Tapah, sedangkan taine lebih Simaloer; tetapi perbedaan ini tidak selalu dapat dijelaskan hanya karena perbedaan suku. Seorang pembicara sering melakukan hal-hal yang tidak konsekwen, karena variasi yang terjadi, menurut saya, sesuai kemauan sendiri saja. Perbedaan dalam arti sebagai akibat menggunakan atau tidak menggunakan “h” tidak dapat saya temukan, juga tidak sebagai suatu aturan yang bisa diikuti.
Akhiran –as berganti dengan –aj atau ai, maka terdengar toeas, lepas, atas foras, nas disamping toeaj, lepaj, a’taj, boraj, naj.
O ditukar dengan e: Mon, diikuti dengan ng, memberikan, dimana tekanan suara selalu pada suku kata terakhir, maka menjadi meneng. Disamping mamoleng, juga terdengar mameleng. Gabungan do-fengi menjadi dofongi.
Contoh-contoh bahwa o menguasai huruf hidup didekatnya terdapat di moro I = mero I, oewolofil = oewila ofil (menurut saya).
Bahwa e berubah menjadi e atau i dapat dilihat dalam fel, yang berasal dari ofel atau ofil.
Pada akhir suatu kata e berubah kalau digantungkan dengan ng kadang dalam e, sehingga je = jeng, ne-neng.
Ini juga kadang-kadang terjadi dengan i; fengi menjadi fengeng; achi: acheng.
Ae, ai, dan ia sering dijadikan satu menjadi e: Daifa=defa, mainihi=menihi, mae=me, siamonan=semonan, dia’oh=de’oh, nialinafian= nialinafen.
Contoh dari perubahan huruf hidup dari beberapa suku kata adalah: sodibongi, dari sidofongi= kemarin dulu.
Perubahan kata kerja
Kata kerja pokok dirubah, yaitu dijadikan satu dengan diberikan awalan eksponen perorangan.
Awalan untuk Kata pengganti Kata pengganti
Perorangan yang sesuai milik yang sesuai
Orang ke-1 oe- a o(h), ia o(h), de o(h) -o(h),-go(h)
m.v.excl. mai- ami,djami;diama i,de mai -mai
incl. ta- ita, dita -ta
Orang ke-2 moe- o, dio -mo
m.v. mi- ame, diame -me
Orang ke-3 ni- ia, ise, dise -ne2
m.v. da sira, isira, disira -da
1 Antara kata yang berakhir dengan huruf hidup dan kata pengganti milik berikutnya, orang ke-1 – oh atau goh, dimasukkan suara hidung ng, sedangkan sebelum –ta kata ditutup dengan n. Sering kali bunyi hidung bersamaan dengan huruf k, yang kadang-kadang ditambahkan didepan atau sebagai akhiran.
Achingoh = abang laki-laki saya ajang’go = ayah saya
Loemangoh = rumah saya ajanta = bapak kami
Tidaonggoh = permintaan saya aratonta = milik kami
Arotongoh = milik saya radjo’nta = raja kami
Ata’nggo = orang-orang saya
2-ne kadang berfungsi sebagai petunjuk penekanan. Diperkaya dengan petunjuk penekanan ia, menjadi gabungan –ne-ja kadang disatukan menjadi –nja:
alal chleng-chleng-nja = kerang-kerang
Oechaj = Saya tidak mau
Oeprang o = Saya memerangi anda
Maitoe’as o = Saya lepaskan anda
Taba ja radjo’nta ere = Kami mengangkatnya menjadi raja
kami disini.
Moeda sioe ante, moean;
moeda na , moean = Jika anda nanti mau telor, makanlah; jika anda ingin anak bangau, makanlah.
Mitoe’as a’o = Lepaskan saya
Are mila? = Apakah anda mengenal orang-orang?
Nijob angen = Angin bertiup
Fado nitae, wooneja = Abang nya tidak menjawab.
Nianengiah = Dia diam saja
Ninto’o = Dia memukul anda
Daoleng me loema = Mereka pulang
Dana’eun anneja = Mereka hidangkan makannya
Dari contoh-contoh yang diberikan ternyata, bahwa kata-kata kerja netral dirubah, nanti kita akan melihat, bahwa bentuk-bentuk e sebagai akhiran juga ditambahkan.
Pokok kata kerja yang tidak dirubah ditemukan sebagai perintah:
Toe’as a’o = Lepaskan saya!
Da okom, ba adar e’baha
banoja = Perkenalkan agama dan adat dinegeri ini!
Abe ele sao taoengi! = Ambil kantung!
Dan sebagai bentuk bukan perintah sehubungan dengan larangan :
Ale filang kon anasaja! = Pergi dan hitunglah biji nangkanya!
Nae fele foras satoedoe! = Pergi beli sedikit beras!
Ne toeto me ro’I T.M.! = Pergi dan tanyakan kepada T.M.!
Ne mon sibo mano ede! = Tolong usir ayam-ayam itu!
Fere ndo taren te ere! = Jangan tiap kali pergi dari sini!
Dalam bentuk perintah maka kata kerja ditambahkan juga dengan tambahan didepan dalam bentuk orang kedua:
Mitaren ame! = Kalian tinggal disini saja!
Mitoe’ as a’o = Kalian orang lepaskan saya!
Suatu kata kerja pokok, yang tidak dirubah dan dikuasai oleh yang biasanya diikuti oleh kata pengganti dari subyek lain, rupanya diambil dari bahasa Melayu atau Aceh:
E’de’o ere, doedo a’o senang
Sa’a e’baha bano ere = Saya, saya tinggal tanpa pekerjaan di negara ini.
Nganga ba o pisajo e de’o = Kalau anda mempercayai saya.
Nai ja sa’s me bacha’aliah = Dia masuk kedalam kapal
Timboel la do’I banon Malajoe = Dia datang disana ditanah
Melayu.
Hawel is ele nene Nja Kandaja = Dia nikah dengan nenek
Nja’Kanda
Atau kata-kata yang kita anggap sebagai kata kerja, tetapi oleh orang-orang Simaloer tidak dianggap sebagai kata kerja:
Besang sa’a achineja = Adiknya datang.
Leng sa’a achineja = Adiknya berbicara
Lento do’I, nitoeto e L.L. = Sampai disana dia
menanyakan L.L.
Masarea la na falonga e’embe’ne = Semuanya jatuh ke sayap bangau.
Bentuk-bentuk Ma
Dengan suku kata depan ma- dibentuk kata-kata yang kadang-kadang diartikan sebagai kata-kata nama, kadang-kadang sebagai kata pembagi :
a. Dari ajektip :
ma-lito-ito = anak kecil, pelahan-lahan
ma-fel = besar
ma-toeha = tua
ma-re en = baik, bagus
ma-etem, metem = hitam
- Dari nama benda: ( kata nama berarti dengan …… apa yang diartikan oleh kata dasar).
Ma-oetoe = dengan lubang
Ma-oemeoer = dengan umur, pada umur, tua
Ma-sala = dengan hutang, berhutang, bersalah
- Kata-kata dengan arti verbal :
ma-toeas = selesai
ma-toetoes = rontok
ma-toetong = dinyalakan
ma-ta’oe = beristirahat
Bentuk-bentuk ma- ini rupanya sama sifatnya dengan susulan turunan mal :
- dari kata sifat
mal-aheli = kaget (disamping macheli)
mal-angoei = gosong
- kata benda :
mal-akoei = dengan api, kebakaran, terbakar
mal-ana = dengan anak-anak, mempunyai anak atau mendapat anak, melahirkan.
mal-ahi = dengan kakak, mempunyai kakak atau mengangkat sebagai kakak.
mal-aloecha = memegang dayung, mendayung
mal-inafi = memiliki ceritera, menceriterakan
mal-oejoel = bertunas, memiliki tunas atau mendapat tunas
mal-eler = berakar, memiliki akar atau mendapat
mal-oeloet = bergetah, melekat
mal-falihi = ditumbuhi rumput
mal-fano = dengan negara, memiliki tanah,tanah-air.
mal-fato-fato = berkelompok, berkumpul
- kata-kata ceritera :
mal-aset-aset = mengikuti, entlang (sedang maset-maset)
= selalu
mal-afen = mengikuti disamping mafen
mal-ajam-lajam = bermain
mal-iob = meniup
ma;-oepa-loepa = berloncatan
Dalam hubungan ini harus juga disebutkan:
Mang-ao = haus
mang-oera = muda
mang-ida = mengetahui
mang-oleng = kembali, pulang
Selanjutnya:
Man-siloel = meludah
Man-tjolan = mendayung
Man-tai-tai = buang air besar
Man-tetehen = mendehem
Perkataan berikut:
Man-sasachoeli = kadang-kadang
Man-sara-sira = masing-masing
Serta kata-kata bagi, yang menerangkan suatu kegiatan berulang atau melakukan sesuatu :
Man-si-boeha = bertamu (seseorang), saling bertemu
Man-si-ntoe = saling memukul, berkelahi
Man-si-jojos = berhantam
Man-si-ibo-jbo = bersedih
Man-si-taten-taren = Menentukan siapa yang tertua
Suku kata depan ma juga ditempatkan untuk ceritera transitip.
Jika kata ceritera mulai dengan ch, h atau r, maka didepan kata ditambahkan ma saja.:
Ma-chawal an = mencari makan (sedang)
Ma-hoekoer fo nol = memarut kelapa (sedang)
Ma-rada ata = memburu (sedang) orang
Apabila ceriteranya mulai dengan huruf hidup, maka kata ng dimasukkan:
Ma-ng-an lajap = sedang memakan nasi
Ma-ng-inon oj = meminum air, sedang minum air
Ma-ng-antjan beti = memikul peti
Ma-ng=ena-ng-ena bano = melihat negeri
Dalam bunyi awal s atau t, maka didepan diganti dengan n:
Ma-masai e’nen = mencuci pakaian dari sasa
Ma-noengkoel = membangunkan dari soengkoel
Ma-nidao ampon = meminta ampun dari tidao
Ma-noengkal = memasak dari toengkal
Ma-nete = membawa dari tete
Me-noeto = menanyakan dari toeto
Ma-naren = meninggalkan dari taren
Untuk kata-kata awal b. f, p diganti dengan m :
Ma-majar = membayar dari bajar
Ma-moeha = ketemu, bertemu dari foeha
Ma-ma’al = menunggu (sedang) dari fa’al
Ma-mati = memotong padi dari fati
Ma-mot = mencuri (sedang) dari fot
Ma-mantjong = pancung dari pantjong
Ma-malenta = memerintah dari palenta
Ma-male-male = mencela dari fale
Akan tetapi: ma-m-poleh = menyembuhkan dari polej.Mungkin karena kata ini diambil dari bahasa Aceh ? (Aceh = poeleh = memulihkan, pulih.)
Maka disamping “mamajar” ada juga “mambajar).
Bentuk-bentuk lampau
Terdapat kata-kata bagi, yang diambil dari kata kerja pokok kuno (dan bentuk ma?), dengan menyisipkan oem sesudah huruf mati pertama, yaitu setelah penggandaan dari suku kata pertama, atau, jika kata dimulai dengan m atau vokal, dengan perubahan oem:
Choemasah = bekerja (sedang)
Choemoedoeng = berlari kencang, melarikan diri (sedang)
Toementel = bergetaran (sedang)
Hoeme-hoeme = berbisik (sedang)
Doeme = madi (sedang)
Loemangoj = berenang (sedang)
Loemala, o-la’o = berjalan-jalan (sedang)
Toemata eng = duduk, sudah duduk (sedang)
Oemabang = terbang (sedang)
Oema ong = memanggil (sedang)
Oemede-ide = berdiri (sedang)
Oemehem = ketawa (sedang)
Oemengge = menangis (sedang)
Oemibo = bergerak (sedang)
Oemoeta = muntah (sedang)
Bentuk-bentuk –oem sepertinya mengindikasikan keadaan dari subyek orang atau binatang, tentang kegiatan yang dilakukan secara fisik, pernyataan atau kebiasaan.
Akan tetapi – saya masih menemukan tiga bentuk-oem dengan sifat lain:
Oemafa, mungkin diartikan sebagai :tidak ada:, : tidak hadir”, dari fa = tidak.
Oamalori )
Oemangori) + berada agar, dikarenakan, dari ore – agar
Contoh-contoh :
Aroraja singaoetolong ‘o? Oemafa balandjo? = Bagaimana saya dapat membantu anda? Apakah anda kekurangan uang?
Ba rasob sao lebangi banong o, oemalori masael mamantjong e’ de’o = suruh mereka menggali lubang sebagai tempat untuk saya, agar lebih mudah memancung saya.
Nga senoe ba niba Si Kandang, miatoe meria e’ Sinafang, oemangorija oekoerong = Kalau nanti Si Kandang tidak memberikan apa yang diminta, kalian laporkan ke sini ke Sinabang, agar saya dapat masukkan dia kedalam
penjara.
Doema’ar = sekarang, masa kini, kiranya juga masih termasuk dalam bentuk oem yang dimaksudkan disini.
Bentuk-bentuk A.
Awalan a, yaitu diikuti oleh l atau huruf hidung, menciptakan, apakah ada hubungannya dengan suatu akhiran –an, kata-kata kerja yang bersifat kausatip.
- kata sifat:
ni-a-de’en matoe’aj masiltedia = Dia menyelesaikan masjid
ni-a-de’en sira radjo Aloeajania = Raja dari A mendamaikan mereka
- kata benda:
Oew-a-toefafa-n chabau = Saya kirim kerbau
Ni-a-toefafa-nsoerta = Dia mengirim surat
Oew-al-inafen)
Moe-al-inafen) = Saya, kamu, dia berceritera
Ni-al-inafen )
Al-isi = memuat, mengisi
Ba’o ni-a’l-oewi = Semoga dia menjadi sama dengan..
c. kata kerja
A-tere a’o kapoetoesan sile = Ajarkan saya pengetahuan akhir dari permainan pedang.
Soeratia nia-a-bang-an angen= Surat diterbangkan angin, atau surat dibawah angin
Ana maho ni-abang-an majang= Anak ayam dibawah burung elang
Oew-a-choedoeng ia inan sioe = Saya baru menculiknya
Oew-a-ide a’o e deta batoe = Saya berdiri diatas batu
Oewa-a-ta eng a o = Saya pergi duduk, saya duduk
Ni-a-teng radjo daro = Dia mengangkat dua raja
Ngamang rai-oh moe-a-la’o, ale= Kecuali jika anda bisa berjalan sendiri yaitu anda bisa jalan sendiri, anda boleh ikut.
Me ni-a-leko teungkoeja ataja = Teungkoe mengumpulkan orang
Loema ataja moe-alilei e dio = Anda tahu dimana laki-laki itu tinggal?
Ngang oew-al-ilei! = Saya tahu dimana
(ilei = ila e’I = tahu dimana. Bandingkan dengan kata Aceah “toepat”)
de’o fa’ania oew-ol-ofil = Saya tidak kenal dia
(olofil = ifa ofil = tahu berapa atau sebesar apa = mengenal
Bandingkan dengan kata Aceh “toe’oh”)
Ni-ang-ilil-ngilil oeloet anasaja= Dia meneteskan getah nangka
Ta-a-moleng e ise bano ere = Kami serahkan tanah ini
Ta-an-soesoer me ro’I e S. = Kami mengantarnya ke S.
Dari kausatif ini dibentuk dengan menambah awalan kata bagi mang. :
Mangamoleng = Pertimbangkan (sedang)
Mangade’en = Membuat (sedang)
Mangaleko = Mengumpulkan (sedang)
Daifa ia mangansala ana bano = Dia dilarang menghukum anak-anak negeri.
Daneng ami mangatoefafan-toe = Kami telah lama berkirim
fafan soerat surat
Bentuk mamoleng = diserahkan, dapat memberikan perkiraan, bahwa dalam kausatif tersebut diatas juga terdapat bentuk ma :
Mamoleng e dio bano ere = Diserahkan kepada anda tanah ini
Selanjutnya kami bisa meragukan apakah, maleko = kumpulkan, mare-en = mendamaikan dan lain-lain, mungkin juga merupakan bentuk-ma dari kausatif.
Untuk membentuk kausatif maka awalan a tidak selalu diperlukan.
Kadang-kadang terjadi bahwa hanya dengan penambahan akhiran –an
Oefalewan batoeja = Saya membalik batu
Moelawan moe’ta’an = Anda dapat menghanyutkan pulau ini atau menambatkannya
Disini perhatian diberikan kepada kata-kata nama yang berasal dari kausatif :
Oebah fachong amajaranneh = Saya memberi tembakau sebagai Pembayaran.
Abe oj anasajan enenoh = Ambil air untuk mencuci kain saya.
Ana’ocan = Untuk ditambatkan, tempat istirahat, halte, pelabuhan
Berbagai kata-kata nama sifat menggunakan awalan a-:
a-tare = panjang
a-fite = pendek
a-tas = tinggi
a-teloe-teloe = rendah
a-rao = jauh
a-ken = dekat
a-fel a-fel = banyak orang, banyak, dari fel = besar
a-fela = lebat
a-lefo = besar
a-acha = dalam, dari bacha = di, didalam
a-lafaj = kewanitaan
a-forat = berat
Tanpa awalan a- kata-kata ini sering digunakan berkaitan dengan kata nama milik orang ketiga, yaitu –ne:
Ofel tare-ne? = Berapa panjangnya?
Orena rao-ne? = Seberapa jauh?
Orena tai-ne? = Seberapa tingginya?
Benejeh = bel-ne-je = Sebanyak dan sebesar seperti itu.
Ena mon lefo-lefolne chapalian! = Lihat betapa besar kapal-kapal itu!
Untuk pasif kebetulan terdapat :
a. bentuk ta :
Tapekeria sa’a oengia = musang berpikir, mendapat pikiran
Oewije tarene ala fa’doja
ta-benem mang lew loean = Orang sebegitu tinggi tidak akan tenggelam, kalau enyeberang sungai.
Mesa ba’ere tantaren = Tidak satu pun yang tertinggal
Oechaj tantaren e ere= Saya tidak mau ditinggalkan
Talfalew ale batoeja= Batu telah dibalik
Talojol = Tergelincir
- bentuk mi :
miena-ena a o = Saya melihat-lihat saja
te ere ba;doe miram oelao A. = Dari sini pulau A, tidak dapat dilihat
sao sao ratoe mina’eun
sao ingkan lajap = Setiap raja diharuskan menyumbang satu porsi nasi
mibelah = terbelah
c. mungkin bentuk a ? atau disini hanya berhubungan dengan waktu lampau atau penetapan keadaan bersifat lain dalam :
Anan moefoe’al fintoe? Ba’do nga
oefoe’ai. Afoe’ai maoewi! = Mengapa anda membuka pintu? Saya tidak membukanya. Dia terbuka sendiri.
Chapalia ngang afoengkar = Kapal telah berangkat.
De’o ngang afelah oeloe-ngoh = Kepala saya sama sekali rusak.
Optatip diungkapkan oleh ba (-beri!), diikuti dengan eksponen-orang ketiga p. ni- atau ra-, kadang-kadang, menurut saya, lebih sebagai petunjuk penekanan :
Ba ni tantoe! = jangan dilepaskan!
Ba ni mali! = biarkan dia datang!
Ba ra meria = semoga mereka datang kesini!
Ba ni naoe = biarkan, Bila dia lakukan semaunya
Ba ni samo ratibtah = mari kita senada ratib!
Fa ja nitaren e’ere = dia ditingalkan disini
Ba ni ferew maso = jangan biarkan dia masuk
Ba o niila boja = biar saya dimakan buaya
Ba o ni mataj, mae ma’o = meskipun saya akan mati, saya tetap pergi
Ba o ni mataj e ba oj’il = semoga anda mati di air
Ba o ni a’loewi telan si matoetoes ere = biarkan saya menjadi seperti pinggir kali longsor ini
Ba tidak ditemukan didalam kutukan-kutukan sendiri diatas, yang menggunakan ba, yang berarti “tidak” adalah:
Ba o nihawan Ala ta’ala! = Allah tidak bersama saya!
Ba o nichawan kiramat nene tah
Gemoale nen tae Oedjoeng = Kesucian nenek moyang (gemuk) tidak bersama saya dan nenek moyang Oedjong!
Ba’ana’o kakal bakal e deeta denia = Semoga anak-anak saya tidak bertahan di dunia ini.
Waktu, saat mana terjadi kegiatan, tidak terlihat dalam kata kerja itu sendiri, tetapi harus ditafsirkan dari kalimat. Kadang-kadang dinyatakan dengan bantuan kata-kata bantu.
- untuk masa lalu : ngang, nga atau a :
ngang nifachai fa’done = Dia telah memakai jasnya
mga miabe aratonta = Dia telah mengambil barang kami
aratoneja masare a niabe si mamot= Pencuri telah mengambil semua barangnya
ngang oh chawel Ngang = Apakah anda telah menikah?
Sudah.
- untuk masa sekarang : beteng atau feteng, yaitu sedang dilakukan :
Ia ede achajmoh ja feteng nian chabao = Padi anda disitu sedang dimakan kerbau.
Loemamo beteng nitoetoeng = Dia sedang membakar rumah anda
Nga’I sara teungkoe, nga fe-teng ia mangadji = Ada teungkoe yang sedang mengaji
- untuk masa depan : sioe, seoe, sew, sienoe, tjenoe, senoe, sinoe, seperti juga kata “nanti” kami dapat menunjukkan apakah masa lalu, sekarang atau masa depan:
loemaneja seoe nitoetoeng = Nanti dia membakar rumah
Senoe nifoenoe o toeankoe ede = Nanti tuanku akan membunuh kamu
Senoe pantjong mang a’o ngang lento dofongi = Nanti pancung saya, setelah dua malam berlalu.
Juga dengan bantuan kata kerja mae atau me, yaitu pergi, dapat dinyatakan waktu akan datang:
Re’o me a’o mangadji = Saya pergi mengaji
Itaja-taja manti senga me prang?= Manteri mana saja yang pergi berperang?
E’ise ede mengia mere = Dia pergi tidur.
Menentukan waktu
Hari = balal, falal
Malam = bengi, fengi
Siang hari = falat fanoh
Malam hari = fengi fanoh
Sore = techel falal
Tengah malam = tenget bengi
Pagi sekali = melafe
Pagi matahari terbit= melafe la’on
Menjelang siang = lepaj ataj balal
Sore hari = atelo=telo falat, mata balal
ngang ateloe-Teloe
Malam = ngang sandjoh
Sekarang = (si) doema’ar
Kemarin = sori falal
Besok = deman, reman
Lusa = dofongi
Lusa-lusa lagi = teliefengi
Malam ini, malam lalu= solafi
Malam ini, malam besoknya = sioe bengeng
Sebentar = sachadjab
Baru saja = isachadjab ere
Ina(nge)ere, inan (sioe, seoe,sew,
(sinoe, thenoe
(senoe, senoe
nanti = sioe, senoe
waktu dahulu = mon, amon, amonan, ina(nge)ere
masa lalu = semonan
mula, pada awalnya = oenen-oenen, amonan-monan
terlebih dahulu = eneng masenoe
sesudahnya = sioe tele oeri, telewi sioe
jangka waktu = dan, ran
lama (sekali) = dan(eng) (Danengia la on mere)
= dia tidur lama sekali
setelah beberapa waktu= dan-dan sa’a
lama setelah itu = dan-danne tene’I
berapa lama
anda sudah tingal disana) = ofeleng danmoh ro’I?
Sudah lama kita tidak bertemu = oefeleng danneh ba’ ita mansi- boeha!
Sedangkan = dang, beteng, feteng
Sudah, habis, berlalu= ngang
Belum = bachaj, ba’doechaj
Belum pernah = ba’nechoe
Selalu = mamaset-maset
Kali ini = isachoeli ere
Kadang-kadang = mansasachoeli
Menyerahkan = lento…fengi, oemor…fengi
Dari —- sampai — = antni te — lento e —
Di dunia ini dan diakhirat = te doenia ere(len) to do ahirat
Bulan = bawa
Tahun = taon
Kapan? = engkan? Engkaneng?
Kata penganti penunjuk dan berhubungan; Petunjuk tekanan dan kata-kata suku kata.
Kata pengganti petunjuk adalah : ere, je dan ede.
Ere menunjuk orang atau hal-hal, yang dibayangkan pembicara, orang pertama, ada kaitannya mengenai waktu, tempat, milik, atau sebagai pokok pembicaraan dari pemikirannya (Bandingkan Dr. Snouck Hurgonje : Studi Bahasa Aceh). Fe dan ede mungkin menunjuk ke orang atau hal-hal, yang menurut bayangan pembicara berkaitan dengan orang yang dengan mana kita berbicara (orang kedua) atau orang ketiga, dan sering diterjemahkan dengan “itu” dan “ yang itu”; tetapi perbedaan yang diperkirakan dan tidak selalu diperhatikan:
E de’o ere = Kalau menurut saya, saya.
Djami e’ere = Kami disini
Soempama I ere = Ini sumpah kita
Ata roema’ar ere = Orang-orang jaman sekarang
Diamejeh = Kamu orang disana
Bere angagan ataje = Jangan jual orang-orang itu
dari kamu)
Omae moeabe lajap felnejeh? = Kemana anda membawa begitu
banyak beras?
Bene (reh = Sebanyak seperti (ini
(jeh itu)
E ise ede = Dia
Disira ede = Kalian
Wachan were, niachan wede = Saya katakan ini, kamu katakan itu (Were atau oejede = oewi ede = cara ini. Wede atau oejede = owei ede = cara itu)
oejede oejere rai = Dapat begini, juga dapat begitu
e ere = disini
Te ere, te dia = Dari sini
Meria (=me-ere-la?) = Kesini
Do’I, ro’I, e’ise = Disana
Me ro’I, me ise = Dari sana
Ia ere = Ini atau ini disini; disini
Ia ro’I, ia ede = Itu atau itu disana; disana
Dalam gabungan ini kata-kata pengganti petunjuk digantikan oleh i, yang mungkin harus diartikan sebagai kata pengganti petunjuk netral:
Ia’ih = Ini atau ini disini, itu atau disitu
Benei = Sebanyak ini, itu
E’ih = Disini, disana, ada
Loema ataje moealilei e dio?= Rumah orang itu, anda mengetahuinya, yaitu Anda tahu dimana orang itu tinggal?
Ngang walilei = Saya telah mengetahuinya
Kalau huruf i mendahului suatu kata maka harus dianggap sebagai petunjuk penekanan atau kata pengganti sementara:
La’o = Saya
Isavhoelie ere = Kali ini
Isachadjab ere = Saat ini
Ao fanoi = Negeri tertentu (Mel. Yang sebuah negeri)
Kampong isawi (I-sao-I) = Kampung yang sebuah itu.
Yang lebih mandiri sebagai kata pengganti sementara adalah I dalam bentuk si, dengan variasi sje (= si je? = yang itu?). se, atau se, sji, tji dll. Ise, dise, rise – dia, E ise, te ise, me, ise, lihat diatas.
i diperkaya dengan a menjadikannya sebagai petunjuk penekanan, suku kata dan nama pengganti orang ketiga dengan ia atau ja, dimana jang dan djang:
Kaka’ne ana’tio’ia senga si-laeja = Yang tertua dari anak tikus yang Jantan
Nai ja sa’a me bacha kapaliah = Dia memanjat masuk kapal
Ereja djang damoleng e de’o bano ere = Bagaimana ini, mereka serahkan negara ini kepada saya?
Ia juga diterima sebagai bagian dari kata-kata tambahan tentang tempat:
Ia ere, dja ere , jange ere
Ia ro’i
Ia ede, jange ede, djange ede, djangede, janta’ede
Ja’i, jange’i, janta’i, djangenta’i.
Dengan substantif inafi-nafi = kisah, inenawa= jiwa, inibi=mimpi, ina=yang lalu, inafa= sawah, inambone=pemilik, inahi=adik laki-laki, itu adanya awalan in-, sesuai dengan infix -in- dalam kata-kata tinafa – sawah, binor = bubur, sinoetoeng=makanan dibakar; atau itu merupakan petunjuk pemberi penekanan i, diikuti dengan suara hidung, sebagai hubungan dengan kata berikutnya? Juga “inahi”=ahi, dalam “si a’a a’o, inahi o= saya kakak laki-laki lebih tua, yang lebih mudah adalah dia”.
Kata-kata hitung
Dikatakan mereka menggunakan berbagai kata hitung sesuai sifat hal-hal yang dihitung. Juga dikatakan bahwa kaum wanita mempunyai cara menghitung sendiri. Tetapi perbedaan lebih berada dalam awalan dan tambahan dari kata-kata hitung, yaitu : untuk orang digunakan awalan orang ketiga, da-, untuk binatang digunakan akhiran =siha, dan untuk hal-hal dan burung dan ikan adalah sama –fo (yaitu buah). Selanjutnya para wanita menggunakan hitungan oloe, siwa, oeloe untuk 7,8,9 dimana laki-laki lebih menggunakan bahasa Melayu seperti selapan, sambilan, sapoloe.
Para wanita menghitung: sara, doea, teloe, at, lima, enem, itu, oleo, siwa, oeloe.
Orang-orang dihitung dengan : mesa (berapa “tidak ada” orang= ba’sara atau ba’doe sara), daro, dateloem dahat, dalima, danem, daitoe, salapan, sambilan, sapoeloe.
Binatang: sara, roea, telosiham akasiha. Limasiha, nemengasiha, itoengasiha, dst.
Hal-hal dan burung: sao, doefo, teloefo, atao, limafo, nemafo, itoefo, salapan, sambilan, sapoeloe.
Selanjutnya saya temukan :
Sangaon ifan = Tanaman sirih
Sacho padan = suatu rencana, usulan menarik
So falal = dua hari
Dongawan e’nen = dua potong barang
Balaloe ara fa;ania = kira-kira 10 kelapa muda
Sahoeli e dio, sapoeloenga-hoeli e de;o = satu kali keinginan) anda, sepuluh kali (keinginan) saya
Daitoe antafan = 71/2 orang
Oeba-ise radjone
do’itilong bano ede = Saya mengangkatnya menjadi raja dari negara ini
Juga iha = berapa, mendapat akhiran awal dan akhir, berbeda-beda menurut sifat perihalnya; lhao loema = berapa rumah? Ihao nasia= berapa ikan? Ihasicha kabao = Berapa kerbau? Daiha sira ataje = Berapa orang?
Berapa = Iha, ofel
Banyak = afel
Banyak sekali = afel-afel
Sedikit, sedikit saja = eche
Agak sedikit = sache
Lebih = oelangaj, ma loelang, maihaj
Kurang = aseb
Lebih kurang = asebaj
Kisah musang dan burung bangau
Ada seekor musang, yang tinggal di suatu desa. Desa tersebut di zaman dulu sangat sibuk dengan lalu lalangnya orang-orang desa; tetapi atas kehendak Allah maka semua perang dari desa tersebut, sampai yang terakhir, diambil oleh burung Garuda, tidak satu pun yang tertinggal, semuanya hilang. Datanglah musang masuk ke desa. Dia melihat ada banyak ayam. Alangkah senangnya pak musang, karena mendapat makanan. Selanjutnya dia memakan sebanyak ayam yang bisa dimakan, apakah itu ayam betina atau jantan, menurut kemauannya sendiri. Setelah beberapa waktu, dia mulai berpikir, kalau semua ayam sudah habis tidak ada lagi yang bisa dimakan. Dia memanjat pohon nangka yang besar dan tinggi. Sampai di puncak, dia melihat kiri dan kanan. Melihat kearah laut, dia melihat seekor burung bangau, yang berdiri diatas batu; menunggu ikan-ikan kecil. Musang berpikir, dan berkata: Dia adalah makanan. Selanjutnya, dia turun serta mengira-ngira dimana burung bangau itu berada; dan dia menuju ke arah itu. Sampai ke tempat terbuka, dia menghadapi burung bangau. Dia memanggil, mengatakan: “He, kakak bangau, apakah anda mau dengar suatu rencana?”. Burung bangau berkata: “Rencana apa?”. Moesang berkata :”Terbang lurus keseberang, disana ada pohon nangka yang sangat tinggi. Tunggu saya disana. Saya akan berjalan dari sini. Kami akan bertemu nanti”. Bangau mengatakan : “Baik!”. Bangau terbang ke tempat yang dikatakan musang. Sampai disana, dia hinggap di puncak pohon nangka. Sedangkan musang, dia berjalan dari sini. Sewaktu sampai musang memanggil, dia berkata:” He, kakak bangau kamu sudah sampai disini?”. Dan burung bangau menjawab : “Sudah!”. Musang mengatakan: “Turunlah kebawah! Mari menghitung biji-biji nangka!. Saya akan naik!” Burung bangau turun kebawah. Musang memanjat pohon nangka. Dia memilih buah nangka yang terbesar yang sudah matang, dan memakannya, dan semua biji nangka keluar. Musang mengatakan: “Hitung biji-bijinya!”, Bangau menjawab: “Baik!”. Getahnya nangka menetes turun, dan semuanya jatuh atas sayap burung bangau, sehingga kedua sayapnya terbungkus getah. Lalu musang datang dan mengatakan: “He, bangau, ada berapa biji nangka?”. Burung bangau menjawab: “Saya berhenti sebentar”. Burung
Bangau tidak dapat terbang, karena sayapnya melekat karena getah nangka. Dia meloncat kesini, dan dia meloncat kesana. Dari puncak pohon musang melihat bahwa bangau tidak bisa terbang. Lalu dia turun dari pohon nangka. Setelah turun maka musang berkata: “Ada berapa biji nangka menurut perhitungannya?” Musang mendekati burung bangau, dia menerkam kakinya. Berkata burung bangau :”Apa yang kamu lakukan dengan saya, kakak musang, kamu menerkam saya?” Musang menjawab: “Saya akan memakan kamu, saya lapar!”. Saya sudah lama tidak makan”. Berkata burung bangau: “Jadi kamu mau makan saya!”. Berkata musang: “Lalu, kamu maunya apa?”. Jawablah burung bangau: “Memang sudah nasib. Kalau kamu mau makan saya, naik ke pohon sampai ke puncak dari pohon nangka itu. Lalu lihatlah ke arah laut. Disana terletak sebuah pulau kecil. Disana kami semua tinggal. Jika kamu ingin makan telur, makanlah; jika anda mau anak-anak bangau, makanlah; semua sesuai kehendak mu”. Berkata musang: “Benar nih!”. Jawab burung bangau: “Benar!”. Musang melepaskan kaki bangau. Dia memanjat pohon nangka. Sampai di pucuk pohon dia melihat kearah laut. Dia melihat suatu pulau kecil, sangat jauh ditengah-tengah laut. Ada banyak sekali burung bangau. Lalu musang itu turun, dan berkata: “Memang benar yang kamu katakan, bung bangau. Bagaimana kita bisa sampai ke pulau itu?”. Berkata bangau: “Carilah kapal untuk kami”. Musang berkata: “Apa itu?”. Dan burung bangau berkata: ”Pergilah ke desa, dan dimana manusia sedang berpesta, disana kamu mencuri sumbat dari panci, dan bawalah kesini. Saya menunggu anda disini. Carilah kapal untuk kami, sehingga kita dapat cepat kesana. ”Musang pergi mencari kapal. Pada saat sampai di desa, mereka sedang berpesta didalam desa. Setelah malam tiba, musang mendekat dan menyusup diantara orang-orang yang berpesta. Dia melihat dan mencari, dan pada saat mereka tidak memperhatikan, dia mencuri sumbat dan berlari kembali ke burung bangau. Sampai disana dia berkata: “Nah, bung bangau, inilah kapal kami. Marilah kita berangkat ketempat yang kamu sebutkan”. Mereka menyiapkan diri, mereka membawa kapal mereka ke pantai. Mereka masuk kedalam kapal. Burung bangau, dia membentangkan sayapnya dan berkata: “Mari kita membuat kemudi bung musang saying!” Dia juga menjatuhkan buntutnya ke air.
Setelah mereka berangkat menyeberangi tujuh gulungan ombak ke pantai, musang berkata: “Bung bangau, dada saya basah.” Saya kira kapal kami bocor, dan karena itu saya menjadi basah.” Berkata burung bangau: “Benar juga. Saya akan menambal kapal kami”. Dan setelah mengatakan ini dia mencabut sumbat, dan terjadi lubang di kapal. Maka berkata burung bangau: “ Tadi bung musang kami mau memakan saya. Sekarang saya pergi terbang; dan kamu tetap tinggal di kapal kami!”. Burung bangau menginjak kapal sehingga kapalnya tengelam. Tertinggallah musang di air, berenang kesini dan kesana; dia tidak tahu dimana daratan. Lalu datang ikan hiu, dan hiu itu mencaplok sang musang. Burung bangau telah
terbang. Maka selesailah kisahnya tuan.
1) Arti tepatnya atau nilaidari kata “atang”, yang akan sering kami temukan saya tidak mengetahui sampai saat ini.
2) Mungkin diartikan sebagai ora ore ia = apakah agar? = kemana? Saya diberitahukan bahwa ungkapan dalam bahasa Aceh dengan peue lom yaitu “bagaimana seterusnya?’
3) O-tang ma’a dalam bahasa Aceh diucapkan sebagai Peue tjit?
4) Untuk menyatakan jarak yang jauh disini huruf o dalam ro’i diucapkan dengan nada panjang.
Kisah anak-anak tikus
Ada kisah seperti berikut ini, kisah tentang anak-anak tikus. Ada dua tikus, yang tinggal di lubang mereka di tanah. Selang beberapa waktu mereka melahirkan dua anak, satu laki dan satu perempuan. Lalu meninggallah ibu mereka. Dan selang beberapa waktu tikus yang lebih tua, berkelamin laki-laki, dan mengatakan kepada adik perempuannya: “Oh adik saya, saya mau melihat-lihat di dunia. Jangan keluar dari lubang ini. Saya keluar sebentar untuk mencari makan. Adiknya berkata: “Baik kakak”. Lalu kakaknya keluar lubang, dia menyelusuri pinggiran danau, dan melihat air didalam kolam tersebut. Dia berkata: “Allah! Samudera ini besar sekali!”. Lalu selanjutnya dia masih menyusuri pinggiran kolam, dan dia melihat bahwa air kolam masuk ke sungai. Dan dia melihat kerang-kerang yang tersebar dimana-mana, dibawa oleh air. Akhirnya dia berkata: “Allah! Berapa banyak kapal tersebar disini!”. Waktu malam tiba, dia melihat bahwa matahari sudah mulai turun. Dia pulang ke lubangnya, dan memanggil adiknya, dan berkata: “Allah, Oh adik saya, dunia ini sangat besar!”. Hari berikutnya pada saat matahari terbit dia berkata kepada adiknya, “Hari ini saya pergi lagi untuk melihat kapal-kapal yang kemarin. Kamu jangan pergi dari sini!”. Adiknya menjawab: “Saya tidak mau. Saya mau ikut dengan kamu!”. \
Kakaknya menjadi marah, dan berkata: “Jangan ikut hari ini, Nanti saya akan membawa kamu. Hari ini jangan ikut saya”. Maka diamlah adiknya. Maka kakaknya pergi ketempat yang kemarin untuk melihat-lihat kapal. Selang beberapa waktu, saat malam tiba, dia pulang ke lubangnya, dan berkata lagi kepada adiknya: “He sayang, saya datang dari sana dimana saya melihat kapal-kapal dan mereka mempunyai muatan”. Bertanya adiknya: “Apakah itu muatan dari kapal itu kakak?”. Jawab kakaknya : “Saya tidak tahu isinya dari kapal-kapal tersebut.” Berkata adiknya: “ Kakak, besok kesana lagi untuk melihat kapal-kapal, atau tidak?”. Jawab kakaknya: “Saya akan pergi lagi besok. Kamu tidak boleh pergi dari sini!”. Jawab adiknya: “Tidak saya tidak mau! Besok saya akan ikut kamu, kakak!. Kemarin kamu katakan ‘hari ini jangan; besok saya akan membawa kamu. Hari ini saya tidak mau ditinggal, saya akan melihat kapal-kapal itu”. Maka diamlah kakaknya lalu berkata: “Jika kamu bisa jalan, marilah!”. Tetapi jangan kamu nanti menangis ditengah jalan, Saya tidak dapat menggendong kamu, dan malam sudah tiba kalau kami pulang”. Jawab adiknya: “Kamu tidak usah menggendong saya!. Saya akan berjalan sendiri, Nanti kami kesana untuk melihat kapal-kapal yang kamu bicarakan, O kakak.” Kakaknya berkata: “Baik, apabila kamu sanggup mari kita berangkat!”. Kemudian mereka keluar dari lubang mereka di tanah, Mereka keluar berdua, kakak bersama adik, adiknya berjalan dibelakang kakaknya. Sampai di pinggir kolam, berkata kakaknya: “Disini laut yang luas!. Apakah kamu pernah melihat sesuatu seperti ini?” Berkata adiknya: “Benar yang kamu ceritrakan kakak!.” Mereka melanjutkan perjalanan menyusuri pinggiran kolam. Setelah mereka berjalan jauh, kakaknya memanggil adiknya dan berkata: “Cepat jalannya!. Kamu harus segera kesana lagi!”. Mereka meneruskan perjalanan, menyusuri pinggiran kolam. Selang beberapa waktu mereka sampai ke pinggir sungai, Berkata kakaknya : “itulah kapal-kapal yang saya ceritrakan. Lihat lah Betapa besarnya kapal-kapal itu, tersebar dimana-mana kapal-kapal itu”. Mereka turun dari tepi sungai untuk melihat kapal-kapal. Berkata adiknya: “Saya tidak dapat melakukan itu, kak, Kamu sayang masuk ke kapal. Saya tunggu kamu disini, saya melihat kamu dari sini. Tetapi jangan terlalu lama. Karena kalau malam tiba kita harus pulang”. Jawab kakaknya: “Baik”. Kakaknya naik ke kapal. Dia naik kapal yang penuh muatan.
Dia memanjat masuk. Disana dia melihat isi muatan kapal. Dia turun kedalam, dia melihat kebawah, dia menunduk untuk melihat kebawah, dan menyentuh otot penutup kerang. Kerang kaget, dia menutup mulutnya, dan kepala tikus tidak dapat keluar lagi. Buntutnya berdiri tegak lurus keatas dengan kepalanya didalam kerang. Datang adiknya dan dia memanggil, berkata: “Hei kakak! Mari kita pulang, sudah mulai malam!.” Kakaknya tidak menjawab, Dia tidak melakukan itu karena dia sudah mati itu, kakaknya. Adiknya menangis, memanggil-manggil kakaknya. Apa selanjutnya, dia melihat sudah malam dan gelap lalu pulang, sendirian saja. Dia mengikuti pinggiran kolam, untuk kembali ke lubangnya. Dia sudah menempuh setengah perjalanan, dan matahari telah terbenam, lalu datang kucing hitam. Kucing melihat tikus berjalan, dan sewaktu tikusnya mendekat dia menerkamnya. Sampai disini saja ceritera saya.
Kisah dari Simoeloel
Di masa lalu ada suatu tanah, nama tanah itu adalah Simoeloel. Ada seorang Toefa, dia mengambil kambing jantannya, dia menghiasinya dengan emas, lalu melepaskannya di tanah Simoeloel. Sampai disana, Laflong Lasali mengambil tali pengikatnya. Setelah melakukan itu maka orang Toefa mencari tali pengikat di Simoeloel. Sampai disana dia menanyakan Lafing Lasali: “Apakah anda melihat kambing saya dengan tali pengikatnya dari emas?”. “Saya telah melihatnya disini, tetapi tanpa tali pengikat emas”. “Kamu jangan mengatakan bahwa kambing tanpa tali pengikat itu adalah kambing saya!.” Saya sendiri memasang tali pengikat, tetapi kamu telah mengambil tali pengikat itu. Kalau kamu tidak mengembalikan tali pengikat emas itu saya akan berperang dengan kamu, Jadi lebih baik anda mengembalikan secara baik-baik, supaya kita jangan saling menyakiti.” Tetapi Lafong Lasali tidak mendengarnya. “Jika anda tidak mendengar apa yang saya katakan, jangan bersedih hati, karena saya akan berperang dengan tanah anda”. Orang Toefa lalu pulang dan memanggil semua rakyatnya: “Sekarang kumpul semua rakyat saya, sekarang kami akan berangkat ke tanah Simoeloel, kami akan berperang melawan Lafong Lasali. Dia telah merampok tali pengikat emas kambing saya”. Lalu berangkatlah mereka bersama ke Simoeloel. Sampai disana mereka berperang dan Lafong Lasali kalah. Mereka lari bersama. Mereka lari ke Aloeajan: “Dari mana kalian datang dengan jumlah banyak ini?”. “ Kami semua datang dari Simoeloel. Kami lari, karena diperangi oleh orang-orang Toefa. Itulah alasannya mengapa kami mengungsi kesini bersama. Kami tidak dapat bertahan. Apa alasan orang-orang Toefa untuk membunuh kita? Karena mereka melepaskan kambing dengan pengikat emas ke tanah di tanah kami; mereka bilang bahwa kami telah mengambilnya dari kambing; tetapi kami tidak mengambilnya! Itu alasan mereka menyerang kita. Kalau kalian mau bahwa kami tetap hidup di tanah anda maka kami mohon tolonglah kami, sementara kami masih ada. Jika kalian tidak menolong kami, maka habislah kami, dibunuh oleh orang-orang Toefa.”. “Dengan apa kami dapat membantu kalian? Apakah kalian perlu uang? Katakanlah, maka kita bisa mengambil keputusan”. Apa yang dikatakan Lafong Lasali kepada Pamoetja Aloeajan? “Bukannya karena saya tidak mempunyai uang, maka saya tidak bisa melawan orang-orang Toefa. Permintaan saya adalah, bantulah saya serta anda sendiri serta rakyat anda semuanya, kalau boleh!. Jika tidak, maka habislah kami, terserah Tuhan!.” Maka Pamoentja Alaoeajan berkata: “Baik, tidak apa-apa, saya akan membantu anda. Sesudah tujuh malam saya akan sampai di Simoeloel. Kembalilah anda. Tetapi Lafong Lasali menolak. Dia berkata: “ Saya tidak mau kembali kesana. Mengapa? Kalau saya kesana, maka disitu sudah ada orang-orang Toefa. Menunggu sampai anda datang dari sini, sementara saya sudah dibunuh. Maka tidak ada gunanya untuk anda kesana lagi untuk membantu saya kalau saya tidak ada disana lagi? Kalau permintaan saya dikabulkan, mengapa kita tidak sama-sama berangkat ke Simoeloel?”. Apa yang dikatakan Pamoentja Aloeajan? “Baik lah, sesuai kehendak anda”. Apa yang dikatakan Lasali? “Saya kira, saya akan menunggu anda saja.” Baiklah. Dia menunggu tujuh malam. Setelah tujuh malam, mereka semua berangkat ke Simoeloel, dengan Radjo Aloeajan serta rakyatnya. Sampai di Simoeloel, mereka berperang dengan orang-orang Toefa. Akhirnya orang-orang Toefa kalah. Selanjutnya, setelah mereka kalah, mereka didamaikan oleh Radjo dari Aloeajan.
Setelah mereka berdamai, Raja dari Aloeajan menanyakan kepada Lafong Lasali: “Menurut saya, Lafong Lasali, saya pulang saja. Kenapa? Kalian sudah berdamai dengan orang-orang Toefa. Tetapi tujuh setengah orang dari rakyat saya telah mati. Biayanya tidak mungkin diperhitungkan, karena anda melihat seberapa besar pengeluaran untuk dua negara. Maka oleh karena itu, maka tinggal anda mempertimbangkan. Kata Lafong Lasali : “Baik, tidak apa-apa Teungkoe Ampun! Saya akan memikirkan kata-kata anda. Sementara orang-orang Lasale: “Lho apa yang dikatakan raja? Ada 7 ½ orang yang meninggal: 7 orang meninggal dan satu terluka. Maka jika kita tidak mempertimbangkan baik-baik, kami dibebani hutang darah untuk rakyatnya. Bagaimana jalan keluarnya agar dia tidak membebani kami dengan hutang darah untuk rakyatnya. Ditambah lagi masih ada urusan biaya yang telah dihabiskan untuk perang untuk membantu kami”. Selanjutnya, apa yang dikatakan orang-orang Lasale? Ya begini: “Kamu jangan suruh dia pulang. Kalau dia pulang, maka kami harus membayar hutang uang kita. Adalah lebih baik, agar kami jangan menyuruhnya pulang dan kami tidak membayar hutangnya. Bagaimana caranya, agar kami tidak usah membayar hutang serta orang-orangnya yang 7 itu? Bagaimana caranya agar kita tidak usah membayar? Apa yang dikatakan Lafong Lasali? Agar kita tidak usah membayarnya, kami menyerahkan saja tanah ini kepadanya, kami menjadikannya raja disini!. Maka mereka bertemu dengan radjo dari Aloeajan: “Kini o radjo, kami telah kesini untuk menghadap anda. Anda mengatakan kepada kami, bahwa anda ingin pulang. Sekarang permintaan kami kepada anda o raja: anda jangan kembali! Jika anda kembali, maka mereka akan mengambil lagi tanah kami begitu anda tidak ada. Sebaiknya anda tinggal saja disini. “Apa keuntungannya bagi saya jika saya tinggal disini di tanah anda?” Maka dijawab oleh Lafon Lasali: “Keuntungan anda adalah bahwa kami mengangkat anda sebagai raja disini. Apa yang dikatakan Radjo Aloeajan? “Semua berjalan baik selama saya masih ada, selama saya menjadi raja disini; karena saya dapat menghadapi musuh, selama saya hidup. Tetapi setelah saya meninggal, maka ini tidak diwariskan ke anak-anak saya, karena ada kemungkinan bahwa anak-anak saya tidak diperkenankan menjadi raja. Jawab Lafong Lasali :”Jika anda nanti meninggal, maka tahta akan diwarisi oleh anak-anak anda”. Radjo Aloeajan masih kurang percaya. “Mengapa saya masih kurang percaya? Mungkin anda bodoh, atau licik, maka anda akan merebutnya dari mereka. Jawab Lafong Lasali: “Jika anda tidak percaya, biar kami angkat sumpah di pinggir sungai yang tanahnya longsor, bahwa kami akan menjadi layu sebagai daun-daun dari pohon moerong!”. Maka mereka semua berangkat ke pinggir sungai yang longsor, dan mengambil daun-daun dari pohon moerong. Selanjutnya mereka mengadakan pengujian api, mereka membakar benzoe, dan ucapkan kata-kata sumpah mereka: “Tuhan, Matahari, yang mengetahui sumpah kami. Apabila sumpah nanti dipungkiri, maka terjadilah seperti pinggiran sungai longsor ini biarkan saya berguguran seperti daun-daun berguguran dari moerong ini! Keatas tidak bertunas, ke tanah tidak berakar, ditengah-tengah dimakan kumbang, apabila dikemudian hari saya mengambil kehormatan Mu! Sebagai saksi kami memanggil Allah! Itulah sumpah kami. Jika saya memungkirinya – atau mungkin — anak-anak, cucu, sampai cicit kami yang akan melanggarnya, maka mereka tidak akan bertunas atau berakar, dan digerogoti kumbang ditengah-tengah!. Sesudah itu mereka pulang. Setelah pulang mereka mengadakan pesta untuk orang-orang suci dan anak manusia. Setelah itu selesai, apa yang dikatakan Lafong Lasali? “Kini tanah ini diserahkan kepadamu o raja; anda dapat mengapungkannya, atau menambatkannya, beralih ke anda, tanah dan penduduknya, serta semua milik. Khusus mengenai saya, — pemerintahan dalam negara ini berada sama anda; saya ingin hidup bebas didalam negara ini”. Apa yang dikatakan raja? “Baik, jika anda ingin hidup bebas dalam negara ini, itu bukan suatu kejahatan”. Setelah penyerahan, maka Radjo Aloeajan berfikir: “Mengapa mereka menyerahkan tanah ini kepada saya? Saya menjadi raja dari tanah ini? Bagaimana tindakan saya agar orang-orang Toefa tetap berdamai? Saya akan mengangkatnya sebagai raja atas setengah tanah ini; saya akan mengusulkan agar kita dapat memakmurkan tanah ini. Apabila ada hal-hal didalam negara ini, maka kami menanganinya bersama, yang akan menyenangkan”. Maka dia mengunjungi orang Toefa. Setelah sampai dia disambut orang Toefa: “Darimana anda datang Teungkoe Ampon?”. “Saya datang dari kampung. Saya mau mengunjungi anda. Kini mari kita menjadi bersaudara, sejak dunia ini dan di akhirat!.” Apa yang dijawab oleh orang Toefa?
“Baik!. Itu tergantung anda. Itu satu keinginan dari anda, sepuluh kali dari saya. Saya dengan senang hati menerima tawaran anda!”. Jawab raja : ”Baik. Tanah ini saya serahkan kembali kepada anda. Atas setengahnya anda menjadi raja. Saya adalah kakak dan anda adalah adik saya. Untuk itu saya datang kemari, agar kami dapat memerintah tanah ini bersama-sama.”. Setelah itu diselesaikan, lama setelah itu, datang kakek dari Datoe Nja Noe. Dia membuat kandang. Setelah selesai dengan kandang, dia mengambil orang-orang dan memasukkan mereka ke kandang. Setelah cukup banyak dia membawa mereka ke daratan Sumatera. Setelah sampai disana dia menjualnya dari daerah ke daerah. Setelah habis, dia kembali ke Simoeloel. Dia menangkap orang-orang lagi, dia mengurungnya di kandang lagi. Kalau ada kapal datang, dia menjualnya ke kapal. Ini berjalan terus-menerus. Sementara tiba seorang teungkoe dari daratan. Berapa orang bersama tengku? Berdua dengan panglima Marahabit. Tengku berbicara dengan kakek dari Datoe Nja Noe, dan mengatakan: “Anda tidak boleh menjual manusia! Saya akan mengislamkan tanah ini. Sultan Aceh mengatakan, bahwa ini akan dapat menggantikan naik haji. Sultan Aceh telah mengatakan, bahwa semua orang telah masuk hutan sampai yang terakhir. Sementara tengku mengumpulkan orang-orang dari hutan. Dia menemukannya dan membawanya ke kampung. Disini dia memasukkan mereka ke kamar, menguncinya, dan pergi mengumpulkan orang-orang lagi. Sewaktu tengkunya pergi, datanglah kakek Datoe Nja Noe dan mengambil orang-orang yang ditempatkan di kamar. Dia memasang tombok di daerah rendah, dan melempar orang-orang kearah ujung tombak, dan semuanya mati. Sewaktu kembali tengku mengatakan kepada kakek dari Datoe Nja Noe: “Anda tidak boleh membunuh orang-orang yang telah saya kumpulkan. Dia tidak mau mendengar. Lalu datang panglima, dan dia dan kakek dari Datoe Nja bertengkar; mereka bertengkar dan Panglima Marahabit menjadi marah. Mereka bergumul, setelah letih bergumul di darat, mereka masuk ke laut. Rambut kakek Datoe Nja Noe berhasil diikatkan pada suatu batu sehingga dia tidak bisa bangun. Sesudah itu Panglima Marahabit kembali ke darat, dan meninggalkan Datoe Nja Noe. Setelah tiga malam orang-orang datang memeriksa, dia masih hidup, dia belum mati, dan batu telah terbalik.
Dia minta ampun kepada Panglima Marahabit yang mengatakan: “Jika anda mendengar apa yang saya katakan, saya akan melepaskan anda. Kalau anda tidak mau mendengar, maka anda akan mati di air disini, dan saya tidak melepaskanmu”. Jawab Datoe Nja Noe “Jika anda melepaskan saya , saya tidak akan membunuh orang lagi. Maka saya mohon agar dilepaskan. Dia dilepaskan. Dia kembali ke darat, dan pulang. Dan dia tidak lagi membunuh orang. Maka daerah ini di Islamkan oleh tengku. Setelah daerah di Islamkan, tengku kembali ke Aceh. Dan melapor kepada Sultan: “Daerah yang kita bicarakan telah di Islamkan. Itu yang saya laporkan O, Sultan Aceh”. Sultan Aceh menjawab: “Baik, tidak apa-apa. Tetapi kembali lagi. Ini ada tiang, bawa ke teluk Simoeloel, Setelah tiba disana bangunlah Masjid, setelah selesai, mantapkan agama, dan memperkenalkan adat di tanah tersebut.” Maka dia kembali ke teluk Simoeloel. Tiba disana dia membangun Masjid. Setelah selesai, dia menunjuk seorang imam, khotib, dan bilal sebagai kepala-kepala dari jemaatnya. Setelah mereka, ada yang harus mengurus hal-hal keagamaan, dia mengangkat dua kepala pemerintahan. Dia menciptakan dua raja, dua malintang dan satu kepala untuk orang asing.
Kisah diatas ini saya dapatkan dari Datoe Lamba’et, seorang keturunan dari Datoe Aloeajan.
Kepala yang sekarang dari keluarga Toefa: Datoe Lepe, tinggal di Laoe’re di Simoeloel, lalu memperlihatkan kepada saya bahan yang sama tentang ‘tambo”, yang tertulis dalam bahasa Simaloer, Aceh dan bercampur Melayu.
Datoe Nja Ta dari suku Kaboe, keponakan dari Datoe Langkadeh dari tambo dan, sebagai keturunan dari Datoe Mantawaj, tidak setuju dengan kedua naskah tersebut dan memberikan saya naskah ketiga, yang lebih menguntungkan keluarganya.
Datoe Mantawaj dari suku Kaboe mengunjungi adiknya Behoera. Diperjalanan dia sampai Pangaroesan dimana sebatang pohon menghalangi perjalanan. Datoe Mantawaj menebang batang pohon itu. Dia sedang mengerjakan itu, datang orang Toefa, yang melakukan persahabatan dengannya dan menerangkan akan terus mengikuti Datoe Mantawaj.
Bersama-sama mereka melanjutkan perjalanan dan sampai di Simoeloel. Disana mereka menghiasi kambing jantan dengan pengikat dari emas, dan melepaskannya. Raja daerah Lafon Lasali, melihat kambing itu, membunuh kambingnya dan mengambil tali pengikat emas. Tujuan Datoe Mantawaj dan Si Toefa telah berhasil: Mereka memiliki alasan untuk memerangi Lafong Lasali. Yang terakhir kalah dan meminta bantuan dari Datoe Aloeajan, yang mendamaikan mereka. Datoe Mantawaj mendapat setengah dari kerajaan, dan Lafong Lasali menyerahkan setengahnya lagi dari kerajaan kepada Datoe Aloeajan. Datoe Mantawaj memiliki seorang putri yang dikawinkan dengan putra temannya Si Toefa, Dia juga memiliki putra Datoe Kaha. Lalu datang perintah dari Sultan Aceh, untuk mengirim upeti dan seorang duta. Si Toefa berangkat ke Aceh, serta menerima imbalan dengan janji, bahwa dia akan menggantikan mertuanya dalam pemerintahan atas daerahnya, tetapi setelah meninggalkan kekuasaan diserahkannya kembali ke keturunan Datoe Mantawaj. Sejak itu pemerintahan tetap berada di keluarga Si Toefa, yang menjadi penyebab peperangan terus-menerus antara suku-suku Kaboe dan Toefa. Keturuan dari Si Toefa, Datoe Mantawaj, Lafong Lasali, dan Datoe Aloeajan adalah masing-masing: Si Lepe dari suku Toefa, Datoe Nja Ta dari suku Kaboe, Panglima Nja Gah dari suku Lasali dan Datoe Lamba’et dari suku Belawa.
Kisah Toeankoe Manggarang
Pernah hidup seorang toeanku yang sangat tegas, penduduk Poelo Banja, yang datang berlayar ke teluk Simoeloel. Sewaktu tiba di teluk dia memanggil para raja-raja dan berkata: “Saya, saya datang disini untuk melihat-lihat di tanah kalian. Saya tidak membawa uang. Jadi anda harus memberi saya makan”. “Baik, seberapa yang kita bisa dapatkan, makanan itu yang kami berikan” (jawab raja-raja, dan diantara mereka berkata: “Sekarang kita harus menyediakan makan setiap waktu makan untuk toeanku ini!. Setiap raja dapat memberikan satu piring nasi, secara bergilir, dan semua bawahan berikan makan. Pada saat mereka mengantar makanan, pada saat matahari berada tinggi dilangit, dia memukul mereka, dan kalau di pagi hari, dia juga memukul mereka. Ini berlanjut terus. Putera Teungkoe di Oedjoeng melihatnya, dan mendampingi mereka, untuk melihat permainan pedang, dan dia meniru permainan tersebut. Akhirnya putera teungkoe dapat bermain pedang, tetapi dia tidak menanyakan pengetahuan akhir dari permainan pedang. Teman-teman toeanku berkata: “Kami tidak memiliki pengetahuan akhir dari permainan pedang. Pergi dan tanyakan kepada Teungkoe Manggarang”. Dia lalu mengatakan: “Baik besok saya akan pergi dan menanyakan pengetahuan akhir dari bermain pedang”. Esok paginya berangkatlah putera Teungkoe di Oedjoeng; sampai disana putera teungkoe dipukul. Dia mengatakan: “Anda jangan memukul saya!. Saya datang menanyakan akhir permainan pedang dari anda Toenkoe. Saya disuruh oleh kawan-kawan anda, mereka katakan: pergi dan tanyakan. Sekarang saya disini; beritahukan saya akhir permainan pedang”. Toeankoe berkata: “Saya tidak mengetahui akhir permainan pedang. Bagaimana anda datang meminta saya akhir permainan pedang? Sekarang anda yang memberitahukan saya, karena anda mengetahuinya!.”. Putera Teungkoe di Oedjoeng berkata: “Saya tidak mengetahuinya!. Karena itu saya bertanya kepada anda toeanku. Ajarkan saya kapoetoesan sile”. Berkata toeanku: “Mari kita ke darat, saya akan memotong kepala anda. Anda terlalu kurang ajar menanyakan tentang kapoetoesan sile; ditambah lagi saya tidak takut sama kamu”. Jawabnya: “Baik toeanku, tetapi saya minta diberikan dua malam penundaan. Lalu potong leher saya setelah dua malam itu”. Dia pulang, putera teungkoe dari oedjoeng. Sampai di rumah dia berkata kepada ayahnya: “Oh bapak, mengenai diri saya, saya kira sudah habis hidup saya, karena Toeanku Manggarang akan membunuh saya, karena saya telah memintanya tentang kapoetoesan sile. Dia lalu menjadi marah, dan mengatakan : “Saya akan memotong leher anda!.” Berkatalah teungkoe dari Oedjoeng: “Sudah saya katakan dari dulu: jangan dekat-dekat Toeanku Manggarang!. Dia jahat hatinya. Nanti dia akan membunuh kamu!. Kamu tetap pergi; nah sekarang terjadilah! Sekarang bagaimana, biarkan dia membunuh kamu. Saya mengizinkan jiwa kamu untuk pergi!”. Putera Teungkoe Oedjoeng menangis: “Baik ayah, biarlah Toeanku Manggarang membunuh saya!.” Setelah dua malam lewat, berangkatlah putera Teungkoe di Oedjoeng; dia pamit sama bapaknya dan ibunya.
Sampai di pintu, ibunya memanggilnya kembali, dan berkata: “Coba kesini sebentar anak saya, agar saya memberitahukan kamu pengetahuan akhir dari permainan pedang. Bapakmu sudah menceriterakan sedikit tentang itu”. Dia kembali kedalam rumah, beri salam kepada ibunya, dan ibunya memberitahukan kepadanya kepoetoesan sile. Lalu berangkatlah putera Teungkoe dari Oedjoeng, untuk memenuhi janjinya dengan Toeanku Manggarang. Sampai disana, dia berkata: “Saya datang Toeanku Manggarang. Sekarang potong leher saya. Apa yang anda lakukan dengan saya tidak menjadi masalah, lakukan. Mari kita menggali lubang untuk saya, sehingga memudahkan memotong leher saya”. Toeanku Manggarang mengatakan: “Baik, galilah lubang di tanah sana, dan tanam dia sampai ke pinggangnya, sehingga saya dapat memotong lehernya!”. Maka digalilah lubang didalam tanah dan menanamnya hingga ke pinggang. Setelah itu Toeanku mengambil pedangnya, berikannya kepada panglima dan memerintahkan “Bunuhlah anak itu!”. “Baik toeanku, biar saya mencobanya”. Dia mengayunkan pedang, tetapi tidak berhasil. Setelah dia capek, dia menyerahkan kembali pedangnya kepada Toeanku Manggarang, yang lalu mengayunkan pedangnya, tetapi juga tidak berhasil mengenainya. Setelah mencoba berkali-kali tetapi tidak berhasil memotong leher putera teungkoe oedjoeng, dia mengatakan: “Biar saya tidak membunuh kamu, biar kita menjadi bersaudara. Kamu menjadi adik saya, didunia ini dan di akhirat. Saya mengangkat anda sebagai kepala tempat-tempat orang asing; kepala orang asing itulah anda. Itu yang akan saya minta kepada para pangoeloe dan pamoentja di tanah ini”. Pada hari Jum’at pertama berikutnya, Toeanku Manggarang pergi ke mesjid, untuk bertemu dengan kepala-kepala, dan berkata kepada kepala-kepala :”Disini ada seorang lelaki, putera Teungkoe di Oedjoeng, yang telah saya angkat sebagai adik saya; saya mengangkat dia sebagai kepala atas pedagang yang datang dari laut, dengan gelar Datoe dagang”. Para kepala-kepala daerah itu mengatakan: “Baik toeanku. Jika itu yang anda putuskan, tidak apa-apa, kita akan memberitahukan ini kepada bapaknya Teungkoe di Oedjoeng. Maka mereka pergi bertemu dengan Teungkoe di Oedjoeng; dan mengatakan: “Kami datang berkunjung, karena Toeanku Manggarang telah meminta kepala-kepala kami untuk mengangkat seorang datoe dagang; maka mohon izinkan puteramu untuk itu, itu adalah permintaan kami kepada bapak.” Teungkoe di Oedjoeng berkata: “Putera saya tidak akan melakukan fungsi adat di tanah ini, karena sebagai ganti kewajiban agama saya bahwa saya bekerja disini; dia tidak diizinkan untuk ikut campur dengan adat di tanah ini, saya tidak menginginkan bahwa dia pertahankan adat disini yaitu menghukum orang-orang daerah disini”. Toeanku Manggarang lalu berkata: “Tidak apa-apa! Dia tidak akan menghukum orang-orang daerah; biarkan dia mengurus orang-orang asing yang datang dengan kapal saja”. Teungkoe di Oedjoeng berkata: “Baik Toeanku, itu bukan suatu kejahatan”. Kira-kira setahun setelah dia menjabat sebagai datoe dagang, terjadi bahwa seorang putera daerah melakukan kejahatan (dan dihukum). Maka Teungkoe di Oedjoeng menjadi marah: “Saya telah mengatakan kepada anaknya, bahwa kamu tidak boleh ikut campur dengan mempertahankan hukum adat daerah disini. Sekarang kamu tidak lagi menjadi datoe dagang. Puteranya menjawab: “ Kalau saya tidak diizinkan menjadi datoe dagang lagi, maka saya akan meninggalkan tanah ini; saya tidak ingin tinggal bersama ayah dan ibu lagi; saya berangkat ke tanah Melayu”. Teungkoe di Oedjoeng menjawab: “Baik anakku! Tetapi kami tidak memiliki emas sebagai uang belanja untukmu. Hanya ada satu kati gewe yang kita bagi menjadi tiga; satu bagian untuk ibumu, satu untuk saya dan satu lagi untuk kamu anakku. Kita berikan Alqur’an kepada ibumu; kitab kamu yang ambil; dan penopang yang tersisa adalah untuk saya”. “Baik ayah!. Lepaskan saya dengan izin Bapak dan ibu”. “Baik anak kami lepaskan kamu dengan izin kami. Semoga hidupmu dan hidup kami baik, di dunia ini dan di akhirat!.”
Banta Beransah
Ada seorang raja, namanya adalah Iskandar Ali, puteranya bernama Banta Beransah, yang terkecil namanya Banta Kerta. Raja, bapak Banta Beransah lagi tidur. Lalu datang ibunya Poeti, dan dia berkata kepada anaknya: “Anakku sini! Bapakmu sedang tidur. Bangunkan dia. Dia telah tidur terlalu lama!”. Maka puteranya bangunkan bapaknya yang menjadi marah: “Siapa itu yang membangunkan saya?”. “Saya, yah!. Mengapa anda tidur begitu lama?”. “Saya tidur begitu lama adalah karena saya bermimpi”. Maka raja itu mulai menangis, Puteranya bertanya: “Mengapa menangis ayah?” Nah itu dia! Kalau kamu mau mendengar apa yang saya mimpikan saya akan beritahukan alasan saya menangis”, “Ceriterakan saja!”/ Bapaknya berceritera: “Begini mimpi saya. Ada sebuah negara, diseberang lautan api, dan dinegara itu ada raja, tetapi saya tidak ingat namanya; tetapi raja itu memiliki seekor burung, yang bernama Mala’on Diri. Puteri raja bernama Noeroel Afla. Itu mimpi saya. Pergilah kamu mencari mereka dengan abangmu Banta Kerta”. Lalu mereka berangkat untuk mengikuti mimpi bapak mereka. Mereka membawa kuda, masing-masing orang satu dan rakyat mengikuti mereka. Sampai dipinggir hutan, berkata Banta Beransah: “Kalian jangan ikut. Terlalu jauh! Kita berangkat berdua saja. Kalian tinggal disini saja!”. Maka kedua anak raja berangkat, Mereka menemukan jalan yang besar, yang diikuti oleh mereka, lalu sampai pada sebatang pohon yang besar, dan Banta Beransah melihat ada surat tertancap di pohon itu, dan di kaki pohon jalan bercabang: satu ke kiri dan satu ke kanan. Banta Beransah berkata: “Kakak, ini jalannya ada dua. Apakah kita mengikuti kedua-duanya. Kamu memilih yang mana?”. “Saya ingin ke kanan”. “Baik, tetapi kamu tidak akan menemukan mimpi ayah, tetapi jalannya jauh lebih mudah”. Banta Kerta berangkat, mengikuti jalan. Selang beberapa waktu dia sampai ke rumah nenek Roebia, Banta Kerta berdehem. Roebia melihatnya dan bertanya : “Kamu dari mana?” “Saya datang dari sana, nek!”. “Dan kamu mau kemana?”, “Saya mengikuti mimpi ayah saya”. “Itu bagus. Tetapi sudah mulai malam, lebih baik tidur disini.” Di malam hari dia bermain judi. Dan kalah. Setelah semua pakaiannya habis, dia kembali ke rumah nenek Roebia. Sampai disini tentang dia. Sekarang ceritera dari Banta Beransah. Dia melanjutkan perjalanan, dan sampai pada pohon yang besar, dimana tergantung dua tulang kerbau, yang selalu bertabrakan. Banta Beransah memegangnya: tetapi kedua tulang itu tidak mau berhenti bertabrakan. Dia melanjutkan perjalanan. Selang beberapa waktu dia bertemu dengan seseorang yang sedang mengumpulkan kayu berat. Dan terus menambahkannya. Banta Beransah berkata: “Mengapa, sedangkan kumpulan kayu itu sudah berat sekali, kami masih menambahnya terus? Kamu harus menguranginya, sehingga kamu dapat mengangkatnya”. Orang itu tidak mendengarnya. Banta Beransah meneruskan perjalanannya. Selang beberapa waktu dia sampai ke suatu surau. Ada seorang teungkoe yang sedang membaca Qur’an. Banta Beransah berdehem. Teungkoe melihatnya dan bertanya: “Kamu dari mana dik?”. “Saya datang dari sana teungkoe”. “Mari masuk, sudah mulai malam, tidur disini saja”. “Pada malam hari teungkoe bertanya: “Siapa namamu?”. “Saya bernama Banta Beransah.” “Kamu mau kemana?.” “saya mengikuti mimpi ayah saya?”. “Apa yang dimimpikan ayahmu?.” “Ada tanah diseberang lautan api. Disana ada raja yang memiliki seekor burung, bernama Mala’on Diri; puteri raja itu bernama Noeroel Afla. Itu mimpi ayah saya”. “Kalu begitu, belum pernah selama hidup saya, saya mendengar tentang itu. Kalau begitu masalahnya jangan meneruskan perjalanan dulu. Tinggal disini dulu untuk mengaji”. Berapa lama itu, setahun, sesudah itu dia bisa mengaji. Maka berkata Banta Beransah: “Sekarang saya meneruskan perjalanan saya, teungkoe. Sudah sekian lama saya berdiam disini.” “Baik, pergilah”. Dia meneruskan perjalanan dengan kuda. Setelah perjalanan yang lama, dia tiba disuatu dataran, dengan rumah ditengah-tengahnya. Dia pergi melihat apa isinya, ternyata naga besar. Naga melihat Banta Beransah dan menjadi girang: “Sini, biar saya makan kamu!”.
Tuntutan atas nama Nja’ Kanda terhadap Si Kandang
Kakek Nja’ Kanda meninggal, sehingga tinggal neneknya. Lalu datang paman Si Kandang, dia tidak memiliki putera, tetapi hanya dua anak perempuan. Lalu dia kawin dengan nenek dari Nja’ Kanda. Lalu dia mengakui ayah Nja’ Kanda sebagai anaknya. Dia memotong kerbau, menyatakan sebagai puteranya bapak Nja’ Kanda, dan mewujudkan bahwa semua orang saling mengerti. Setelah itu selesai dia menyerahkan kepada bapak Nja’ Kanda semua miliknya, kelapa, kerbau, sawah, dan perkarangan tempat tinggal. Setelah itu bapak Nja’ Kanda meninggal. Itu terjadi kira-kira empatpuluh tahun yang lalu bahwa semuanya menjadi milik bapak Nja’ Kanda. Setelah bapaknya meninggal, Si Kadang mengambil semuanya kembali, dengan mengatakan: “Kamu tidak mendapatkan semuanya Nja’ Kanda. Sekarang bapakmu sudah meninggal, maka kelapa menjadi milik saya”. Habis dia tidak memberikannya, mengapa? “Warisan bapak saya, bukan milik anda Kandang!. Dulu, sewaktu bapak saya masih hidup, kamu tidak mengambilnya; sekarang saya tidak mau menyerahkannya”. Para tetua memutuskan perkara ini: “Jangan mengambil hartanya Kandang!”. Dia tidak mau mendengar. Akhirnya mereka datang ke sini di Sinabang, dan perkaranya diserahkan kepada pegawai hutan. Dia mengadili perkara. Tuan itu bertanya kepada Datoe Nja’ Noe dan Datoe Mbo dan Datoe Lepe: “Bagaimana duduk perkara ini?” “Datoe–datoe menjawab: “Ini mengenai milik bapak Nja Kanda. Mengapa? Sewaktu dia belum menikah, dia yang mengurus semua kelapanya”. “Jika memang begitu, maka semuanya harus menjadi milik Nja Kanda dan bukan Si Kandang. Maka, sewaktu tiba di Simoeloel, kamu harus mengembalikan semua ke Nja Kanda. Dan kalau
Si Kandang tidak mau menyerahkannya, laporkan ke sini ke Sinabang, supaya saya dapat memasukkannya kedalam penjara. Mengapa? Karena itu berarti perampokan oleh Si Kandang”. Sampai di Simoeloel, Si kandang tidak mau menyerahkannya.
Teka-teki
- Ada teka teki sebagai berikut: “Makan sambil membuang air besar”.
Jawabannya: apa namanya? – Memarut kelapa.
- Satu teka teki lagi. Coba diterka. “Kelapa yang jatuh tanpa lubang (dimana buahnya melekat ke tangkai) — telur ayam!
- “Keatas akarnya tumbuh, kebawah apanya …. – Jenggot.
- Ada lagi satu teka-teki, coba ditebak : “Ada buah. Bila yang jatuh kebawah, dicari keatas —- Hujan bocor dari atap.
- Ada lagi teka-teki. Katakan : Ada buah, yang tumbuh disana ditanah Melayu. Apa namanya? —- Matahari.
Lagu-lagu
- Datanglah angin selatan, bertiup dengan lembut dan gerakkan kapal yang datang itu (layar).
- Kapalnya tajam terbuat dari kayu bangko ditepi sungai. Maunya berlayar ke Pad untuk mengambil baju warna-warni.
- Kapalnya mempunyai buritan tajam dan dibuat dari bangkireng di tepi sungai, Mereka belayar ke Sing untuk mengambil tembakau dan gambir serta belanja untuk menikah.
- Datanglah angin timur laut, bertiuplah lembut, doronglah agar kita belayar ke arah daratan.
- Burung Majang-majang dengan bulu-bulu warna-warni tangkaplah kepiting makanan anda, dan makan dengan perlahan-lahan diatas pohon toemata.
- Kakak majang-majang bawa saya dalam penerbanganmu ke muara sungai disana, untuk melihat kapal-kapal yang masuk.
- Dia hinggap di dahan pohon sukun, dia membuat rangkaian bunga, yang dikirim ke teluk.
- Burung latiti jangan menangis! Kita mengambil air di sumur dibawah pohon toeroe.
- Kakak merpati, Jangan bersikap semena-menanya terhadap saya! Kami dapat memiliki bersama.
- Datanglah angin Timur laut, pemanggil angin barat laut, bawah kami ke Samadoeo, untuk mengambil celana untukmu, celana dari kain batik.
- Datanglah angin selatan, pemanggil angin tenggara, doronglah yang mau berangkat, Dia belayar ke Padang untuk mengambil celana kain berwarna-warni.
- Saya memiliki tanaman sirih, ditanam disudut rumah saya. Tetapi saya tidak mengambil daunnya, Tetapi nanti saja, kalau tuanku datang dari tanah melayu, dimana dia pergi untuk membeli baju untuk saya.
Diterjemahkan dari bahasa Belanda ke
dalam bahasa Indonesia oleh Jefta Samuel,
Penerjemah resmi dan dibawah sumpah.
Jakarta, 23 September 2003