Bab C #8
Boeker, Teungkoe di Reubee, Teungkoe Tji Kobat, Teungkoe di Benren’eh, Habib Itam dan Teungkoe di Lam Goet.
Di Lho Seumawe, Teungkoe din Tjot Waki, Teungkoe Tji Ma Abit, Teungkoe Ma’Ali, pengganti dari almarhum Toengkoe di Aloee Ketapang dikalahkan (lihat K.V. 1906, lajur 7) dan ulama Teungkoe Rajen (lihat K.V. 1906, lajur
dan satu hulubalang VI dari Peusungan dan T. Lehman, anak dari T. Sah Kobat dari Samalanga Toenong. Akan tetapi yang bergabung dengan pihak lawan adalah T. Oebet dari Samalanga Toemong (lihat catatan) bersama keponakannya Mahmoet (salah satu putra dari T.Lotan Meurendoe) dan T. Bantu Amat, wakil hulubalang dari Boelih Blang Ara, yang terakhir telah dibunuh, sedangkan T. Mahmoet ditahan, tetapi meninggal segera setelah ditahan. Yang tetap berjuang adalah Teungkoe di Paja Bakong, Habib Djoerong, Teungkoe Ali, Habib Ahmat, Teungkoe di Barat dan Habib Atu.
Dari ulama-ulama yang ikut dalam perjuangan di Kabupaten Meulaboh, adalah Teungkoe Lot, sdr laki-laki dari Toengkoe Padang Si Alet (lihat catatan) ditangkap dan yang meninggal adalah kepala kawanan Teungko Sosoh, putera Habib Semnangan, dan Teungkoe di Gle Poetoih, seorang ulama terhormat dari daerah Wojla. Karena tindakan tegas terhadap unsur-unsur bermusuhan, yang masih tetap bertahan adalan Teungkoe Pidie, Teungkoe Poetie dan Teungkoe Padang Si Alet.
Pada tahun 1906 terjadi perbaikan dalam kedaan politik di daerah Pidie Kerusakan rel trem dan penembakan rel, sedangkan perusakan kabel-kabel telepon hanya terjadi dalam bulan Desember serta penembakan-penembakan pos-pos, sementara tentara sangat berkurang. Pemerintah juga mendapatkan lebih banyak kerjasama dari kepala-kepala daripada biasanya.
Pasukan Polisi di Tangsa ditempatkan untuk sementara di Gemyjang dan digantikan oleh tiga pasukan infantry ke-14 dari Pidie. Di Kabupaten Lho’Seumawe, di daerah-daerah Peusangan, Keurentoe, Boelah Benrensang dan Gloempang Doea terjadi perbaikan keadaan, akan tetapi tentara kita tidak mendapatkan kerjasama yang berarti dari penduduk : sering kali berbagai kampung harus didenda karena berhubungan dengan musuh. Pihak lawan juga sangat aktip, dengan melakukan penyerangan terhadap pasukan kami serta tempat-tempat penampungan minyak dari Perusahaan Kerajaan Eksplotasi sumber-sumber minyak di Hindia Belanda dengan menghancurkan kabel-kabel telepon, menembaki trem, serta membakar konde. Meskipun yang terakhir ini harus lebih dilihat sebagai pengadilan sendiri serta pelampiasan rasa dendam pribadi daripada perlawanan terhadap pemerintahan.
Di daerah-daerah Idi daBahenen keadaan politik tetap baik : hanya beberapa serangan kecil dilakukan oleh sekelompok perampok dari Kenreutoe dan Samarkilang.
Perbaikan dari keadaan politik di kabupaten Poelo Raya selama bagian kedua dari tahun 1905, setelah kejadian-kejadian yang dilaporkan dalam K.V. 1906, tetap masih bertahan pada tahun 1906. Kecuali di Tenmon Atas, dimana kepala kelompok pemberontak utama yaitu T. Ben Lho Goetji tidak menyerah dan dimana masih terdapat beberapa kelompok pemberontak yang sewaktu-waktu melakukan gangguan, tetapi pada umumnya dapat dikatakan bahwa seluruh kabupaten telah berada dalam keadaan damai. Pos tentara di Lho Kroei dipulangkan, sedangkan pos Aloee Lemboh dipindahkan ke Panton Mahmoet di Tennom-Bawah, dekat rumah hulubalang.
Keadaan politik di Meulaboh, setelah ulama-ulama menderita kekalahan besar (lihat sebelumnya) juga memuaskan.
Di daerah Tapa Toean keadaan tetap baik, meskipun sebagian besar kepala-kepala tidak terlalu banyak memberikan bantuan dalam menyampaikan petunjuk-petunjuk tentang T. Ben Mahmoet Blang Pidie yang sering kali berkeliaran di daerah ini dan di Gajo Loeos.
Di daerah Gajo keadaan politik agak membaik. Perlawanan berjalan terus di daerah danau dan daerah Dorot oleh Teungkoe-Teungkoe yang berasal dari Lho Seumawe, Oaja Bahong di Barat dan di Gajo Loeos oleh Teungkoe Moeda Pendeng (sesuai K.V. 1906 lajur 27) serta hulubalang tersebut diatas dari Blang Pidie. Meskipun kejuren dari Linggo belum menyerahkan diri, beberapa kepala bawahan, rupanya, tidak lagi tunduk terhadapnya dengan melaporkan diri ke pihak pemerintah. Maka Rodjo Seroelo, Pengulu Nawan, Pengulu Tanambag dan Oerang Kaya Lomat berserta seluruh penduduk pulang ke masing-masing kampung mereka. Penangkapan Ama-n-Oesen, keponakan kejuron dari Linggo, yang atas nama Oerang Kaya Lomot menguasai sebagian besar dari daerah Dorot, serta penyerahan dari Rodjo Goenong Ijo dari daerah Telong (Tretet) serta meninggalnya kepala-kepala pemberontak yang penting seperti Ama-n Moeda Dalam, Panglima Perang Ben dan Panglima Perang Djana, telah mendukung dalam
memperbaiki sikap penduduk.
Di Samarkilang dan di Linggo sendiri, tempat tinggal jeuren, terjadi perlawanan oleh penduduk, akan tetapi daerah Doson serta lembah-lembah Dorot lainnya telah berpenghuni lagi. Pengaruh dari Teungkoe-Teungkoe Lho Seumawe tersebut diatas sangat besar di Samarkilang, oleh karena itu daerah ini sejak Nov, 1906 diduduki untuk sementara oleh pasukan bergerak dengan tugas utama pengejaran tak henti-hentinya dari kejuren-kejuren yang memberikan perlawanan serta kepala-kepala kelompok pejuang di daerah tersebut serta menghimbau penduduk agar kembali ke kampung-kampung mereka.
Di Gajo Loeos penduduk dari Paser dan Rerobo telah kembali ke kampung-kampung mereka dan kepala-kepala dari kedua kampung ini telah melaporkan diri kepada pemerintah (menurut K.V. 1906 lajur 27)
Di daerah Alas dan Singkel hanya terjadi beberapa gangguan tak berarti.
Pencatatan dari daerah Gajo belum dirampungkan, tetapi tidak menghadapi kesulitan. Kepala-kepala kampung dan penduduknya yang kembali di daerah Dorot secara teratur melaporkan diri di Takengon, serta bagian dinas pemerintahan di Serbodjadi sedang menunggu penyelesaian pelaksanaan re-organisasi dari propinsi ini berkaitan dengan pendudukan sementara dari daerah ini.
Pada tahun 1906 juga giat dilakukan perbaikan jalan-jalan darat, serta pembangunan jembatan-jembatan tetap. Jalan raya dari Lho’Nga sepanjang pantai barat ke arah selatan sekarang dapat dilalui gerobak-gerobak sampai Sendoe, sedangkan jarak sampai Lhong dapat dilalui dengan kuda. Sedangkan pembangunan jalan hubungan darat antara Seulimenm dan Lam Teuba telah dimulai. Sepanjang pantai utara jalan raya dari Lam Njong hingga Kroeeng Raja sangat baik untuk kendaraan. Di Idi dan Meulaboh dinas pengairan telah menyelesaikan pembangunan 2 dan 3 jembatan besi, sedangkan jembatan besi besar di jalan Gajo menyeberangi sungai Pensangan di Tenpin Blang Maneh dalam bulan Januari 1907 telah dibuka untuk lalu lintas umum. Jalan dari Langsa Toenong ke Toealang Troet (batas Tannriang) juga telah selesai dan telah dimulai pembangunan jalan-jalan gerobak dari Kenmala Raja melewati Beunga ke Tanggeen dari Rondeng ke Toenmon (menurut K.V. 1906, lajur 10). Dari pembangunan jalan Gajo – jalur Tenpin Blang Maneh – Moee Goele – tinggal diselesaikan 800 m (antara Aloee Teungoh dan Aloee Bante Banjang). Kerena masih harus 5 jembatan dan 40 bubusan yang harus dibangun, maka jalan ini hanya dapat dilalui oleh gerobak hingga Aloee Phon. Di selatan Aloee Goele jalan telah diselesaikan sampai Aloee Lokot. Pembangunan jalan melalui daerah Pak-Pak untuk menghubungi Rondeng dengan daerah—daerah Alas (lihat K.V. 1906 lajur 10) tidak dapat dilaksanakan disebabkan kesulitan-kesulitan besar. Sekarang diputuskan untuk membangun jalan menyusur sungai sampai Kende Ampon Toean dan dari sini ke Lao Baleng, dengan jalan hubungan melalui dataran Nodi ke Rambel. Jalan ini sedang dikerjakan.
Mengenai pembangunan serta eksplotasi jalan kereta api di Aceh lihat bab D. 1 dan bab II H.1.
Usaha penambangan minyak di pantai timur berkembang dengan baik. Pengoboran di daerah-daerah baru menghasilkan pemberian konsesi eksplotasi sumber-sumber minyak baru (Pendawa Timur), dari Perusahaan Kerajaan Hindia Belanda.
Selama tahun 1906 sebanyak 10 konsesi penebangan hutan rimba diberikan atas pulau Simeuloe, dimana lima telah diserahkan kepada Perusahaan Eksplotasi Hutan Aceh, perusahaan mana telah melaksanakan penebangan dengan giat sekali dan karena itu, telah mangajukan permohonan untuk daerah-daerah sesuai yang lain di pulau tersebut. Di pantai timur Aceh, Perusahaan SANDEL & CO di Tandjoeng Poera telah membuka dua daerah eksplotasi penebangan kayu baru. Ada pengajuan permintaan konsesi Pertanian di pulau Puelo Pandjang (Simenloe), serta di Simpang Oelim, Penreula dan Langsa.
Di daerah Langsa pemerintah mengambil alih sebidang tanah sebesar 6315 HA yang langsung berdekatan dengan kampung Langsa Toenong untuk membangun perkebunan caoatehone (lihat Ind.St. 1907 No.55). Pembibitan untuk Hevea Brasiliensis kelihatan sangat baik.
Pembangunan sekolah-sekolah baru dilanjutkan oleh kepala-kepala pemerintah setempat. Gedung-gedung sekolah yang kuat dan luas diselesaikan di Peureula dan Langsa Toenong, sedangkan sekolah-sekolah untuk Bireuen (Pensangan) dan Lho’ Soekon (Keureutoe) telah diproyeksikan. Tentang kunjungan sekolah serta kegiatan dari anak-anak pribumi tidak terdapat keluhan. Beberapa murid dari keluarga tidak mampu dapat dikirim ke sekolah-sekolah lanjutan di Bandung atas biaya dana umum propinsi.
Diantara penduduk pribumi di propinsi Aceh-Besar tidak terdapat gangguan keamanan: kejahatan-kejahatan berat hampir tidak terjadi. Di kabupaten-kabupaten, kecuali di Pantai timur, Poelo Raja dan Simenloe, serta daerah Gajo, keamanan erat berkaitan dengan keadaan politik dan oleh karena itu tidak begitu baik, meskipun sekarang ada kemajuan.
Keadaan kesehatan pada umumnya baik. Dalam bulan September oleh pemerintah dilakukan pembagian obat kina kepada penduduk di propinsi Aceh-Besar yang diperlukan untuk memberantas serangan demam, tetapi yang pada umumnya tidak bersifat berat. Pada bulan-bulan pertama tahun 1906 Seunagan diserang wabah demam tulang sendi. Vaksinasi dan vaksinasi ulang di semua kecamatan, kecuali di Pidie dan Meurendoe, dapat dilaksanakan secara teratur tanpa kesulitan. Keadaan kesehatan antara kuli-kuli kontrak Cina yang bekerja pada proyek pembangunan kereta api dalam tahun pelaporan, dapat dikatakan baik. Daftar orang-orang sakit antara kuli-kuli kontrak di Sabang kali ini sangat panjang; rata-rata 2 orang per bulan untuk jumlah 800 pekerja. Didalam bulan-bulan terakhir terdapat beberapa kasus penyakit beri-beri yang berakhir dengan kematian. Usaha dari pemerintah untuk memperkenalkan pengobatan oleh dokter-dokter kami antara penduduk (K.V. 1906, lajur 10)
dimana-dimana sangat berhasil.
Setelah pengebirian dari ternak jantan yang tidak sesuai sebagai pejantan pembiak diselesaikan di daerah propinsi Aceh Besar, beberapa orang-orang Aceh dididik oleh dokter hewan pemerintah dalam keahlian ini, dengan maksud bahwa penerapan tindakan ini untuk selanjutnya dapat dilakukan oleh mereka sendiri. Di kecamatan-kecamatan di pantai Utara dan Timur pengebirian dilakukan dalam bulan Nopember.
Pemerintah telah mengambil tindakan perbaikan makanan ternak. Berbagai tanaman yang sesuai untuk itu ditanam pada ladang-ladang percobaan, untuk mendapatkan bibit dan umbi-umbian yang sesuai dan disebarkan antara penduduk.
Selama bulan Juli sampai Nopember terjadi serangan penyakit mulut dan kuku, terutama di propinsi Aceh Besar. Penyakit ini juga muncul di beberapa daerah bawahan, tetapi tidak terlalu penting. Di kecamatan Lho’ Seumawe terjadi beberapa kasus surrah antara kuda-kuda.
Untuk daerah Danau diadakan pembelian dua kuda jantan sandel. Perkawinan di tahun lalu oleh kuda jantan yang berada disana telah menghasilkan beberapa anak kuda. Di Takengon dilakukan perternakan dengan 50 biri-biri merino, dengan maksud untuk dibagi-bagikan kepada penduduk, untuk diberi kesempatan, dibawah pengarahan pemerintah, melakukan perternakan biri-biri serta hasil wol.
Keadaan perdagangan selama tahun 1906 secara umum memuaskan. Pedagang kecil Cina dan Kling di Koeta Radja dan Oelee Lheue masih tetap menderita kekurangan pelanggan, sebagai akibatnya beberapa diantara mereka terpaksa menutup usaha mereka. Akan tetapi ini menguntungkan usaha kecil di Aceh, yang sekarang lebih banyak dapat berhubungan langsung dengan importir Eropa.
Perdagangan produk-produk ekspor di propinsi Aceh Besar meningkat secara berarti; terutama dari kopra dan buah kelapa dalam jumlah besar.
Angka-angka berikut memberikan ikhtisar dari pemasok di Oelee Lheue selama lima tahun terakhir :
|
1902 |
1903 |
1904 |
1905 |
1906 |
|
|
Bahan makanan (nilai) |
f.217 124 |
f214 488 |
f232 050 |
f 117122 |
f110 152 |
| Barang kelontong |
f57 180 |
f40 034 |
F44 808 |
f41 856 |
f35 531 |
| Korek api
(kotak kasar) |
20 817 |
16 415 |
17 785 |
16 321 |
16 112 |
| Produk pabrikan (nilai) |
f422271 |
f421323 |
f438952 |
f361428 |
f230189 |
| Tepung (KG) |
348390 |
324481 |
297 262 |
216829 |
254341 |
| Minyak tanah (L) |
623555 |
992169 |
683510 |
1366885 |
1489666 |
| Beras (KG) |
2180330 |
2400330 |
2679969 |
1983713 |
2499230 |
| Tembakau
Ikan kering dan asin (KG) |
87892 176938 |
88772 198617 |
91741 221736 |
79316 137413 |
88314 161615 |
Pemasukkan yang lebih besar dari tepung dan beras merupakan akibat langsung dari panen-padi buruk, sedangkan pengurangan pemasukan ikan kering dan asin disebabkan oleh hasil penangkapan ikan yang bagus.
Angka-angka berikut memberikan gambaran dari ekspor produk-produk utama dari Aceh Besar dalam tahun-tahun terakhir.
|
1904 |
1905 |
1906 |
|
| Lada basah (pikul) |
171296 |
136261 |
36434 |
| Lada hitam (pikul) |
449829 |
586161 |
677327 |
| Pinang (pikul) |
62838 |
67123 |
461124 |
| Kopra (pikul) |
263702 |
4320– |
772587 |
Di kecamatan Pidie pemasukan untuk tahun 1906 adalah f.837738 dibanding f.839593 di 1905 dan f 1. 115 021 di tahun 1904. Barang-barang impor utama adalah
|
1904 |
1905 |
1906 |
|||
| Bahan makanan (nilai) |
f53437 |
f58928 |
f61615 |
||
| Minyak kelapa (L) |
40512 |
42555 |
45136 |
||
| Barang kelontong (nilai) |
f7047 |
8515 |
40371 |
||
| Produk pabrikan (nilai) |
100807 |
157362 |
213348 |
||
| Tepung (KG) |
92556 |
91855 |
449987 |
||
| Minyak tanah (L) |
73927 |
124026 |
379564 |
||
| Padi, Beras (KG) |
3467789 |
1143925 |
862316 |
||
| Gula (KG) |
311355 |
434753 |
507188 |
||
| Tembakau, bukan untuk pasar Eropa (KG) |
14210 |
28187 |
22421 |
||
| Ikan, kering atau asin (KG) |
376802 |
390404 |
446833 |
||
Ekspor untuk tahun-tahun tersebut adalah masing-masing f.708323, f.473713 dan f.435003, dengan produk ekspor utama :
|
1904 |
1905 |
1906 |
|
| Lada basah (pikul) |
16711 |
10753 |
9100 |
| Pinang bulat (pikul) |
28841 |
28341 |
27560 |
| Pinang cang (pikul) |
6650 |
6930 |
6600 |
| Getah (nilai) |
f368 |
f70 |
f60 |
| Bahan-bahan sutera (pikul) |
f13251 |
f12222 |
f14280 |
Di kecamaten Lho Seumawe peningkatan perdagangan memuaskan. Jumlah nilai dari pemasukan pada tahun 1906 adalah f 1 688 042, dibanding f 1 604 161 di tahun 1905 dan f 975 000 di tahun 1904. Barang-barang impor utama adalah :
|
1904 |
1905 |
1906 |
|
| Barang buatan (nilai) |
f256789 |
f281685 |
f326089 |
| Beras (KG) |
651000 |
709100 |
891900 |
| Barang Kelontong (nilai) |
f14283 |
f16505 |
f21600 |
| Ikan, kering atau asin (KG) |
213632 |
149510 |
207271 |
Sama dengan tahun 1905, angka-angka ekspor meningkat secara berarti, dengan jumlah nilai ekspor dalam tahun 1906 f. 1 256 277, dibanding f 834 760 dalam 1905 dan f 472 000 di tahun 1904, peningkatan mana disebabkan oleh peningkatan besar produksi lada, pinang dan kopra. Ekspor dari kedua produk tersebut adalah :
|
1904 |
1905 |
1906 |
|
| Lada hitam (KG) |
451000 |
633600 |
864800 |
| Lada putih (KG) |
3582 |
2118 |
3537 |
| Pinang (KG) |
5159611 |
6380799 |
7387009 |
Nilai pemasukan di kecamatan Idi dalam tahun 1906 adalah f 780 296, dibanding f 566 996 di tahun 1905 dan f 590 630 di tahun 1904, peningkatan mana terutama disebabkan oleh pemasukan kira-kira satu juta KG beras, yang diharuskan oleh,…..
BERITA NEGARA HINDIA BELANDA
No.145 PEMERINTAHAN DALAM NEGERI, ACEH dan DAERAH BAWAHANNYA. Keterangan bahwa pulau Si Maloer menjadi bagian dari daerah Aceh dan daerah Bawahannya.
Keputusan dari Gubernur-Jenderal Hindia-Belanda
tertanggal 8 Agustus 1880 No.15
Membaca, dst.
Dewan Hindia Belanda telah mendengar:
Telah disetujui dan difahami :
Pertama, dst.
Ketiga : Menerangkan — juga berkaitan dengan Berita Negara 1864, No.104 — bahwa pulau Si Maloer menjadi bagian dari pemerintahan Aceh dan daerah Bawahannya.
Keempat, dst.
Salinan, dst.
Sebagai Peraturan pemerintah dari
Gubernur-Jenderal Hindia Belanda
Sekretaris Umum,
PANNEKOEK.
Dikeluarkan pada tanggal empatbelas Agustus 1880.
Sekretaris Umum,
PANNEKOEK
Diterjemahkan dari bahasa Belanda ke
dalam bahasa Indonesia oleh Jefta Samuel,
Penerjemah resmi dan dibawah sumpah.
Jakarta, 23 September 2003